Merawat Kenangan di Pasar Klitikan Kota Lama Semarang

Semarang JavaMedia.Id – PASAR KLITIKAN merupakan istilah pasar yang menjual barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai oleh pemiliknya, namun masih dicari orang lain karena berbagai kebutuhan dan kepentingan. Orang dulu menyebut pasar loakan.

Di Kota Semarang terdapat banyak Pasar Klitikan, antara lain Pasar Klitikan ‘Asem Kawak’ di Kawasan Kota Lama Semarang tepatnya belakang Gereja Blenduk, lalu ada Pasar Klitikan Sendowo, Pasar Kltikan Waru Kaligawe dan Pasar Klitikan Kokrosono.

Umumnya Pasar Klitikan ramai dikunjugi pengunjungan di hari Sabtu dan Minggu, atau hari libur. Banyak mereka yang menjadikan Pasar Klitikan ini sebagai obyek wisata selain memang untuk menjual barang bekas atau mencari barang kebutuhan.

Rofiq adalah salah seorang penjual dan pemilik lapak di Pasar Klitikan Asem Kawak Kota Lama Semarang. Pengakuannya, dia menjual berbagai barang terutama barang bekas yang masuk dalam ketegori kuno atau antic. Banyak yang didapat Rofiq dari hasil pencarian membeli barang-barang bekan untuk dijualnya kembali. Tidak segan-segan Rofiq bahkan melakukan pembersihan hingga perbaikan bila barang yang didapat rusak atau cidera.

“Ada banyak barang yang bias dijual kembali dan memiliki nilai bagi mereka yang membutuhkan. Bagi pemilik awalnya tentu bias dikatakan sudah tak berguna lagi atau termasuk sampah yang harus dibuang. Akan tetapi kami menampungnya untuk mereka yang membutuhkan kembali,” ujar Rofiq.

Menurut Rofiq, ada beberapa kategori orang datang ke Pasar Klitikan. Utamanya adalah melancong untuk melihat-lihat barang yang dijual. Umumnya barang yang dijual merupakan barang lama yang sudah taka da di pasaran sekarang. Misalnya jenis piring dan gelas, tentu model lama. Termasuk pula banyak piring terbuat dari seng dan aluminium. Sendok pun juga demikian, banyak yang model lama terbuat dari perak bakar dan kuningan.

Meski termasuk perabot lama, namun tetap saja masih ada yang mencari. Baik digunakan kembali atau sekadar untuk koleksi.

Para pengunjung Pasar Klitikan umumnya adalah mereka yang ingin menemukan barang kenangannya. Banyak mereka yang berburu mainan masa lalu, seperti pistol-pistolan dan mobil-mobilan dari seng, juga boneka dan apa saja yang dibuat beberapa tahun lampau yang kni sudah tidak ngetrend lagi.

Eddy Phillip misalnya. Pria berusia 55 tahun ini mengaku rajin berkelana dari pasar klitikan satu ke pasar klitikan lainnya hanya untuk berburu barang kenangan. “Dulu saya hidup susah, untuk memiliki mainan sebagaimana yang dimiliki teman lain hampir tidak mungkin karena orang tua saya tidak mampu. Kadang saking pinginnya, saya ambil diam-diam dan membawanya pulang untuk sekadar ingin memiliki dan keesokan harinya saya kembalikan secara sembunyi-sembunyi pula. Begitu seterusnya hingga akhirnya diketahui sebelum saya kembalikan dan saya tertuduh sebagai pencuri yang selanjutnya dijauhi teman-teman,” kenangnya.

Pengakuannya, yang dulu sangat dia idamkan adalah mainan berupa patung Batman dan Robin terbuat dari plastik. Selain itu juga kereta api dari seng yang digerakkan oleh baterai dan melintas di jalur rel membentuk angka 8.

Secara tidak sengaja, Eddy menemukan kedua mainan idaman di masa lalunya dalam waktu yang tidak bersamaan dan beda tempat. “Rasanya saya seperti bahagia dan hati serasa tersayat. Bahagia bisa memiliki dengan cara membeli dengan uang sendiri, namun juga sedih ketika mengingat hasrat yang tak kesampaian saat itu. Dengan mainan tersebut saya mengenang masa lalu dan menjadi cerita bagi anak-anak saya,” kisah Eddy.

Sama halnya dengan Andi, pria yang usianya tak jauh dari Eddy. Dia dikenal sebagai pemburu alat-alat fotografi seperti kamera dan perangkat lainnya.

