Serunya Rebutan Gunungan di Goa Kreo, Intip Meriahnya Tradisi Sesaji Rewanda Hari Ini!

Semarang, Javamedia.id – Sorak-sorai ribuan warga pecah di pelataran objek wisata Goa Kreo, Gunungpati, saat gunungan hasil bumi setinggi dua meter mulai diperebutkan pada Sabtu (28/3/2026) siang.
Bukan sekadar berebut sego kethek, sayur dan buah, antusiasme masyarakat dalam tradisi Sesaji Rewanda tahun ini menjadi simbol kerinduan akan berkah sekaligus penghormatan terhadap sejarah Sunan Kalijaga yang tetap hidup di tengah modernitas Kota Semarang.
Rangkaian acara dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan kirab budaya yang menempuh rute dari Masjid Al-Mabrur menuju pelataran Goa Kreo. Barisan kirab dimeriahkan oleh sembilan Santri Kanjengan, sosok ikonik Kera Bangbintulu, serta replika kayu jati yang dipikul oleh delapan orang. Ini melambangkan kayu legendaris yang dicari Sunan Kalijaga untuk soko guru Masjid Agung Demak.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari menjelaskan, rangkaian acara telah dirancang secara terintegrasi. Ada Mahakarya Gua Kreo yang digelar Jumat (27/3/2026) malam, dengan menampilkan secara kolosal lebih dari 150 penari dan pemusik. Selanjutnya pada Sabtu (28/3/2026) dilanjutkan dengan prosesi Sesaji Rewanda.
Menurutnya, ingatan tentang syiar Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga terus dihidupkan melalui kegiatan budaya tersebut. ‘’Ini simbol semangat gotong royong dan persatuan. Kami ingin menyeimbangkan kehidupan manusia dengan flora, fauna, dan alam sekitarnya. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat hidup, di sini semuanya hidup berdampingan dengan rukun,’’ katanya.
Keberadaan kera di Gua Kreo tidak hanya dipandang sebagai bagian ekosistem, tetapi juga sebagai identitas budaya. Interaksi harmonis telah dibangun dan dijaga oleh masyarakat setempat.
Dalam konteks pariwisata, tradisi tersebut juga dikembangkan sebagai daya tarik unggulan Kota Semarang. Wisatawan tidak hanya disuguhkan pemandangan alam, tetapi juga pengalaman budaya.
Sementara itu, Ketua panitia penyelenggara sekaligus tokoh masyarakat setempat, Saiful, menjelaskan bahwa persiapan tahun ini dilakukan secara maksimal dengan menyediakan berbagai jenis gunungan.
“Tahun ini kami menyiapkan gunungan palawija, buah-buahan, nasi tumpeng, ketupat, hingga sego kethek. Khusus untuk monyet-monyet di Goa Kreo, ada tiga gunungan buah yang kami berikan. Tradisi ini sudah ada sejak 1940-an, kami sekarang adalah generasi keempat atau kelima yang menjaganya agar tidak luntur,” kata Saiful di sela-sela riuhnya acara.
Bagi warga Semarang, Sesaji Rewanda adalah momen tahunan yang tak boleh dilewatkan. Setelah doa bersama selesai, masyarakat langsung “menyerbu” isi gunungan yang dipercaya membawa keberuntungan.
Indah (34), salah satu warga Gunungpati yang hadir bersama keluarganya, mengaku sangat antusias memburu sego kethek (nasi monyet)—makanan khas yang dibungkus daun jati.
“Seru sekali, tadi sempat ikut rebutan buah dan nasi tumpeng. Anak-anak juga senang lihat monyet-monyet makan buah dari gunungan. Selain tradisi, ini jadi hiburan keluarga yang murah dan edukatif buat anak-anak biar tahu sejarah Sunan Kalijaga,” ungkap Indah penuh semangat sambil menunjukkan hasil buruan gunungannya.
Tradisi ini ditutup dengan pemberian makan secara simbolis kepada kawanan kera ekor panjang yang menghuni gua, menandai keharmonisan antara manusia, sejarah, dan alam semesta. (Psw)






