Kho Siang Bo, Pahlawan Keturunan Tionghoa Dari Lemah Gempal

Semarang JavaMedia.Id – Nama Kho Siang Bo adalah 1 diantara 2 nama Tionghoa yang tercatat sebagai pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Giri Tunggal Semarang. Selain dia, ada Lie Eng Hok yang tercatat sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan dan dikenal sebagai pejuang Clandestine dalam upaya mempersiapkan kemerdekaan.

Kho Siang Bo adalah putra dari Kho Chong Sun, seorang China totok yang merantau ke Semarang dikenal sebagai pengusaha kue keranjang di tahun 1920an tinggal di Lemah Gempal Semarang.

Di masa mudanya, Kho Siang Bo gemar olahraga. Selain membentuk tubuk tubuh atletis, juga mengikuti bela diri Silat Setia Hati (SH) pada Eyang Kasah di Barusari yang dikenal sebagai pendekar dan memiliki perguruan untuk melatih anak-anak muda.

Di masa pendudukan Jepang, para pemuda Lemah Gempal membentuk Barisan Angkatan Muda untuk mendukung Kemerdekaan.

Bersama pemuda Bulu Stalan pimpinan pemuda Toyib Iksan, mereka membangun perlawanan di Kawasan sekitar dari Banjirkanal Barat hingga Kawasan Tugu Muda. Pertempuran-pertempuran terhadap tantara Kidobutai Jepang di Kawasan ini banyak dilakukan oleh pemuda Lemah Gempal, Bulu Stalan dan Barusari, termasuk diantaranya melibatkan Kho Siang Bo.

Senin (15/10/1945) siang pasukan Jepang yang turun dari Kido Butai menuju lapangan Kalisari masuk ke Lemah Gempal mulai membakari rumah. Saat itu Kho Siang Bo sedang asyik menimang putra pertamanya bernama Kho Chong Djien yang masih berusia 17 hari.

Tak ada tahu bahwa timangan seorang ayah yang sedang bahagia karena putra pertamanya lahir, adalah timangan terakhir sebelum berpisah untuk selama-lamanya.
Dari luar rumahnya yang ada di Kampung Lemah Gempal, terdengar teriakan gempar.

“Jepang ngamuk…Jepang ngamuk…. !,” teriak warga sambil berlarian menyelamatkan diri. Kho Siang Bo yang mendengar teriakan langsung mengambil langkah cepat dengan menyerahkan Kho Chong Djien kecil kepada istrinya, Kamiah yang tidak lain adalah putri Eyang Kasah, si guru Pencak Silat.

Kho Siang Bo langsung lari keluar rumah dengan maksud ingin membantu warga, namun selangkah dua langkah kakinya menginjak tanah disongsong suara tembakan dari moncong senapan tentara Jepang yang telah menghadang di depan rumahnya. “Dor,,!” tubuh kekar Kho Siang Bo rebah di tanah.

Darah segar pun mengucur tanpa ada kata terucap. Dia gugur sebelum sempat melawan.
Kisah ini dipaparkan Kho Chong Djien yang bernama lain Juari (81) sesaat mengunjungi makam almarhum papanya, Kho Siang Bo di TMP Nasional Giri Tunggal Semarang, Selasa (5/8/2026).

Di setiap menjelang HUT Proklamasi Kemerdekaan RI dan Pertempuran 5 Hari Semarang, Juari menziarahi makam papanya. Meski sejak kecil belum pernah melihat wajah papanya dan hanya mendengar kisah dari kakeknya, Juari sebagai anak tetap menunjukkan baktinya dengan ziarah dan mendoakan.

“Almarhum papah adalah kebanggaan saya. Dari kisah yang sering diceritakan kakek, saya tahu betapa papah memiliki semangat dan sikap kepedulian tinggi terhadap lingkungan, bangsa dan negara. Kami dari warga keturunan Tionghoa yang berdarah campuran Jawa sudah merasakan bahwa tanah air kami adalah Indonesia. Udara yang kami hidup, makanan yang kami makan adalah dari bumi Indonesia, maka darah yang mengalir di tubuh kami adalah darah Indonesia. Jadi apa yang papa lakukan semasa hidupnya adalah panutan bagi kami,” ujar Kho Chong Djien alias Juari.

Dulu semasa kecil, hampir setiap hari Juari bisa nengok ke makam papahnya, karena berada di halaman rumahnya. Sebab saat peristiwa itu, tidak ada prosesi ke tempat pemakaman yang aman, kecuali dilakukan di kampung sekitar rumah korban penembakan. Kho Siang Bo kala itu dimakamkan di halaman rumah. Baru sekitar tahun 1952an, makamnya dipindah ke TMP Giri Tunggal Semarang.

(Penulis : Chandra AN-Sosialisator JSN45 LVRI Jawa Tengah)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *