Lestarikan Budaya : 120 Mahasiswa Pelajari Seni Wayang Suket di Kota Lama Semarang

“Wayang suket ini terbuat dari bahan yang ramah lingkungan. Kita tidak merusak alam. Rumput mendong itu tumbuh liar di rawa-rawa dan tidak dimakan hewan ternak seperti sapi atau kambing. Dulu hanya dibuat tikar, kini kita ubah menjadi seni wayang suket tanpa membunuh hewan atau merusak ekosistem,” terang Rofiq Ahmad.

Rofiq menambahkan bahwa dalam proses pembuatan wayang suket, peserta dibebaskan untuk mengeksplorasi imajinasi mereka. Walau diajarkan bentuk dasar figur Rama dan Hanoman, teknik penganyaman tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai tokoh imajinatif lainnya hingga bentuk hewan.

Meski sebagian besar mahasiswa terbiasa dengan perangkat digital, mereka tetap menunjukkan ketertarikan tinggi saat mempelajari keterampilan tangan tradisional. Rofiq mengakui adanya tantangan kesulitan awal bagi para generasi muda dalam menganyam rumput mendong, namun ketekunan dan rasa penasaran membuat seluruh peserta berhasil menghasilkan karya masing-masing.

Melalui kegiatan kolaborasi bersama jaringan Museum Gubug Wayang ini, diharapkan generasi muda tidak hanya cakap di ranah akademis dan teknologi, tetapi juga mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian budaya Indonesia serta mengampanyekan nilai-nilai keanekaragaman hayati ke kancah dunia. (Psw).

Bagikan :
BACA JUGA :  Tragedi Cinta Belia di Bandungan: Dari Asmara Sembunyi-Sembunyi hingga Penguburan Bayi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *