Yoyok Adu Kesaktian Tari Bersama Maestro Tari di Wana Marta

Surakarta JavaMedia.Id– Api menyalak di Bale Sigala-gala, Pandawa dan Dewi Kunthi panik lantaran terjebak di dalamnya. Tak lama, muncul seekor Musang Putih dan menunjukkan jalan keluar sehingga mereka dapat lolos dari maut. Setelah lolos, Pandawa akhirnya diberi wilayah sebuah hutan bernama Wana Marta oleh Raja Astina saat itu, Destarastra. Dari hutan Marta kemudian berkembang menjadi kerajaan Amarta yang sangat mahsyur.

Penggalan cerita tersebut, merupakan bagian Mahabarata berjudul Babad Wana Marta. Kisah ini, dibawakan oleh Paguyuban Adi Yuswa Abaksya, dalam pentas Langen Beksan Nemlikuran di SMKN 8 Surakarta, Kamis (26/3).

Ketua Paguyuban Adi Yuswa Abyaksa, Wardoyo Adi Wibakso, mengatakan acara Langen Beksan Nemlikuran sudah berjalan selama 23 tahun. Pada kegiatan ini juga menjadi tonggak awal berdirinya paguyuban Adi Yuswa Abyaksa.

“Paguyuban ini berisi para empu, para maestro, dan penari-penari sepuh dari usia 50 (tahun) ke atas. Jadi di samping untuk melestarikan budaya, saya minta para sesepuh jangan berhenti menari,” katanya.

Menambahkan, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, pada Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, mengatakan kalau dirinya merasa bangga menyaksikan pertunjukkan wayang orang yang dibawakan oleh Paguyuban Adi Yuswa Abyaksa. Menurutnya, penampilan yang dibawakan tadi sangat memukau dan menyentuh hati.

“Penampilannya sangat bagus. Ini menjadi contoh kalau pertunjukkan ya seperti ini. Ini membuktikan dedikasi yang luar biasa. Kami seharusnya malu. Maturnuwun sekali,” kata dia.

Lebih jauh, Ahmad Mahendra mengugkap dirinya akan berupaya agar penampilan yang dimainkan Paguyuban Adi Yuswa Abyaksa dapat juga terselenggara di Jakarta.

“Moga-moga, ini belum janji, kita dapat mainkan karya ini di Jakarta,” imbuhnya.

Di sisi lain, pemeran Bisma dalam pagelaran tersebut, Yoyok Bambang Priyambodo, mengatakan jika pertunjukkan ini bisa ditarik menjadi simbol kondisi negara saat ini. Menurutnya, dengan dibukanya Hutan Marta menjadi kerajaan mahsyur, juga bisa menjadi doa agar ke depan Negara Indonesia dibersihkan dari segala hal buruk dan semakin baik.

Saat Pandawa membuka hutan, lanjutnya, mereka bertemu dengan banyak sekali mahluk-mahluk penunggu hutan. Dengan gigih, Pandawa menaklukkan semuanya sehingga Hutan Marta bisa ditinggali secara damai.

“Kalau kita bicara Babad Wana Marta, tentunya kita bicara soal kesulitan-kesulitan Pandawa. Namun akhirnya mereka mampu menyelesaikannya dan mendirikan sebuah kerajaan. Kalau kita tarik dalam konteks sekarang, ya bisa jadi Indonesia saat ini seperti dalam fase menemui kesulitan-kesulitan itu. Harapannya ke depan kita kembali menjadi bangsa yang adidaya dan mahsyur,” ungkapnya.

Kidung Wana Martani ini diperankan sedikitnya 53 penari-penari kawakan dari berbagai kota diantaranya, Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Jakarta. Alur ceritanya disutradarai oleh Agus Prasetyodiningrat. Sedangkan komposisi iringan musik digarap oleh Lumbini Tri Hastho, dan Narji Yofan. (Gam)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *