Inovasi Tangki Kayu Jati Antarkan Motor Kustom “Pelor Angin” Raih Gelar Juara Utama HMC 2026

AMBARAWA, JAVAMEDIA.ID – Penggunaan material yang tidak biasa sukses mencuri perhatian dalam ajang babak final Honda Modif Contest (HMC) 2026 yang dihelat bersamaan dengan Honda Bikers Day (HBD) XV 2026 di Lapangan Panglima Besar Jenderal Sudirman, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026).
Mengusung inovasi tangki berbahan kayu jati asli, sepeda motor kustom bernama “Pelor Angin” karya Ajies Sabara dari bengkel F Art 32 asal Bangkalan, Madura, berhasil menyabet predikat tertinggi National Champion Ultimate. Ajang tahun ini sendiri tercatat diikuti oleh 1.313 peserta dari sembilan kota penyelenggaraan dengan sejumlah pembaruan kategori guna mengakomodasi tren modifikasi.
Proses Panjang dan Keunikan Tangki Kayu Jati
Ajies Sabara mengungkapkan bahwa motor berbasis Honda CBR 150R keluaran tahun 2013 ini memiliki perjalanan panjang. Pengerjaannya mulai dirintis sejak tahun 2018 dan sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali secara intensif selama kurang lebih tiga hingga empat bulan berkat dukungan dari abahnya pemilik usaha Nasi Bebek Sinjay Madura.
Daya tarik utama dari “Pelor Angin” terletak pada bagian tangki yang dipahat langsung dari kayu jati asli. Guna memastikan bahan bakar aman dan tidak merembes keluar, bagian dalam tangki dilapisi dengan resin serta serbuk besi. Inovasi tangki dan detail komponen kayu tersebut bahkan sukses memikat juri internasional hingga meraih tujuh apresiasi khusus karena dinilai sebagai karya berbalut kayu yang pertama di Indonesia.
Lolos dari Drama Mesin Jebol di Tengah Keterbatasan
Di balik pencapaian gemilang tersebut, proses pembangunan “Pelor Angin” diwarnai berbagai rintangan berat. Ajies menceritakan pengalaman paling mendebarkan ketika mesin motor mengalami kerusakan parah (jebol) tepat H-2 menjelang seri regional HMC di Surabaya.
Timnya terpaksa membongkar total mesin pada malam hari dan berpacu dengan waktu untuk mencari suku cadang pengganti. Berkat kerja keras tersebut, motor akhirnya rampung menjelang magrib sehari sebelum batas akhir pendaftaran. Keterbatasan peralatan bengkel yang lazimnya mengandalkan gerinda dan bor untuk material fiberglass tidak menyurutkan langkah mereka untuk meracik bodi dari bahan besi dan kayu secara maksimal.
Hampir seluruh bagian dari “Pelor Angin” dibangun secara kustom (hand-made), kecuali komponen mesin, pelek, dan ban. Kendaraan ini menggunakan pelek berukuran ring 21 di bagian depan dan belakang. Pada roda depan, Ajies menerapkan konsep unik tanpa piringan cakram, sementara sistem pengereman difokuskan sepenuhnya di bagian belakang.
Dengan estimasi total biaya pembangunan berkisar antara Rp70 juta hingga Rp80 juta serta kenyamanan berkendara yang stabil pada kecepatan 80 hingga 90 km/jam, “Pelor Angin” membuktikan bahwa kreativitas dan ketekunan dari bengkel daerah mampu menembus batas serta menorehkan prestasi tertinggi di panggung nasional. (Psw)




