Kelelawar & Tikus Jadi Perantara Penyakit Manusia Paling Dahsyat

UNGARAN, JavaMedia.id – Sampai kini masih berkembang isu, jika makan buah masak pohon yang terdapat bekas gigitan codot atau kelelawar akan semakin enak dan manis. Bahkan bagi ibu hamil, jika melahirkan kelak bayinya akan berwajah rupawan?
“Tapi tunggu jangan dicoba makan (buah) tersebut, karena itu hanya mitos di masyarakat,” kata Dr Drs Ristiyanto M Kes, pada talkshow One Health dengan topik Emerging Infectious Disease (EID’s) yang berlangsung di studio Dreamlight World Media (DWM), Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (26/2/ 2025).
Menurut peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu, selama ini dikenal ada 2 hewan liar sebagai perantara penyakit paling dahsyat ke manusia (zoonotic disease), siapa lagi kalau bukan kelelawar dan tikus. “Tikus sebagai penular penyakit sudah dikenal aejak 4.000 tahun silam, sedangkan kelelawar baru diketahui sekitar abad 20-an, jadi kedua hewan ini dikenal sebagai reservoir dan sangat berbahaya,” lanjut Ristiyanto
Tingginya perkembangan populasi di dunia menjadi salah satu sebab tingginya reservoir pula.
Talkshow yang selenggarakan One Health/EcoHealth Resource Center (OHCC) Universitas Gajah Mada (UGM) bersama Dreamlight World Media (DWM) dengan moderator drh Ezell Nugroho, CEO Animal Center Indonesia ini juga menampilkan Prof Dr drh Wayan Tunas Artama koordinator One Health Resource Center (OHCC) Universitas Gajah Mada dan Dr drh Didik Budiyanto M Kes (BRIN).
Dalam paparannya Wayan Tunas Artama melengkapi para pembicara lain. Menurut Prof Wayan, kedepannya tantangan global sangat besar dan EID’s ini merupakan penyakit baru. Hal itu berdasar bahwa persentase terbesar penduduk ada di kota. Jadi bukan tidak mungkin, dalam setiap setahun ada 5 penyakit baru, termasuk EID. Kebanyakan zoonotik dari satwa liar, bahkan juga dari hewan peliharaan ke manusia.
Lalu bagaimana langkah untuk menekan kasus zoonotik. “Kita harus siap siaga supaya tidak terkena transmisi, karena depannya penggunaan antibiotik yang berlebih tidak akan diperbolehkan pemerintah,’ kata Wayan TA. (Iss)






