Hidupkan Kembali Lagu & Musik Melayu Dengan Tribut A Rafiq

Javamedia.id – Semarang, A RAFIQ sangat dikenal sebagai salah satu Legenda Musik Melayu Dangdut Indonesia. Bukan tanpa alasan, sosok kelahiran Semarang ini dinilai banyak penggemarnya karena kekhasan music dan lagu-lagu yang dicipta. Selain itu juga mampu membawakannya dengan sangat luar biasa.

“A Rafiq tak hanya memiliki suara yang merdu dan khas, melainkan juga mampu membawakan dengan olah seni gerak serta kostum yang berbeda dengan penyanyi pada umumnya di masa itu,” ujar Alex Kumar, salah seorang penyanyi Melayu Semarang yang memiliki komitmen dengan komunitasnya untuk menjaga warisan karya-karya lagu A Rafiq.

Ya, A Rafiq selain dikenal sebagai penyany dan pencipta lagu Melayu Khas Dangdut bercorak India ini juga seorang aktor alias pemain watak yang sempurnya. Setiap membawakan lagunya, selalu diungkapkan dengan ekspresi yang muncul dari perasaan atau hati.

“Beliau tidak sekadar menyanyi, namun bisa menyajikan lagu sebagai ungkapan hati atau perasaan. A Rafiq menciptakan lagu bukan asal menulis, namun hasil daru ungkapan perasaan. Bahkan kadang itu bagian dari pengalaman pribadinya. Makanya kadang dibawakannya dengan perasaan sedih, pedih hingga menangis. Tak sedikit pula yang diungkapkan penuh kegembiraan, dengan menari lari sana sini,” ungkap Sholeh Emde, musisi Musik Melayu yang masih punya hubungan keponakan, tinggal di Semarang.

Sholeh Emde yang memimpin Orkes Melayu Sinar Mutiara Muda, bersama sejumlah rekannya diantaranya Alex Kumar, Amugh Ahmad Mughni, Luthfi Jay, Munir Khan dan Zubeir Hawari mengaku menjadi salah satu Komunitas Musik Melayu yang spesifik menjadi pelestari Lagu Melayu.

“Meski sekarang ini Melayu lebih dikenal sebagai musik Dangdut, bukan berarti kami ingin memisahkan Melayu dengan Dangdut maupun selanjutnya, namun kami lebih intens mengangkat Musik Melayu untuk pelestarian dari arus perubahan yang ekstrem,” unhkap Sholeh Emde.

Kehadiran nama Dangdut menggantikan Melayu merupakan salah satu jawaban dari berkembangnya musik di tanah air. Nama Dangdut kemudian lebih meng-Indonesia. Sedangkan Melayu sering diidentikkan dengan Malaysia. Namun demikian Musik Melayu diakui akan selalu melekat dengan budaya dan adab Melayu sebagai salah satu Ras di Indonesia. Oleh karena itu dalam Musik Melayu masih melekat adab dan kesantunan sebagai identitas.

Sementara salah satu tokoh Musik Melayu Semarang, Soleh Romadhon mengungkapkan, dari sisi musik pengiring dikenal Orkes Melayu, artinya susunan musiknya walau bukan Orkestra Besar, namun memenuhi unsur Orkes. “Jadi instrument musiknya memiliki pola permainan sendiri-sendiri yang bisa ditonjolkan secara bergantian membentuk suatu harmoni. Hal sama juga dengan Orkes Keroncong. Makanya di seitan nama grup, depannya diberi nama OM yang artinya Orkes Melayu. Contohnya OM Sinar Mutiara atau OM Suara Gembira,” ujar Soleh Romadhon, punya komponis Musik Melayu Semarang Era 1950an dikenal Pak Dul.

A Tribute To Arafiq, merupakan program mengangkat kembali lagu dan musik Melayu di Kota Semarang. Kegiatan ini pun mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang karena mengangkat A Rafiq sebagai salah satu tokoh kebanggaan Kota Semarang yang menjadi Ikon Musik Melayu Indonesia.

Sholeh Emde pun memaparkan adanya dua tokoh besar yang ikut membesarkan lagu Melayu yang kemudian dikenal Dangdut, pertama Rhoma Irama dan kedua A Rafiq.

“Beliau ini sebagai inisiator sekaligus pendiri Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) yang kemudian menjadi Persatuan Artis Melayu Dangdut Indonesia (PAMDI). Kami ingin generasi muda saat ini paham sejarah musik sehingga akan lebih mencintai dan bangga,” ujarnya.

Karya A Rafiq akan selalu menjadi karya andalan yang dibawakan, selain karya-karya M Mashabi, Munir Bahasuan, Husein Bawafie dan pencipta lainnya. Sebab selain mengajak orang untuk berdendang, juga bergoyang. Materi lagu-lagunya umumnya tak hanya drama percintaan, namun juga banyak pantun yang isinya petuah atau pesan untuk mengingatkan kita semua.

Ashraff Khan, menantu A Rafiq, suami Fadia A Rafiq mengapresiasi sejumlah seniman musik Melayu di Semarang yang mengangkat karya-karya papa mertuanya. Bahkan melalui OM Sinar Mutiara Muda yang dulu merupakan orkes yang didirikan serta membesarkan A Rafiq.

“Semoga ini misa menjadi ajang nostalgia untuk membangun silaturahmi para penggemar A Rafiq,” harap Ashraff yang kini menjadi anggota DPR RI Komisi X. (Dra)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *