Azahra Fauziyah Harry Putri, Buktikan Cinta Seni Tari dan Prestasi Akademik Bisa Berjalan Beriringan

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Menekuni dunia seni sekaligus menjaga prestasi akademik bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kedisiplinan, ketekunan, dan kemampuan membagi waktu agar keduanya dapat berjalan beriringan. Namun, bagi Azahra Fauziyah Harry Putri, kecintaan terhadap seni tari justru menjadi bagian penting dari perjalanan untuk terus belajar, bertumbuh, dan meraih prestasi.
Gadis yang akrab disapa Zahra ini merupakan putri kedua dari pasangan Harry Sulistiyanto yang dikenal akrab dengan sapaan Harry Cethot dan Dina Novitasari, sekaligus putri owner TIGASISI, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang event organizer di semarang, yang lahir pada 19 Januari 2008.
Sejak usia dini, Zahra telah menunjukkan ketertarikan terhadap dunia tari. Baginya, seni bukan sekadar rangkaian gerakan, melainkan ruang untuk mengenal budaya, mengasah kreativitas, dan mengekspresikan diri.
Perjalanan Zahra dalam menekuni seni dimulai melalui Sanggar Tari Greget di Semarang. Di tempat inilah ia mulai mendalami tari tradisional Jawa sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari proses belajar di sanggar, Zahra tidak hanya mengembangkan kemampuan menari, tetapi juga belajar tentang kedisiplinan, kesabaran, dan pentingnya konsistensi. Setiap gerakan membutuhkan latihan, setiap penampilan memerlukan persiapan, dan setiap proses menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Ketertarikannya terhadap seni pertunjukan semakin berkembang ketika menempuh pendidikan di SMP Negeri 5 Semarang. Di bangku sekolah, Zahra bergabung dengan kelompok cheers, sebuah aktivitas yang mempertemukannya dengan dunia pertunjukan yang menuntut kekompakan, koordinasi gerak, kreativitas, dan kerja sama tim.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan prestasinya. Pada 2022, Zahra bersama tim berhasil meraih Juara 2 dalam Kejuaraan Nasional (Jurnas) Cheers yang diselenggarakan di Jakarta. Prestasi itu menjadi bukti bahwa kerja keras dan kemampuan berkolaborasi dapat menghasilkan pencapaian yang membanggakan.
Namun, perjalanan Zahra tidak hanya berkutat pada panggung pertunjukan. Di balik aktivitas seni yang dijalaninya, ia juga mampu mempertahankan prestasi di bidang akademik. Selama masa pendidikannya, Zahra konsisten menjadi juara kelas.
Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa kesibukan mengembangkan bakat di luar sekolah bukanlah penghalang untuk meraih hasil terbaik dalam pendidikan. Sebaliknya, pengalaman berorganisasi dan berkesenian dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun tanggung jawab, ketekunan, serta kemampuan mengelola waktu.
Bagi generasi muda, perjalanan Zahra memberikan gambaran bahwa keberhasilan tidak harus diraih dengan memilih antara akademik dan minat pribadi. Keduanya dapat tumbuh bersama selama dijalani dengan kesungguhan, disiplin, dan komitmen untuk terus berkembang.
Kini, langkah Zahra memasuki babak baru. Ia berhasil diterima di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), dengan memilih Program Studi Seni Tari. Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting sekaligus pintu menuju perjalanan yang lebih luas dalam mendalami bidang yang telah dicintainya sejak kecil.
Memilih pendidikan tinggi di bidang seni tari menjadi langkah yang selaras dengan minat dan pengalaman yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Di lingkungan akademik tersebut, Zahra memiliki kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang seni tari, meningkatkan keterampilan, serta memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam setiap karya.
Lebih dari sekadar mengejar gelar pendidikan, perjalanan ini membuka peluang bagi Zahra untuk ikut mengambil bagian dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia. Di tengah perubahan zaman dan semakin beragamnya pilihan bagi generasi muda, kehadiran anak-anak muda yang bersedia mendalami seni tradisional menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa.
Kisah Zahra juga mengingatkan bahwa prestasi bukanlah hasil yang hadir secara instan. Ada proses panjang yang menyertainya, mulai dari latihan sejak usia dini, pengalaman tampil bersama tim, menjaga konsistensi belajar, hingga keberanian menentukan pilihan pendidikan sesuai minat dan potensi diri.
Perjalanan tersebut tentu masih panjang. Namun, dengan bekal kecintaan terhadap seni, pengalaman meraih prestasi, serta komitmen dalam pendidikan, Zahra memiliki kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuannya dan menemukan ruang pengabdian melalui dunia tari.
Dari ruang latihan di sanggar hingga bangku perguruan tinggi, Zahra menunjukkan bahwa mimpi dapat tumbuh dari hal yang sederhana: kecintaan terhadap sesuatu yang dijalani dengan sepenuh hati. Sebuah inspirasi bagi generasi muda bahwa mengenali potensi diri, tekun berproses, dan berani melangkah merupakan bagian penting dalam membangun masa depan.
Sebab, prestasi sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaian yang diraih, tetapi juga tentang bagaimana seseorang terus belajar, menjaga kecintaannya, dan menggunakan kemampuannya untuk memberikan makna bagi lingkungan serta budaya bangsa.




