Tren Pop-History di Rumah Pohan: Mengubah Arsip Sunyi Menjadi Magnet Estetik Anak Muda

Semarang, Javamedia.id – Menteri Kebudayaan RI sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), Fadli Zon bersama Walikota Semarang, Agustina Wilujeng resmi membuka pameran arsip dan filatelis bertajuk “Dalam Cengkeraman Saudara Tua” di Rumah Pohan, Kota Lama Semarang, Minggu (31/5). Pameran ratusan objek otentik yang merekam detail kehidupan masyarakat di bawah kendali ketat militer Jepang sepanjang tahun 1941 hingga 1945 ini digelar mulai 31 Mei hingga 7 Juni 2026.
Fadli Zon menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya pameran ini karena memiliki urgensi besar dalam menyelamatkan memori kolektif bangsa melalui media yang sangat spesifik dan otentik.
“Filateli dan arsip adalah saksi sejarah yang otentik dan merupakan sumber primer di dalam penulisan sejarah. Kita bisa membaca apa yang terjadi di masa lalu melalui dokumen, kertas, surat-surat, kartu pos, prangko, cap pos, serta tanda-tanda zaman lainnya yang terekam di atas kertas tersebut. Pameran ini sangat penting dibaca, terutama oleh generasi muda, agar kita bisa belajar dari masa lalu untuk melangkah ke masa depan.” Ungkap Fadli Zon.
Kesit Widjanarko, selaku kurator pameran, mengungkapkan bahwa Pameran kali ini dirancang untuk mendobrak cara konvensional dalam mengenalkan sejarah sekaligus mengonversi ratusan dokumen primer yang semula sunyi menjadi ruang edukasi publik yang estetik dan diminati generasi muda.
“Kami ingin membawa hal-hal yang kurang populer ini menjadi lebih akrab di mata anak muda melalui metode ‘dongeng’ yang menarik. Sejarah tidak melulu harus dipelajari lewat literatur yang tebal atau kuliah umum yang formal. Benda filateli menyimpan rekaman kejadian detail yang bahkan sering kali tidak dibahas dalam kurikulum sejarah sekolah formal.” Ujar Kesit.
Ia mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 100 jenis koleksi pribadi yang berhasil dihimpun oleh Pak Pohan seorang arsiparis sekaligus filatelis dan owner Rumah Pohan. Koleksi tersebut meliputi dokumen arsip, benda filateli, media massa kliping era kolonial, hingga dokumentasi foto lawas.
Dari ratusan objek yang dipajang, terdapat satu artefak media massa yang menjadi primadona pameran karena tingkat kelangkaannya yang sangat tinggi, yaitu koran darurat bernama NOOD EDITIE. Koran ini hanya terbit dalam rentang waktu singkat, sejak 10 Maret hingga 19 April 1942, sebagai penanda fase transisi hukum dari kolonial Belanda ke pemerintahan militer Jepang.
Koran darurat ini merekam dinamika de-Westernisasi yang sangat agresif. Bahasanya berangsur diubah dari bahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia dalam kurun waktu satu bulan demi menghapus total pengaruh budaya Barat yang dianggap inferior.
Melalui bukti-bukti arsip surat izin, pameran ini juga memperlihatkan betapa absolutnya kontrol pemerintah militer Jepang terhadap kehidupan harian warga Semarang. Di era tersebut, seluruh lini pergerakan masyarakat serba terkontrol.
Masyarakat yang ingin membeli sandal, beras, hingga bahan kue harus memiliki izin resmi. Terlebih lagi untuk kepemilikan perangkat radio; proses skrining dilakukan sangat ketat guna mengantisipasi indikasi spionase intelijen asing.
“Meski penuh dengan represi, era pendudukan ini mencatat sejarah krusial bagi persiapan kemerdekaan Indonesia. Dokumen pameran membuktikan bahwa pada tahun 1944, saat posisi militer Jepang mulai terdesak dalam Perang Pasifik, mereka melonggarkan aturan demi meraih simpati rakyat. Jepang akhirnya mengizinkan pembentukan Pancasila pada 1 Juni dan memperbolehkan lagu Indonesia Raya dinyanyikan di publik. Kebijakan ini juga menyertakan perubahan aransemen ketukan (birama) dari bentuk himne 6/4 menjadi lagu mars 4/4,” jelasnya.
Seluruh materi kuratorial dalam pameran sejarah ini menurut Kesit disusun berdasarkan referensi buku-buku babon yang valid. Beberapa di antaranya adalah karya Ruben Remco (Representing the Japanese Occupation in Indonesia), Akira Kurasawa (Kuasa Jepang di Jawa), serta literatur lokal karya Bill Al-Asad mengenai dinamika Kota Semarang.
Hal senada disampaikan oleh Direktur Program Rumah Pohan, Yvonne, Ia menjelaskan bahwa pameran ini berusaha menangkap momentum pergeseran tren di kalangan generasi muda. “Anak muda sekarang melakukan aktivitas ini selain karena suka dengan sejarah, mereka juga ingin dianggap peduli terhadap sejarah. Ada kebanggaan tersendiri. Budaya pop telah bergeser; jika dulu sejarah diidentikkan dengan konsumsi orang tua, kini anak muda melihat dokumen analog dan pameran arsip sebagai sesuatu yang keren. Tanpa perlu upaya luar biasa besar untuk memaksa mereka, arusnya sudah bergerak ke arah sana,” katanya.
Agar pameran tidak terasa monoton, Yvonne menerapkan formula khusus berupa aktivasi harian yang padat selama delapan hari pelaksanaan. Setiap hari diisi dengan kegiatan diskusi atau pemutaran film yang melibatkan komunitas sejarah dan kalangan mahasiswa.
Pada tanggal 2 Juni pukul 15.00 WIB panitia akan menyelenggarakan diskusi khusus yang menghadirkan dua sejarawan terkemuka serta agenda pemutaran film dokumenter. Pertama, Eka Hindra selaku peneliti utama isu Jugun Ianfu di Indonesia yang akan mengajak publik membaca sejarah kelam para wanita penghibur paksa era Jepang dalam konteks kejahatan kemanusiaan internasional. Kedua, Rukardi selaku sejarawan Semarang yang membahas alih fungsi arsitektur kolonial di Semarang, seperti Hotel Oasia, Hotel Singapura, dan The Pavilion yang dialihfungsikan menjadi kamp tahanan militer serta lokasi penampungan paksa pada masa itu.
“Selain diskusi, pihak Universitas Semarang juga turut mengagendakan pemutaran film dokumenter yang membongkar proses pemaksaan dan rekrutmen sistematis para wanita di pinggiran Semarang melalui intimidasi tentara Jepang terhadap para lurah setempat,” ungkap Yvonne.
Pameran dan aktivasi ini terbuka untuk umum secara gratis dan diharapkan dapat menjadi ruang edukasi otentik bagi siapa saja yang ingin melihat sejarah dari dekat. (psw).






