Ubah ‘Pusaka’ Menjadi ‘Pustaka’, Kopisoda dan Dinas Arpus Dorong Penyelamatan Naskah Kuno

SEMARANG, Javamedia.id – Gerakan penyelamatan dan pelestarian naskah kuno di Jawa Tengah semakin masif bergulir. Sebagai langkah nyata untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyimpanan, perawatan, dan pelestarian dokumen bersejarah, Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kota Semarang menggelar kegiatan bertajuk ”Sosialisasi Pendaftaran dan Pengembangan Naskah Kuno”.

Acara tersebut dilangsungkan pada Senin, 25 Mei 2026, bertempat di Petra Ballroom, Hotel Noormans Semarang, Jl. Teuku Umar No. 27, Jatingaleh, Kecamatan Gajahmungkur. Di sela-sela agenda sosialisasi yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan pemilik naskah ini, para pengisi acara memaparkan pentingnya sinergi struktural demi menyelamatkan khazanah literasi klasik keagamaan di daerah.

Sekretaris Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat (Kopisoda), Moh. Ichwan Dwi Saputra, mengungkapkan bahwa gerakan literasi ini awalnya murni didasari oleh semangat nguri-uri (melestarikan) dan mengaji kitab-kitab karya ulama besar Nusantara asal Semarang, KH Sholeh bin Umar as-Samarani atau Mbah Sholeh Darat.

“Awalnya kan sifatnya kerja ilmiah agar ajaran beliau semakin dipahami masyarakat luas. Namun lama-lama, kita sadar yang kita urusi ini bukan orang sembarangan, beliau adalah ulama besar yang sangat top,” ujarnya.

Salah satu tantangan terbesar yang dibahas dalam sosialisasi ini adalah adanya kecenderungan di masyarakat untuk menyakralkan dokumen-dokumen lama.

Ahmad Budi Wahyono, S.S. dari Dinas Arpus Jawa Tengah menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih memandang naskah kuno sebagai sesuatu yang harus disakralkan atau dianggap sekadar sebagai ‘pusaka’ atau ‘jimat’. Akibatnya, naskah tersebut sering kali hanya disimpan rapat, tidak boleh dibuka, apalagi dibaca.

“Ini tugas kita semua untuk mengedukasi masyarakat yang masih berpandangan seperti itu, agar naskahnya kini dianggap sebagai ‘pustaka’. Dengan begitu, naskah bisa dibuka, dibaca, dan akhirnya bisa membawa manfaat serta pengetahuan bagi masyarakat luas,” jelas Ahmad Budi Wahyono. Melalui forum edukasi ini, para pemilik naskah kuno diimbau untuk tidak lagi menutup diri dan aktif mendaftarkan koleksi berharga mereka.

Upaya pengarusutamaan naskah kuno ini mendapat dukungan kuat dari pemerintah pusat. Ahmad Budi Wahyono memaparkan bahwa secara nasional, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) rutin memberikan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik yang ditargetkan untuk kegiatan pendaftaran serta digitalisasi naskah kuno.

Di Jawa Tengah sendiri, program penyelamatan ini disambut antusias. Tercatat lebih dari 20 kabupaten dan kota bergerak serentak melakukan pelacakan naskah klasik, baik dengan memanfaatkan dukungan anggaran dari Perpusnas maupun yang di-cover langsung melalui APBD masing-masing daerah.

Sebelum gerakan pelacakan aset literasi ini masif, Dinas Kearsipan umumnya hanya familier dengan koleksi naskah kuno berbahasa Jawa. Namun kini, khazanah pustaka Semarang semakin kaya berkat ditemukannya ratusan naskah keagamaan berbahasa Arab serta Arab Pegon. Bahkan pada tahun lalu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah memberikan dukungan pendanaan untuk proyek penerjemahan kitab-kitab Mbah Sholeh Darat dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

Melalui momentum sosialisasi ini, Kopisoda menegaskan target jangka panjang mereka yang terukur adalah di mana seluruh sekolah, masjid, dan mushola di wilayah Semarang nantinya memiliki dan menyediakan kitab-kitab karya Mbah Sholeh Darat, baik dalam versi asli bahasa Jawa maupun hasil terjemahan bahasa Indonesia.

Di sisi lain, Dinas Arpus Jateng terus memfasilitasi masyarakat pemilik naskah untuk mendaftarkan koleksi mereka ke Perpustakaan Nasional melalui platform digital Kastara. Dengan terdaftarnya naskah-naskah tersebut, akses penelitian akan terbuka lebar bagi para akademisi, isi kandungannya dapat diketahui secara sahih, dan esensi ilmunya bisa dimanfaatkan oleh publik.

“Mbah Sholeh Darat ini adalah awal pemantiknya. Kedepan, momentum sosialisasi ini harus menjadi gerakan masif untuk menelusuri, menyelamatkan, memproduksi kembali, dan menyebarkan khazanah kitab-kitab klasik karya ulama, baik murid-murid Mbah Sholeh maupun ulama generasi 1940-an yang ada di Semarang,” pungkas Moh. Ichwan Dwi Saputra. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *