Nyadran Sendang Gede, Warga Sembelih 150 Ekor Ayam dan Berburu 190 Kilogram Ikan Lele

Semarang, Javamedia.id – Warga bergotong royong menguras sendang dan menangkap ikan lele dalam tradisi Sadranan Makam di Sendang Pucung Gede, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/3).
Tradisi yang telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu secara turun temurun tersebut berakar dari kisah Mbah Nyai Tayem, sesepuh Kampung Pucung Pudakpayung.
Mbah Nyai Tayem adalah sosok yang pertama kali menemukan sumber mata air Sendang Gede tersebut, yang hingga kini dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Ritual Nyadran Sendang Gede Kampung Pucung ini dimulai dari kirab budaya, penyembelihan dengan 150 ekor ayam hasil partisipasi seluruh RT di Kelurahan Pudakpayung, kemudian menguras Sendang, berebut menangkap ikan lele, dilanjutkan dengan upacara sesaji dan ditutup makan bersama.
Untuk menambah antusias dan keseruan, di dalam sendang juga ditebar kurang lebih 190 kilogram ikan lele untuk diperebutkan warga, terutama anak-anak.
Tokoh masyarakat setempat, Ngasri, 65, menuturkan ikan lele dalam tradisi Nyadran bukan sekadar untuk dikonsumsi, melainkan juga sebagai cara menarik keterlibatan generasi muda agar mau ikut menjaga dan melestarikan tradisi.
“Ini sudah menjadi adat dan tradisi kampung kami. Ide menebar ikan lele supaya remaja ikut turun dan punya semangat membersihkan sendang,” ungkap Ngasri.

Nguras Sendang Gede
Menurutnya Tradisi Nyadran dengan menguras serta membersihkan mata air tersebut dilakukan setiap tahun pada Jumat Pahing bulan Ruwah berdasarkan penanggalan Jawa yang dipercaya sebagai hari wafat Mbah Nyai Tayem. Selain melestarikan budaya leluhur acara nyadran tersebut juga menjadi simbol pembersihan diri sebelum datangnya bulan suci Ramadhan.
“Tradisi Nyadran ini menjadi simbol pembersihan. Menjelang Ramadan, bukan hanya sendang yang dibersihkan, tetapi juga hati dan diri kita,” papar Ngasri.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Lurah Pudakpayung, Nuryati Purwaningsih, menilai tradisi Nyadran Sendang Gede Pucung juga menjadi bagian dari pengembangan desa wisata. Saat ini, Kelurahan Pudakpayung telah membentuk dua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk mengangkat potensi lokal.
“Dua tahun terakhir, rangkaian Nyadran selalu diawali dengan kirab budaya. Di Pudakpayung juga rutin digelar pertunjukan wayang sekitar empat kali dalam setahun,” ungkapnya. (Psw)






