Tepis Rumor Buang Kucing, Manajemen Lawang Sewu Gandeng Pecinta Satwa Kelola Populasi

SEMARANG, Javamedia.id – PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) melalui Management Lawang Sewu berkomitmen membangun kawasan wisata heritage yang ramah hewan dengan menggandeng komunitas pecinta kucing (cat lovers) Kota Semarang, Minggu (17/5/2026). Langkah sinergis ini diambil sekaligus untuk meluruskan isu miring terkait pembuangan kucing dan pemecatan petugas yang sempat beredar di masyarakat.
Pertemuan dengan komunitas pecinta kucing yang berlangsung di area Lawang Sewu tersebut menjadi ruang dialog terbuka antara pihak pengelola dan perwakilan masyarakat. Manajemen KAI Wisata menilai, kehadiran komunitas pecinta kucing ini menunjukkan kepedulian publik yang tinggi terhadap kesejahteraan satwa (animal welfare), khususnya kucing-kucing liar yang selama ini hidup di kawasan cagar budaya tersebut dan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.
Pihak pengelola menegaskan bahwa kucing-kucing di Lawang Sewu bukan penghuni liar, melainkan bagian dari ekosistem yang memberikan nuansa humanis bagi pengunjung. Sebagai pengelola, KAI Wisata menyatakan bertanggung jawab penuh untuk memastikan kesejahteraan dan kesehatan satwa tersebut tetap terjaga dengan baik tanpa mengabaikan aspek kebersihan lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, Management Lawang Sewu memberikan klarifikasi resmi bahwa tidak pernah ada ultimatum atau instruksi terkait pembuangan kucing dari kawasan wisata. Pihak manajemen juga membantah kabar burung mengenai adanya pemecatan petugas internal yang diisukan berkaitan dengan keberadaan kucing-kucing tersebut. Klarifikasi ini dinilai penting untuk meluruskan misinformasi yang telanjur beredar di media sosial.
Manager of Asset Operation PT Kereta Api Pariwisata, Moedji Setiono, menyampaikan apresiasinya atas perhatian yang diberikan oleh komunitas satwa. Menurutnya, Lawang Sewu sebagai kawasan cagar budaya berkomitmen menjaga keseimbangan antara pelestarian bangunan bersejarah dengan perlindungan makhluk hidup di sekitarnya.
“Kami melihat potensi besar dalam kolaborasi ini. Melalui sinergi dengan komunitas cat lovers, kami yakin keberadaan kucing dapat dikelola dengan lebih baik, tetap sehat, dan terawat, tanpa mengganggu pelestarian bangunan heritage yang menjadi tanggung jawab utama kami,” ujar Moedji Setiono.
Sebagai bentuk implementasi nyata dari pertemuan ini, kedua belah pihak sepakat untuk menyusun program pengelolaan populasi yang terukur. Dalam waktu dekat, Management Lawang Sewu dan komunitas berencana menggelar rangkaian kegiatan positif, mulai dari program sterilisasi berkala untuk mengendalikan populasi, edukasi kesehatan hewan kepada publik, hingga kontes kucing.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi percontohan (model) bagaimana isu keberadaan hewan di ruang publik atau kawasan wisata dapat diselesaikan secara beradab melalui dialog konstruktif, tanpa merugikan pihak manapun.
Ke depannya, KAI Wisata menegaskan akan terus membuka ruang komunikasi dengan komunitas dan masyarakat luas guna menciptakan kawasan pariwisata yang nyaman bagi pengunjung, ramah terhadap hewan, namun tetap lestari nilai sejarahnya. (Psw)