“Saya suka fotografi sejak kecil. Karena orang tua saya juga hoby dengan fotografi. Apa yang dulu orang tua saya punya dan sekarang sudah tidak ada lagi, mulai saya cari dan kumpulkan barang-barang yang sama dan setipe. Bagi saya memiliki barang yang dulu pernah orang tua miliki akan menjadikan kedekatan tersediri dengan orang tua, meski telah meninggal dunia,” kata Andi Mustafa Heimi.

Andi bahkan pernah merasa bersalah, saat menjatuhkan kamera orang tuanya Yashica Lynx. Akibat jatuh saat ditarik dari almari, menjadikan kamera tersebut rusak dan membikin kecewa ayahnya. Maklum kala itu kamera Yashica Lynx termasuk kamera yang mahal harganya. Setelah hampir 40 tahun berlalu dan orang tuanya telah meninggal, Andi menemukan kamera Yashica Lynx dijual di Pasar Klitikan Asem Kawak Kota Lama Semarang. Harganya Rp 350 Ribu dan kondisinya masih prima lengkap dengan tas kulitnya. Tanpa ba-bi-bu, kamera tersebut dibelinya.

“Bagi saya membeli barang di Pasar Klitikan itu adalah membeli kenangan. Yang mahal adalah kenangannya. Maka kadang berapapun harganya selalu ada yang mengejarnya. Tapi menurut saya harga di Kota Semarang ini masih jauh lebih murah atau terjangkau,” lanjutnya.

Selain kamera, Andi juga memburu barang apa saja yang dulu pernah ada di rumah orang tuanya saat kecil. Seperti radio transistor merek Nasional juga tas koper merek President yang dulu digunakan sebagai tas sekolah sewaktu di SD.

Berawal dari aksi spontan, Andi kini justru mengoleksi semua barang yang pernah dijumpainya di masa lalu untuk media mengenang masa lalu. Termasuk mengumpulkan buku pelajaran sewaktu SD, SMP dan SMA.

Berbeda dengan Eddy dan Andi, Wahyu warga Semarang Barat ke Pasar Klitikan untuk mencari barang antik yang akan dijualnya kembali. Saya mencari barang-barang antik selain untuk dijual kembali, juga untuk persewaan properti shoting film.

“Ada banyak yang saya cari, antara lain kacamata, pipa rokok, pen atau pulpen, juga papan reklame. Ada juga mesin ketik, pesawat telpon tempo dulu, lampu meja, helm dan banyak lainnya. Untuk benda elektronik tidak harus yang masih hidup, mati atau rusak pun masih kami butuhkan fisiknya,” ungkap Wahyu.

Selain Wahyu ada Sartono yang berburu juga barang-barang elektronik rusak untuk dibongkar dan diambil sparepartnya yang masih layak pakai sebagai bahan kanibalan servis.

“Kalau saya, apa saja saya beli. Kalau tidak sparepartnya ya sekrupnya tetap bisa dimanfaatkan. Umumnya saya cari seperti tape bekas, remote bekas dan setrika. Semua ada manfaatnya,” ujar Sartono.

Demikian gambaran orang berkepentingan terhadap Pasar Klitikan di Semarang. Tentu hal sama juga terjadi di beberapa daerah.

Bagi pedagang pun keberadaan pasar ini cukup memberi ruang ekonomi yang menjanjikan. Rofiq bahkan mengaku Pasar Klitikan Asem Kawak sudah dikenal hingga manca negara, termasuk hingga Malaysia dan Belanda sekalipun. “Tidak ada yang tak bernilai rupiah di sini. Plat nomor Vespa tempo dulu yang kini sudah tidak berlaku masa aktif pajaknya pun masih diburu banyak orang. Meski harganya tidak tinggi-tinggi banget, tetap laku dan ada yang mencari,” kata Rofiq.

Di Pasar Klitikan Kokrosono, Antok dikenal sebagai salah satu pedagang yang tidak memilik-milih barang untuk dijualnya. Dia adalah pedagang yang menyasar pakaian bekas tapi termasuk jadul.

“Saya ambil peluang ini karena banyak mereka yang mulai menggemari dandanan jadul dengan pakaian ala tempo dulu, misalnya celana CutBray dan pola kerah lebar serta bentung jengkt atau slim. Baju ini umumnya buatan dibawah tahun 1980an. Adapun motifnya biasanya kembang-kembang, kotak-kotak, polkadot dengan warna cerah,” kata Antok.

Baju kuno ini bila kondisinya baik bisa dijual hingga Rp 50 ribu per potong, baik baju maupun celana.

Meski yang dijual bukan barang baru dan pernah dianggap sampah yang layak dibuang, namun barang tersebut di Pasar Klitikan memiliki nilai ekonomi.

Pasar Klitikan tampaknya memiliki daya Tarik tersendiri dan menjadi daerah tujuan wisata alternative untuk mengenang masa lalu. (Gam)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *