Refleksi menjelang Hari Guru Nasional: Guru dan Pendidikan Indonesia

Profesi guru akhir-akhir ini menjadi sorotan. Bukan lantaran pendapatan atau upahnya yang fantastis tapi profesi seorang guru dihadapkan pada Sebagian kondisi sosial siswa dan orang tua yang belum serratus persen faham peran dan fungsi guru serta sekolah dalam menyiapkan satu generasi untuk masa depan generasi muda.

Alih-alih para Guru menguasai materi pembelajaran, tetapi mereka harus membantu para siswa menyelesaikan satu “puzzle” yang belum selesai sebelum siswa ini berangkat ke sekolah.

Perlu diketahui, Sebagian siswa dimanapun sekolahnya rata-rata mereka ada masalah di rumah yang belum tuntas kemudian Ketika di sekolah mereka harus bertemu dengan kondisi yang mengharuskan mereka siap seratus persen padahal perasaannya tidak nyaman.

Sebagai contoh, siswa waktu di rumah tidur larut malam sehingga bangunnya kesiangan, sampai sekolah terlambat dan mendapat sanksi dari sekolah, sampai kelas ngantuk dan sebagainya. Akhirnya, siswa menjalani hari itu tidak maksimal.

Itu sekelumit masalah yang dihadapi guru di sekolah. Satu tantangan lain seorang guru masa kini adalah mereka juga menjadi fasilitator, motivator, dan inovator yang mampu memenuhi kebutuhan zaman.

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan kebutuhan lapangan kerja yang dinamis, guru senantiasa harus terus beradaptasi dengan metode pengajaran yang relevan dan inovatif. Selain itu para guru harus juga menyelesaikan administrasi yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Mari kita sedikit menelisik kondisi Pendidikan dan beberapa unsur yang terlibat didalamnya. Pertama, terkait kurikulum. Kurikulum Deep Learning Menjanjikan, akan tetapi belum Memenuhi dan menjawab Semua Tantangan. Selama perjalanan Republik ini, Kurikulum menjadi ladang uji coba dalam rangkaian sistem pendidikan Indonesia. Dalam perkembangan sejarahnya, Indonesia setidaknya mengganti kurikulum lebih dari 12 kali.

Saat ini, kita dilihatkan pada Kurikulum Deep Learning, yang disinyalir mampu menjawab tantangan abad ke-21 melalui tiga pendekatan, yakni Pemahaman Mendalam, Mindful Learning, dan Joyful Learning. Pendekatan ini selaras dengan teori konstruktivisme Vygotsky, yang menekankan pentingnya scaffolding (bantuan terstruktur) untuk membangun pemahaman melalui pengalaman yang bermakna. Selain itu, Joyful Learning dan Mindfulness juga sejalan dengan pendekatan neuro-edukatif modern yang menekankan keseimbangan antara emosi dan kognisi.

Namun ada yang terlupakan: pentingnya Rote Learning (strategi hafalan) sebagai fondasi memori jangka panjang. Dalam konteks psikologi kognitif (Anderson, 1980), rote memorization masih relevan, terutama pada tahap awal belajar.

Siswa tanpa kemampuan dasar yang otomatis dalam memori jangka panjang, kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) justru tidak bisa berkembang optimal. Kurikulum Deep Learning yang ideal haruslah sintesis antara pemahaman mendalam dan penguasaan fakta-fakta mendasar.

Tanpa hal tersebut, kita hanya akan memunculkan satu generasi yang merasa “senang belajar” tetapi miskin pengetahuan.

Kebijakan Pendidikan Butuh Konsistensi, Bukan Ganti Menteri Ganti Kurikulum. Salah satu tantangan besar dalam pendidikan kita adalah inkonsistensi kebijakan. Setiap kali terjadi pergantian menteri, seringkali kurikulum juga ikut berubah. Ini menunjukkan lemahnya arah dan haluan pendidikan nasional.

Sudah waktunya Republik Indonesia memiliki satu pedoman berupa Garis-Garis Besar Haluan Pendidikan Nasional (GBHPN) bersifat jangka panjang, lintas kekuasaan pemerintahan, dan disusun berdasarkan basis data, teori pendidikan, serta praktik terbaik global. Semestinya GBHPN menjadi “konstitusi pendidikan” yang memandu pengambilan kebijakan, tidak sekadar peta jalan jangka pendek seperti Roadmap 2045 yang kini ada.

Guru, Orang Tua, dan Masa Depan Pendidikan. Pendidikan bukan hanya urusan negara, tetapi juga tanggung jawab semua elemen bangsa. Hari Guru Nasional adalah momen yang tepat untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada guru yang katanya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa telah membentuk karakter dan intelektualitas anak bangsa di tengah berbagai keterbatasan.

Akan tetapi, keluarga juga harus menjadi aktor utama. Orang tua perlu menjadi guru pertama dan utama di rumah. apabila orang tua sepenuhnya menyerahkan anak pada sekolah, dapat dipastikan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa akan berjalan pincang.

Selamat menyambut Hari Guru Nasional. Mari kita kawal masa depan pendidikan Indonesia agar tidak terus berada di persimpangan jalan. Pendidikan yang berkualitas, adil, dan berkesinambungan adalah satu-satunya jalan menuju Indonesia yang benar-benar maju dan berdaulat dalam kecerdasan.

Penulis : Kiswanto (Guru Sosiologi SMA Muhammadiyah 1 Kota Semarang)

 

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *