SPARTAVBUD Ajak Seniman dan Budayawan Semarang Makin Kolaboratif dan Cuan!

Semarang, Javamedia.id – Di tengah riuhnya denyut kreativitas Kota Atlas, sebuah paradoks lama masih membayangi: kemahiran meramu karya yang kerap tak sejalan dengan ketangkasan menjaring pasar.

Menjawab kegelisahan tersebut, Yayasan Dewi Sartika menginisiasi diskusi strategis melalui Focus Group Discussion (FGD) Jilid 3 bertajuk “Building The Ecosystem: Strategi Kemitraan dan Penetrasi Pasar SPARTAVBUD” di Gedung BLC Unwahas, Sabtu (18/4/2026).

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk merajut kembali simpul-simpul ekonomi kreatif agar karya seni tak hanya berhenti di estetika, tapi juga berujung cuan.

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, SPARTAVBUD hadir sebagai bukan sekadar aplikasi, melainkan platform digital yang berfokus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan kebudayaan di Kota Semarang.

Melalui integrasi teknologi dan media, platform ini berkomitmen menaikkan kelas produk budaya lokal agar mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional, sekaligus memastikan para pelakunya mendapatkan nilai ekonomi yang sepadan.

Ketua Pelaksana FGD, Yanuar Aris Budiarto, menegaskan bahwa landasan utama SPARTAVBUD adalah kolaborasi, bukan kompetisi. Berangkat dari hasil FGD pertama, tim pengembang menangkap aspirasi kuat dari para pelaku seni akan pentingnya ekosistem yang saling menopang demi kesejahteraan bersama.

“Melalui SPARTAVBUD, yang ingin kita bangun adalah ekosistem yang saling suport. Selama ini banyak masyarakat ingin mendapatkan tambahan penghasilan atau cuan dari sektor ini, tetapi belum ada mekanisme yang memudahkan mereka,” ungkap Yanuar.

Ia menambahkan, meski Semarang memiliki potensi seni yang masif, kendala promosi seringkali membuat karya sulit terjual. Di sinilah platform SPARTAVBUD berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan kebutuhan seniman dalam memperluas jangkauan pasar, sejalan dengan target pemerintah dalam membuka jutaan lapangan kerja baru.

Guna mewujudkan visi besar tersebut, platform ini mengadopsi kerangka kerja Pentahelix. Model kolaborasi ini menyatukan lima pilar utama: Akademisi, Bisnis, Komunitas, Pemerintah, dan Media (ABCG+M) demi menjamin keberlanjutan ekosistem seni yang terpadu dan menguntungkan.

IMGKeseriusan membangun sinergi ini tercermin dari deretan narasumber kompeten yang hadir mewakili setiap pilar. Mulai dari M. Salafi Handoyo (Founder Maretha Hati Natara Foundation), Tri Subekso (Founder Gambang Semarang Art Company), Singgih Adhi Prasetyo (Dosen Seni Budaya UPGRIS), Krisna Phiyastika (Pengelola Klub Merby), M. Rofikin (Praktisi Seni Digital), hingga Ari Eko Budiyanto (Dosen Desain Fashion). Kehadiran jurnalis senior dari berbagai media juga memperkuat pilar publikasi untuk mengamplifikasi narasi budaya Semarang ke khalayak luas.

Dalam sesi diskusi, M. Salafi Handoyo melontarkan “sentilan” mengenai penyakit lama para kreator yang seringkali terlalu asyik dalam proses kreatif namun abai pada manajemen branding.

“Seniman itu terkadang terlalu cinta dengan dunianya sendiri sampai lupa memikirkan pemasaran produknya. Padahal, kalau dikelola dengan profesional, karya mereka bisa menghasilkan cuan yang menjanjikan,” ujar Salafi.

Ia membandingkan Semarang dengan Yogyakarta yang dinilai lebih lincah dalam mengorbitkan seniman baru ke pasar komersial. Dengan memanfaatkan momentum skema pendanaan seperti Dana Indonesiana dari Kemdikbud RI, Salafi pun mengusulkan agar SPARTAVBUD melangkah lebih jauh dengan menyiapkan ruang arsip atau mini museum digital untuk merawat sekaligus memonetisasi aset pengetahuan seni.

Gayung bersambut, Direktur Gambang Semarang Art Company (GSAC), Tri Subekso, lebih menitikberatkan pada pentingnya pemanfaatan ruang publik sebagai panggung interaksi. Menurutnya, ekosistem seni akan semakin kuat dan memiliki nilai tawar jika karya-karya tersebut didekatkan langsung ke jantung aktivitas masyarakat.

“Optimalisasi ruang publik adalah kunci. Kita butuh medium strategis untuk mendekatkan seni kepada masyarakat secara organik. Dengan hadir di ruang-ruang terbuka kota, bukan hanya apresiasi yang tumbuh, tapi juga membuka ruang interaksi pasar yang lebih luas bagi para seniman,” papar Tri Subekso.

Sementara itu, Krisna Phiyastika, selaku Pengelola Klub Merby yang selama ini sukses menggarap perhelatan di ruang publik seperti Wayang On The Street di Kawasan Kota Lama Semarang, sangat mengapresiasi kehadiran SPARTAVBUD sebagai solusi teknis atas kendala yang selama ini dihadapi penyelenggara event seni dan budaya.

“Aplikasi SPARTAVBUD ini bisa membantu memasifkan publikasi dan sistem penjualan tiket event secara digital. Selama ini, aspek tersebut sering menjadi kendala utama dalam menyukseskan acara budaya di Kota Semarang,” tegas Krisna.

Melalui sinergi Pentahelix yang semakin solid, SPARTAVBUD optimis bahwa kekayaan budaya Semarang tidak hanya akan lestari sebagai tradisi, tetapi juga mampu “menghidupi” dan mendatangkan keuntungan finansial bagi para pelakunya secara profesional. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *