Merdeka Belajar Ala Syafiq Yunensa: Membawa Jiwa Punk ke Ruang Kuliah dan Dunia Literasi

SEMARANG, Javamedia.id — Bagi sebagian orang, dunia jalanan dan kultur punk identik dengan pemberontakan tanpa arah. Namun, bagi Syafiq Yunensa, semangat tersebut bertransformasi menjadi energi positif untuk mendobrak batasan sistem pendidikan, melahirkan karya sastra, hingga membawanya meniti karier sebagai seorang akademisi dan penggerak literasi. Syafiq memandang komunitas punk bukanlah gerakan pengangguran, melainkan sejarah perlawanan kelas pekerja.
“Awal mula punk itu berangkat dari sejarah perlawanan kelas pekerja, bukan kelas pengangguran, lagi-lagi Itu yang sering disalahartikan,” ungkap Syafiq saat mengajar di acara Semarang Book Party dan Selingan (sekolah literasi dan pengembangan diri) di Taman Tirto Agung, Banyumanik Kota Semarang, Sabtu (25/07/26).
Bagi Syafiq, perlawanan tersebut tidak harus selalu melalui jalur formal, melainkan dapat diwujudkan lewat musik, karya seni, gaya hidup, ideologi, atau apapun, yang penting itu adalah subculture, bukan arus utama atau budaya utama.
Pemahaman ini juga diperkuat melalui riset akademis yang ia jalani dalam penulisan Tesis magister S2 nya di UIN Walisongo Semarang dengan judul Pendidikan Agama Kaum Punk yang membahas sisi religiusitas anak jalanan. Ia melihat adanya kedekatan antara nilai-nilai subkultur tersebut dan realitas sosial di Indonesia yang lekat dengan nilai keagamaan.
Syafiq menceritakan bahwa latar belakang pendidikannya di masa sekolah diwarnai dengan tingkat kehadiran yang minim akibat kejenuhan terhadap sistem pendidikan yang dianggap mengekang kebebasan berpikir.
“Kita enggak suka dengan sistem yang memang terlalu mengekang kebebasan, terlalu membuat seorang siswa itu tidak punya pilihan kecuali mengikuti arus utama, menjadi siswa yang baik, yang pintar, yang nurut, yang mau diseragamkan,” ujar Syafiq.
“Nah, dari situ aku sering pergi ke jalan di jam-jam sekolah, atau saat malam, atau saat konser, kadang 2-3 hari nggak pulang gitu kan. Dan di jalanan saya menemukan banyak hal yang tidak saya temukan di ruang-ruang kelas. Saat ngobrol dengan tukang sapu, ngobrol dengan tukang becak, melihat bagaimana seorang ayah harus bekerja dari pagi sampai malam di jalanan, menunggu penumpang atau berjualan di beberapa titik-titik jalanan,” tambahnya.
Syafiq bahkan sempat hampir dikeluarkan dari sekolah saat duduk di bangku SMA dengan peringkat terbawah di kelasnya. Kendati demikian, masa-masa sulit tersebut justru membawanya menemukan hobi membaca dan menulis secara otodidak. Tanpa bimbingan mentor khusus atau pelajaran bahasa formal, Syafiq mulai menelurkan berbagai karya tulis.
Kariernya sebagai penulis melejit lewat sejumlah buku fiksi maupun nonfiksi yang lahir dari pengalaman dan perenungannya di jalanan. Beberapa karyanya yang dikenal yaitu :
- Berandal Bermoral (versi pertama dan kedua)
- Joni Melawan Arus (jilid pertama dan kedua)
- Catatan Sang Berandal
- Sepasang Juang
- Buku pengembangan diri (self-improvement) bertajuk Mengapa Kita Rajin Berjalan di Tempat
- Sepasang Puisi di Bulan Maret
Bahkan, salah satu karyanya yang berjudul Catatan Sang Berandal sukses menjadi best seller. Karya-karya tersebut juga yang mengantarkannya lulus kuliah strata satu (S1) tanpa harus menyusun skripsi konvensional di UIN Walisongo karena langsung disetujui pihak dekanat untuk digantikan dengan karya novelnya.

Semarang Book Party dan Selingan (sekolah literasi dan pengembangan diri)
Menerapkan “Metode Punk” di Ruang Kuliah
Kini, Syafiq mendedikasikan waktunya di dunia akademis. Tercatat sebagai dosen pengampu mata kuliah Filsafat serta Sejarah dan Tokoh Pendidikan Islam, ia aktif mengajar di UIN Walisongo dan Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK Kendal).
Dalam metode pengajarannya, Syafiq konsisten menerapkan apa yang ia sebut sebagai “metode punk”. Ia memberikan kebebasan bagi para mahasiswanya untuk mengeksplorasi potensi diri melalui tugas berbasis proyek ketimbang sekadar hafalan tertulis.
“Metode punk bagi saya adalah ketika mahasiswa atau siswa itu bisa merasa nyaman menjadi diri sendiri dan bisa mengembangkan potensi diri. Saya selalu memberikan tugas UTS dan tugas UAS di mata kuliah bukan tertulis atau hafalan, tapi berbentuk project. Project-nya bebas, bisa individu bisa kelompok. Maka dalam satu kelas, misalnya berisi 32 orang, dalam satu semester saja itu bisa menghasilkan rata-rata 8 buku, 2 film, beberapa lukisan, kaligrafi, podcast, lirik lagu, dan bidang usaha.” Jelasnya.
Pendekatan ini terbukti berhasil melahirkan berbagai karya kreatif dari para mahasiswanya, mulai dari buku, film, karya seni, hingga rintisan usaha mandiri. Di samping kesibukannya sebagai pengajar, Syafiq tetap aktif menggerakkan dunia literasi melalui berbagai komunitas seperti Kendal Book Circle dan Semarang Book Party serta mendirikan penerbitan buku mandiri guna merawat budaya baca dan tulis di tengah masyarakat. (Psw)





