Greget Kenalkan Tari Turangga Ke Siswa Interculture School

Semarang JavaMedia.Id – Sebanyak 118 siswa dan siswi Kelas V (SD) Mentari Interculture School Jakarta, Jumat (8/5/2026) belajar menari Jawa di Sanggar Tari Greget, Jl Pamularsih Semarang. Mereka datang dari Jakarta dalam rangkaian Fied Trip ke Jawa Tengah untuk belajar mengenal budaya Jawa selama 3 hari sejak Rabu (6/5/2026).
Guru Mentari Intersculture School Jakarta sekaligus penanggungjawab rombongan Field Trip, Probo Antoro mengungkapkan kegiatan yang diikuti 118 murid kelas V ini memiliki tujuan mengenalkan budaya Indonesia, khususnya Jawa Tengah kepada para siswa-siswi yang memiliki latar belakang bermacam-macam. Diantaranya mereka ada anak ekspatriat dari Philipina, India, Korea bahkan Timur Tengah.
“Tujuan ini agar mereka memahami budaya yang ada di Indonesia dan menanamkan karakter cinta budaya. Dalam rangkaian kegiatan, sebelumnya kami mengunjungi beberapa museum termasuk Museum Kereta Api Ambarawa untuk belajar dan mengenal sejarah perkereta-apian di Indonesia. Pada kunjungan terakhir, kami mengajak anak-anak mengunjungu Sanggar tari Greget untuk mengenal seni budaya tari Jawa dan sekaligus belajar menari,” ungkap Probo Antoro.
Mentari Interculture School Jakarta menurutnya adalah sekolah internasional yang muridnya berasal dari berbagai daerah, selain dari segara pelosok nusantara juga banyak dari luar negeri. Mereka belajar dalam keseharian menggunakan Bahasa Inggris, selain juga Bahasa Indonesia.
Bagi anak-anak dari luar negara, tentu ini menjadi pengalaman yang unik sekaligus menarik. Banyak mereka yang suka melihat penampilan Kuda Kepang sebagai alat menari ‘Turangga Rimang’ atau Kuda Lumping.
Yoyok Bambang Priyambodo, Pendiri sekaligus Pimpinan Sanggar Tari Greget menyatakan antusias membimbing siswa-siswi tamu sanggarnya.
“Saya sangat semangat, karena ini yang datang anak-anak dari banyak latar belakang, termasuk banyak yang bukan dari Indonesia. Sehingga misi kami adalah bagaimana mengenalkan kesenian dan budaya ini agar mereka menangkap pesan positif yang akan diingat hingga dewasa nanti. Bahkan pengalaman ini nantinya akan menjadi pesan konstruktif untuk promosi seni budaya tanah air,” ujar Yoyok Bambang Priyambodo.
Maestro Tari Tradisional Indonesia ini menyampaikan, yang dikenalkan ke anak-anak antara lain tari ‘Turangga Rimang’ dan ‘Pasar Yaik Semarang’. Kedua tarian ini menggunakan property ‘Jaran Kepang’ dan ‘Tenggok’ atau ‘Tampah’.
“Tariannya sangat sederhana dan mudah dipelajari anak-anak karena tidak rumit. Intinya adalah mengandalkan kekompakan karena termasuk tari massal atau kolosal. Untuk putra menari ‘Turangga Rimang’ menggunakan property ‘Kuda Kepang’. Sedangkan yang putri menari menggunakan tenggok dan tampah terbuat dari anyaman bambu,” ujar Yoyok.
Pembelajaran di Sanggar Tari Greget, selain diajarkan gerak dasar tari, Yoyok juga mengenalkan property menari adalah produk seni dan budaya masyarakat Jawa, khususnya. Jaran Kepang maupun Tenggok atau Tampah adalah terbuat dari bambu yang banyak tumbuh desa. Dibuat menjadi alat permainan dan barang kebutuhan rumah tangga melalui sebuah kreatifitas.
Adapun tari ‘Turangga Rimang’ memiliki makna Kuda yang Lincah. Gerakan tari menggambarkan kelincahan, kekompakan dan ketegaran. “Implementasinya pada penari adalah karakter gagah, kuat, kompak dan lincah. Demikian pula pada tari ‘Pasar Yaik Semarang’ menonjolkan karakter putri penari yang gemulai, ramah namun lincah. Hal ini penggambaran putri Jawa yang berperangai harus, lembut atau andap asor namun bersahaja. Melalui tari ini, tentu kita berharap akan membentuk karakter sesuai tariannya,” tambah Yoyok.
Menari menurut Yoyok menjadi sarana mengolah raga juga batin atau rasa. Oleh karenanya sangat tepat tari dikenalkan oleh anak-anak di usia sekolah dasar sebagai sarana membentuk karakter dan semangat cinta budaya.
“Kiat Mentari Intercurlture School mengenalkan anak didiknya tentang budaya belajar tari sangat tepat, apalagi tari tradisional yang sarat penanaman karakter. Karakter seseorang yang mengenal budaya dan tidak ini akan beda. Apalagi bila mengenal budaya Jawa, tentu akan punya tabiat yang ramah, menjaga sopan santun dan bisa saling menghargai serta menghormati. Karena itu, pada hal-hal yang bertujuan menanamkan budaya serta kearifan lokal, maka kami Sanggar Tari Greget akan tampil terdepan untuk mengawal dan membantu melakukan pembinaan,” ujar Yoyok yang mengaku sudah melahirkan ribuan penari dan ratusan pelatih yang tersebar di berbagai sanggar tari se Indonesia. (DNC)






