Lestarikan Budaya : 120 Mahasiswa Pelajari Seni Wayang Suket di Kota Lama Semarang

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID — Ratusan mahasiswa dari Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Indonesia (UI) yang tergabung dalam Asian Law Students’ Association (ALSA) berkumpul di kawasan bersejarah Kota Lama Semarang untuk mengikuti pelatihan seni wayang suket, Kamis (20/08/26). Kegiatan ini bertujuan mengenalkan warisan kebudayaan Nusantara sekaligus mengampanyekan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan.

Seni wayang suket—yakni bentuk pewayangan tradisional yang menggunakan bahan dasar rumput mendong—menjadi media edukasi yang memadukan kreativitas, filosofi, dan nilai-nilai ekologis. Bertempat di Kota Lama, para peserta diajarkan teknik dasar menganyam rumput liar menjadi tokoh pewayangan ikonik seperti Hanoman dan Rama.

Penasihat Museum Gubug Wayang sekaligus beberapa museum kebudayaan nasional, Kombes Pol. Tri Suhartanto, S.I.K., menyambut hangat dan mengapresiasi antusiasme para generasi muda tersebut. Menurutnya, pemahaman budaya lokal sangat krusial bagi mahasiswa, terutama mereka yang berwawasan global dan berjejaring internasional.

“Teman-teman mahasiswa ini memiliki jejaring internasional dan berwawasan global. Nanti mereka akan bertemu dengan rekan-rekan dari luar negeri. Generasi penerus kita harus bisa menjelaskan, minimal bercerita, bahwa Indonesia memang memiliki keragaman kebudayaan yang luar biasa,” ujar Kombes Pol. Tri Suhartanto.

Ia menambahkan bahwa wayang suket membawa filosofi mendalam tentang keterbukaan dan kesederhanaan budaya. Karena dibuat dari bahan yang sederhana dan mudah didapat, seni pewayangan ini membuktikan bahwa kebudayaan adalah milik seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang ekonomi.

Wayang suket

Ratusan mahasiswa mengikuti pelatihan membuat wayang suket di Kota Lama Semarang, Kamis (20/8/26)

Sementara itu, Pengrajin sekaligus maestro wayang suket, Rofiq Ahmad, mengungkapkan keunikan utama dari wayang suket yang terletak pada aspek keberlanjutannya. Berbeda dengan wayang kulit yang membutuhkan kulit hewan serta bahan pendukung lainnya, wayang suket memanfaatkan rumput mendong liar yang melimpah di wilayah rawa-rawa, termasuk di sekitar Semarang.

Bagikan :
BACA JUGA :  GIIAS Semarang 2026: BYD Andalkan M6 DM sebagai Solusi Transisi EV, Penjualan di Jateng Terus Naik

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *