KONEKSI Gelar Forum Kebijakan Iklim, Dukung Solusi Ketahanan Iklim Indonesia

Jakarta, Javamedia.id – Inisiatif Pemerintah Australia dan Indonesia untuk kemitraan di sektor pengetahuan dan inovasi, bekerja sama dengan Australia National University (ANU) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menyelenggarakan Forum Kebijakan Iklim.

Sebagai bagian dari perayaan 60 tahun ANU Indonesia Project, forum yang diikuti oleh 80 akademisi, mahasiswa, serta para pemangku kepentingan ini memfasilitasi dialog antarpeneliti dan pembuat kebijakan mengenai temuan riset yang memotret tantangan dan memberikan solusi inovatif bagi isu ketahanan pangan hingga manajemen air bersih yang menjadi prioritas di Indonesia.

“Perubahan iklim, kerusakan lingkungan dan polusi, serta hilangnya keanekaragaman hayati adalah tiga krisis global, Triple Planetary Crisis, yang sedang berlangsung dan akan terus terjadi. Jika kita tidak mengambil tindakan tegas, krisis ini akan berdampak tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan, mata pencaharian, dan bahkan laju pembangunan kita. Karena itu, forum hari ini sangat tepat waktu sekaligus mendesak dan menjadi kesempatan bagi kita untuk berbagi pengetahuan, membahas solusi, dan memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam menghadapi salah satu tantangan terbesar di era kita,” kata Plt. Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali.

Pada kesempatan yang sama, Minister Counsellor for Governance and Human Development dari Kedutaan Australia Jakarta Tim Stapleton juga menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya forum ini. “Australia berkomitmen untuk mendukung Indonesia dalam mendorong inovasi, membuat kebijakan berbasis bukti, dan juga melaksanakan riset bersama, termasuk di bidang perubahan iklim. Kami menghargai sinergi yang terjalin antara ANU Indonesia Project dengan KONEKSI dalam menyelenggarakan acara yang sangat selaras dengan fokus di dalam hubungan bilateral Indonesia dan Australia ini,” katanya.

Inovasi untuk Ketahanan Iklim Dalam diskusi panel, riset kolaboratif Barry Pogson (ANU) dan Yekti Asih Purwestri (Universitas Gadjah Mada)

bertajuk Developing Nutritious and Climate-Resilient Crop Varieties memotret pengembangan varietas lokal padi berpigmen. Memiliki ketahanan tinggi terhadap kekeringan serta kandungan gizi yang unggul, studi ini menemukan bahwa keberhasilan adopsi bioteknologi di Indonesia bergantung pada regulasi dan sosialisasinya, termasuk ke pemangku kepentingan, seperti kementerian dan para petani.

Ketua Poksi Pengawasan Mutu Benih, Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Happy Suryati yang turut hadir dalam diskusi panel menyampaikan, “Di tengah tantangan pangan dan perubahan iklim, Kementerian Pertanian berkomitmen memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui pemanfaatan lahan kering untuk agar Blueprint Swasembada Pangan dapat tercapai. Kami mengapresiasi temuan riset ini karena selaras

dengan prioritas pemerintah. Keberhasilan program ini memerlukan sinergi lintas sektor agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Sementara itu, riset yang dilakukan oleh Jeremy Smith (ANU) dan I Nyoman Widiasa (Universitas Diponegoro) bertajuk Solar-Powered Desalination for Fresh Water Supply in Remote menghadirkan terobosan teknologi melalui pengembangan sistem desalinasi bertenaga surya untuk mengolah air asin menjadi air minum bersih. Sistem modular dan terjangkau ini telah berhasil menyediakan air bersih untuk proyek percontohan yang mencakup 250 rumah tangga di Jepara, Jawa Tengah. Teknologi ini membuka peluang eskalasi adopsinya dalam mengatasi krisis air bersih di wilayah minim infrastruktur, yang dapat dikembangkan lebih luas ke daerah lain di Indonesia.

Direktur Sumber Daya Air Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Moh. Irfan Saleh yang turut hadir juga menyampaikan, “Isu pengelolaan dan penyediaan air di daerah terpencil, terutama di pulau-pulau

kecil, menjadi salah satu prioritas kami. Sesuai komitmen yang ada, kami akan memanfaatkan teknologi tepat guna, salah satunya desalinasi bertenaga surya. Menurut saya, yang menarik dari penelitian desalinasi dari KONEKSI ini

adalah fokusnya pada wilayah pesisir, persis seperti yang sedang kami butuhkan,” katanya. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *