Pameran Keris Nusantara, Padukan Tradisi dan Sentuhan Modern

Semarang, Javamedia.id – Pameran Keris Nusantara bertajuk “Keris Re-Imagined: Napas Baru Warisan Leluhur” digelar oleh Komunitas Tosan Aji di Front One HK Resort Kota Semarang, Jumat (13/2/26). Pameran yang digelar selama tiga hari ini menampilkan keris tak hanya sebagai benda bersejarah, tetapi juga sebagai karya seni yang sarat filosofi dan nilai estetika.
Pengunjung diajak memahami makna simbolik di balik bentuk, pamor, serta ragam hias yang melekat pada setiap pusaka. Tampilan modern dalam penyajian diharapkan mampu menjembatani generasi muda dengan nilai tradisi yang telah hidup selama ratusan tahun.
Selain menyoroti aspek sejarah, pameran ini juga mengangkat interpretasi kontemporer terhadap keris. Unsur desain visual, tata cahaya, dan penataan ruang dirancang untuk memberikan pengalaman apresiatif yang berbeda dari pameran pusaka pada umumnya. Perpaduan tradisi dan sentuhan modern menjadi benang merah penyelenggaraan acara ini.

Generasi muda sudah mulai banyak yang memiliki ketertarikan terhadap Keris
Kabid Perlindungan Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Jawa Tengah, Eris Yunianto mengemukakan budaya keris belakangan sudah diterima dengan positif oleh generasi muda. Apalagi Banyak empu-empu muda yang saat ini bermunculan di Jawa Tengah.
“Anak muda sekarang ada yang menempa ilmu metalurgi di ISI Solo. Maka kegiatan (pameran) ini menjembatani saudara kita yang tumbuh dan hidup dari tosan aji. Di pameran ini ada empu empu muda dari Lombok, Yogyakarta dan kota-kota lainnya,” kata Eris.
Ia mengakui keris memiliki nilai-nilai budaya sehingga jangan hanya mempelajari kleniknya. Pamornya juga ada filosofinya. “Maka kalau ini dipadupadankan, bisa membangun harmoni,” ujar Eris.

Sentuhan modern dalam memamerkan keris menarik minat generasi muda
Sementara itu Staf Khusus Kemenbud, Basuki Teguh Yuwono usai menghadiri pembukaan pameran mengatakan bahwa setiap pemerintah daerah (pemda) saat ini didorong untuk menguatkan proses edukasi bagi para Millennial sebagai langkah mewariskan budaya keris.
“Saat ini Pemda memperbanyak pemberian edukasi dan riset -riset untuk mengurangi perdebatan yang kerap muncul ketika masyarakat membahas keris. Setiap riset mengenai keris perlu disampaikan kepada publik agar perdebatan bisa lebih cair,” ujarnya.
Di samping itu, ruang ekosistem sebagai wadah komunitas pemerhati keris juga perlu diperbanyak supaya ilmu pengetahuan tentang budaya keris bisa diterima dengan baik oleh generasi Millennial.
Namun, ia mengingatkan saat ini butuh tahap pembinaan dan pendampingan bagi organisasi tosan aji termasuk melakukan sertifikasi.
“Jadi (orang-orang) tidak hanya melulu tahun tentang (cara) membuat keris, tetapi juga ikut mengkurasi dan membangun ekosistem yang baik,” kata Basuki. (Psw)






