Menemukan Harmoni di Balik Ritual Tawur Kesanga di Pura Agung Giri Natha

Semarang, Javamedia.id – Di tengah deru kota Semarang yang jarang beristirahat, Pura Agung Giri Natha menjadi oase kesunyian pada Rabu (18/3) sore. Aroma dupa dan alunan kidung suci menyambut umat Hindu yang hadir untuk melakukan ritual Tawur Kesanga dengan busana serba putih. Ritual yang mereka jalani hari itu bukan sekadar doa rutin; ini adalah sebuah prosesi “pelunasan utang” kepada semesta.
Jika Melasti yang digelar sebelumnya di Pantai Marina adalah simbol pembersihan diri, maka Tawur Kesanga adalah upaya menyeimbangkan diri dengan lingkungan luar. Manusia selama ini mengambil banyak energi dari Bumi, dan ritual ini hadir untuk mengembalikan energi tersebut.
Ketua Panitia Perayaan Hari Nyepi Kota Semarang, I Dewa Made Artayasa, menegaskan bahwa esensi ritual ini adalah restorasi. “Ini bagian dari upaya mengembalikan sari-sari alam yang telah kita nikmati selama hidup. Kita netralisir kembali, kita harmonisasi agar kehidupan ke depan tetap damai,” jelasnya.
Penggunaan caru panca warna, ayam dengan warna simbolis putih, merah, kuning, dan hitam menjadi instrumen untuk menyeimbangkan unsur-unsur negatif di alam semesta. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa manusia tidak hidup sendirian, melainkan berdampingan dengan energi-energi tak kasatmata yang perlu diselaraskan.
Di balik ritual fisik, Tawur Kesanga memegang teguh filosofi Tri Hita Karana, yakni tiga penyebab kebahagiaan. Pertama, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan. Kedua, hubungan antar sesama manusia dan ketiga hubungan manusia dengan alam. Dalam konteks modern, filosofi ini adalah merupakan jawaban atas krisis sosial dan ekologi yang sering terjadi.
Artayasa menekankan bahwa hubungan antarmanusia dan lingkungan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. “Manusia itu sesungguhnya bersaudara. Karena itu, kerukunan harus terus digaungkan. Di sisi lain, alam juga harus dijaga, karena dari sanalah kehidupan kita bergantung,” tambahnya.
Pasca-harmonisasi alam di Tawur Kesanga, umat memasuki fase paling menantang, yaitu Catur Brata Penyepian. Selama 24 jam, dunia seolah berhenti. Namun, pesan yang ingin disampaikan bukanlah tentang mematikan aktivitas secara harfiah, melainkan tentang pengendalian internal.
Hal tersebut tersirat dalam Empat Pantangan Nyepi, yaitu Pertama, Amati Geni. Bukan sekadar mematikan api atau lampu, tapi dimaksudkan agar kita bisa mengendalikan api dalam diri. Kedua, Amati Karya atau Berhenti bekerja untuk merenungi makna keberadaan. Ketiga, Amati Lelungan yang berarti Berhenti bepergian agar bisa fokus pada perjalanan ke dalam diri. Dan yang keempat adalah Amati Lelanguan yaitu Melepas hiburan demi kejernihan pikiran.
“Api dalam diri bukan untuk dimatikan, tapi dikendalikan. Emosi, amarah, dan pikiran negatif harus diredam agar hati menjadi jernih,” ungkap Artayasa.
Nyepi di Pura Agung Giri Natha mengajarkan bahwa untuk melangkah maju di Tahun Baru Saka, manusia perlu berhenti sejenak. Dalam gelap tanpa listrik dan sunyi tanpa gawai, sehingga tercipta ruang untuk introspeksi diri yang jujur.
Tawur Kesanga adalah gerbangnya, sebuah ritual yang mengingatkan kita bahwa sebelum memperbaiki masa depan, kita harus berdamai dengan alam dan membersihkan sampah-sampah emosi di dalam dada.(Psw)






