Dinilai Punya Misi Pemberdayaan Kuat, Budayawan Semarang Sambut Positif Platform Spartavbud

SEMARANG, Javamedia.idYayasan Dewi Sartika (YDS) Semarang kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk kali keempat dalam rangkaian program Dana Indonesiana Kembud RI Tahun 2025 dengan melibatkan para pelaku seni dan kebudayaan serta praktisi untuk mempertajam kebutuhan pengembangan platform aplikasi Spartavbud.

‎Ketua pelaksana kegiatan Yanuar Aris Budiarto menyampaikan pada gelaran FGD pertama sampai saat ini dinilai kehadiran platform SPARTAVBUD mendapat respons positif dari kalangan seniman dan budayawan di Kota Semarang.

‎Platform yang berusaha menjadi jembatan pemasaran pelaku seni dan budaya untuk memasarkan produk kreasi mereka ini dinilai lebih memiliki “nyawa” dan semangat pemberdayaan yang berpotensi memperkuat ekosistem seni dan budaya.

‎”Nah, pada FGD kali ini kami fokus pada topik ‘Strategi Pasukan Iklan & Distribusi Konten Massal SPARTAVBUD’ yang mana kami berharap sebelum aplikasi ini didevelop, kami sudah mendapatkan masukan dari para budayawan (mitra) dan masyarakat (pasukan iklan) yang akan jadi penggunanya,” terangnya di Gedung Bisnis Learning Center (BLC) Unwahas Semarang, Rabu (23/4/2026).

‎Dosen Seni Rupa UPGRIS sekaligus Ketua AECI Satya Nirmana Foundation Semarang, Singgih Adhi Prasetyo menyampaikan selama ini ada banyak peluang ekonomi di sektor seni rupa nilainya sangat besar, namun belum tergarap maksimal.

‎Menurutnya, produk seni rupa seperti desain grafis, ilustrasi, lukis custom, hingga pembuatan properti pertunjukan memiliki pasar luas, mulai dari pelaku UMKM, institusi pendidikan, hingga event organizer.

‎“Peluangnya besar, termasuk untuk pola kerja freelance. Kebetulan saya selalu pelaku karya seni budaya sekaligus dosen, saya yakin platform SPARTAV budaya ini mampu memberdayakan para pelaku seni budaya dan masyarakat,” ujarnya.

‎Tak hanya itu, selain membantu Seniman, ia juga meyakini bahwa SPARTAVbud ini akan digandrungi mahasiswa karena misi pengerjaannya mudah dilakukan.


‎“kepentingan pelaku seni-budaya adalah dibantu promosi, dan kepentingan masyarakat, dalam hal ini mahasiswa, adalah butuh penghasilan tambahan, maka dari itu konsep dan strategi SPARTAVbud yg memberdayakan keduanya dengan menyatukan dua kepentingan dalam satu platform ini adalah langkah jitu,” kata Singgih.

‎Ia juga menyoroti berkembangnya pelaku digital art yang sebenarnya memiliki peluang menghasilkan passive income. Sayangnya, pasar untuk produk tersebut belum terbentuk secara berkelanjutan.

‎Sementara itu, Direktur Gambang Semarang Art Company, Tri Subekso, menilai Spartavbud memiliki nilai lebih dibanding platform lain.

‎“Spartavbud ini punya idealisme, punya ‘nyawa’ untuk memfasilitasi teman-teman komunitas, baik dari sisi pelaku budaya maupun yang jadi pasukan iklan,” ujarnya.

‎Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses kurasi harus dilakukan secara ketat, mengingat karakteristik karya seni dan kebutuhan pelaku budaya yang sangat beragam.

‎Di sisi lain, rendahnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap produk seni dan budaya masih menjadi tantangan utama. Karena itu, Spartavbud diharapkan tidak hanya menjadi platform digital, tetapi juga solusi atas persoalan mendasar di ekosistem seni Kota Semarang.

‎FGD ini juga menghadirkan Rofikin, guru animasi SMKN 4 Semarang sekaligus praktisi seni visual, serta Krisna Phiyastika dari komunitas Wayang On The Street (Klub Merby). Sementara, dari sisi mitra strategis media massa yang selama ini menjadi corong seniman tampil juga dilibatkan untuk memperkaya kajian secara komprehensif antara lain Heri Prasetyo jurnalis Suara Baru dan Prasetyo Widodo (Jateng Pos).

‎Prasetyo Widodo dari Jateng Pos berharap melalui forum ini, Spartavbud diproyeksikan menjadi ruang distribusi, promosi, sekaligus penguatan ekosistem seni yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

‎”Sebab, kami dari sisi pewarta menilai untuk soal brand awareness para seniman udah relatif cukup melek. Tapi, titik lemahnya adalah bagaimana cara menjual karya tersebut. Lalu produk mereka juga banyak dan gimana narasi produk bisa dibentuk agar memikat konsumen, nah itu tim Spartavbud yang bisa mengelola,” paparnya. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *