Sambut Waisak 2570 BE, Umat Buddha Lakukan Ritual Pemandian Buddha Rupang di Vihara Mahavira Graha Semarang

SEMARANG, Javamedia.id – Ratusan umat Buddha memadati Vihara Mahavira Graha Semarang pada Minggu, 31 Mei 2026 (Lunar tanggal 15 bulan 4), untuk mengikuti ritual sakral Yi Fo atau Pemandian Buddha Rupang pada perayaan Tri Suci Waisak 2570 B.E..

Prosesi memandikan rupang Siddhartha Gautama kecil dengan air bunga ini menjadi salah satu magnet utama bagi ratusan umat yang hadir, sebagai simbol pembersihan kekotoran batin dan pemurnian diri sebelum memasuki puncak detik-detik Waisak.

Prosesi puja bakti dimulai tepat pukul 10:00 WIB, diawali dengan ritual sakral Penurunan Relik Hyang Buddha dan Puja Relik Hyang Buddha. Penurunan relik Sakyamuni Buddha beserta para muridnya ini menjadi penanda dibukanya gerbang spiritual bagi umat untuk mendekatkan diri pada nilai-nilai kesadaran.

Kemudian umat dengan khidmat mengikuti Kebaktian Waisak Namaskara “Mahakaruna Kshamayati” atau ritual pertobatan Pai Tapechan.  Selepas melafalkan doa-doa pertobatan, prosesi langsung berlanjut pada ritual Yi Fo tersebut. Di sela-sela kekhusyukan ritual ini, umat juga melakukan Penyalaan Pelita Waisak (pelita 1 hari) serta menerima Kong Zhai (dana pangan) yang disediakan oleh panitia vihara.

IMGTak hanya dipenuhi nuansa sakral, kemeriahan budaya juga turut dihadirkan untuk memeriahkan suasana vihara melalui penampilan kesenian Barongsai yang melambangkan keharmonisan dan sukacita.

Setelah itu Umat melakukan Meditasi Detik-detik Waisak yang mencapai puncaknya tepat pada pukul 15:44:44 WIB. Dalam keheningan meditasi tersebut, doa-doa kebaikan dipanjatkan agar kedamaian senantiasa menaungi bumi. Setelah meditasi usai, ritual berlanjut dengan Kebaktian hari Uposatha yang diisi dengan melafal Saddharma Pundarika Sutra Varga-25.

Pimpinan ritual, Suhu Chuan Chi, mengungkapkan bahwa makna utama dari perayaan Waisak 2570 B.E. ini bersumber pada tema utama tahun ini, yaitu “Cahaya Kebijaksanaan dan Cinta Kasih Membawa Perdamaian Dunia”.

“Pesan Waisak tahun ini selaras dengan tema yang kita ambil, yaitu tentang cahaya yang menerangi. Maksudnya adalah menerangi jalan untuk menuju kebahagiaan sejati. Melalui momentum ini, kita semua berusaha untuk memancarkan cinta kasih guna menunjukkan jalan agar semua makhluk dapat terbebas dari penderitaan,” tutur Suhu Chuan Chi penuh keteduhan.

IMGSuhu Chuan Chi juga menambahkan bahwa secara garis besar skema perayaan tahun ini berjalan konsisten dan serupa dengan tahun lalu, namun antusiasme serta kekhusyukan umat yang hadir secara langsung membawa energi positif yang sangat besar bagi vihara.

Seluruh rangkaian perayaan Waisak di Vihara Mahavira Graha Semarang ini diharapkan dapat meninggalkan kesan mendalam bagi umat untuk pulang membawa semangat cinta kasih dan menjadi cahaya bagi lingkungannya masing-masing. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *