Sendratari Cheng Ho Digelar di Pelataran Klenteng Agung Sam Po Kong

SEMARANG JavaMedia.Id – Sanggar Tari Greget Semarang, Sabtu (20/6/2026) malam menggelar Sendratari ‘The Legend of Cheng Ho’ di pelataran Klenteng Agung Sam Poo Kong Gedungbatu.

Kisah Laksamana Cheng Ho ditampilkan secara kolosal melalui berbagai tari tematik didibawakan siswa dan siswi sanggar Greget ini mengisahkan kisah persinggahan Laksamana Cheng Ho di kawasan Kota Semarang sekitar enam abad yang lalu.

Sangghita Anjali selaku Ketua Sanggar Tari Greget Semarang mengatakan jika tema tersebut menjadi pilihan utama dalam kegiatan Greget Festival Tari ke-67. Menurutnya, tema ini sangat dekat dengan Kota Semarang, karena Laksamana Cheng Ho dikisahkan singgah di Kota Semarang, tepatnya di kawasan Simongan yang sekarang menjadi Sam Poo Kong.

“Pada Greget Festival Tari ke-67 ini, kami merasa ingin kembali membawakan tema yang dekat dengan kami di Kota Semarang. Cheng Ho menjadi salah satu pilihan menarik karena secara konteks, Kota Semarang kemudian memiliki akulturasi budaya yang sangat baik. Jadi kami mencoba menginterpretasi peristiwa singgahnya Cheng Ho di Kota ini sebagai simbol akulturasi,” kata Ghita.

Ghita menambahkan, gelaran ini menyajikan bentuk kesenian drama tari. Jadi, lanjutnya, semua siswa akan menari dengan membawa peran masing-masing selama kurang lebih dua jam.

“Konsepnya sendratari. Tanpa jeda, sehingga penonton bisa merasakan keutuhan kisah lewat tarian. Untuk penampilnya kira-kira 150 orang siswa sanggar,” imbuhnya.

Sutradara sendratari Legend of Cheng Ho, Canadian Mahendra, yang juga tampil memerankan sosok Cheng Ho, mengatakan jika pendekatan sendratari ini menggunakan ragam gerak Semarangan. Namun, lanjutnya, menggunakan pola-pola yang cukup sederhana, mengingat kebanyakan pemain dalam acara ini adalah siswa sanggar yang masih kecil.

“Karena banyak siswa yang masih usia sekolah, kita buat ragam yang lebih sederhana, namun tetap tidak mengurangi esensi ceritanya,” lanjut dia.

Sementara Pendiri Sanggar Greget yang juga Mastro Tari Indonesia, Yoyok Bambang Priyambodo, mengatakan jika Cheng Ho memang menjadi simbol yang cukup kuat di Kota Semarang. Dari situ, lanjutnya, membuka koridor-koridor budaya yang memungkinkan adanya akulturasi antara budaya satu dan lainnya.

“Dan itu membuka ruang yang sangat lebar bagi kesenian untuk berkembang. Salah satunya seni tari,” katanya.

Menurut Yoyok, hal ini merupakan bentuk keragaman Kota Semarang sebagai kota yang berada di pesisir utara Jawa. Dia menilai akulturasi menjadi hal yang sangat umum terjadi.

“Justru itu yang membuat Kota Semarang menjadi kota yang menarik. Banyak bauran budaya dan itu membuatnya kaya,” imbuhnya.

Tampilan Sendratari ini justru mendapat support tempat dari Kelenteng Agung Sam Po Kong Gedungbatu yang memang jadi tempat persinggahanmu Laksamana Cheng Ho. Kemandirian dan konsistensi Sanggar Greget mendapat apresiasi dari kalangan orang tua murid sanggar. (DNC)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *