Krisis Obat ARV di Jawa Tengah Picu Lonjakan Temuan Kasus HIV di Kota Semarang

Semarang, Javamedia.id – Kelangkaan stok obat Antiretroviral (ARV) di sejumlah daerah di Jawa Tengah memicu lonjakan temuan kasus HIV/AIDS di Kota Semarang yang mencapai 800 kasus selama periode Januari hingga Mei 2026. Banyaknya Orang Dengan HIV (ODHIV) dari luar daerah yang bermigrasi untuk memeriksa kesehatan dan mencari obat ke Ibu Kota Jawa Tengah menjadi salah satu faktor utama melonjaknya angka tersebut.

“Hari ini diketahui bahwa obat-obatan ARV untuk HIV di beberapa daerah, termasuk di sekitar Jawa Tengah, banyak yang kosong. Ketika mereka datang untuk mengambil obat atau berobat ke tempat kami, tentu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Itu juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan temuan kasus meningkat,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Abdul Hakam, saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (3/6/2026).

Hakam mengungkapkan bahwa dari total sekitar 800-an kasus yang ditemukan sepanjang lima bulan pertama tahun ini, tidak seluruhnya berasal dari warga Kota Semarang. Bahkan, sekitar 50 persen di antaranya merupakan masyarakat dari luar daerah.

Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat dari luar daerah ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan di Kota Semarang dinilai mudah diakses, nyaman, dan dipercaya oleh masyarakat luas.

Selain faktor migrasi pasien akibat langkanya ARV, peningkatan jumlah kasus ini juga disebabkan oleh semakin masifnya pelaksanaan skrining bagi kelompok berisiko yang difasilitasi oleh pemerintah kota.
Salah satu upaya terobosan yang dilakukan adalah membuka layanan skrining HIV hingga malam hari di sejumlah puskesmas melalui program LIDYA DIMARI (Layanan Tes HIV dan Layanan ARV di Malam Hari).

“Jadi, kawan-kawan dari kelompok risiko kita fasilitasi untuk melakukan skrining pada malam hari. Karena itu, beberapa puskesmas di wilayah dengan kelompok risiko cukup tinggi kami buka hingga malam hari, seperti di Poncol, Pandanaran, Srondol, dan Sekaran,” jelas Hakam.

Tidak hanya pasif menunggu di fasilitas kesehatan, Dinkes Kota Semarang juga melakukan pendekatan aktif (jemput bola) dengan mendatangi langsung lokasi-lokasi yang dianggap sebagai hotspot kelompok berisiko. Menariknya, sebagian besar individu yang terjaring di lapangan tersebut juga diketahui berasal dari luar kota.

Langkah ini diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi nonpemerintah (NGO) yang cakupan kerjanya menjangkau seluruh wilayah Jawa Tengah.

Hakam menjelaskan bahwa hingga saat ini HIV memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, terapi obat ARV yang dijalani secara rutin dan konsisten mampu menekan jumlah virus dalam darah (viral load) hingga tingkat yang sangat rendah.

Ketika jumlah virus berhasil ditekan, sistem kekebalan tubuh yang menjadi sasaran serangan HIV akan berangsur membaik dan kembali menguat. Peningkatan daya tahan tubuh ini dapat diukur dari meningkatnya kadar CD4, yang menjadi indikator penting kekuatan imun seseorang.

“Karena itu, orang yang terinfeksi HIV tetapi tidak mau minum obat akan lebih rentan terkena infeksi bakteri, jamur, parasit, maupun virus lainnya. Tubuhnya tidak memiliki mekanisme pertahanan yang kuat,” beber Hakam.

Ia menambahkan, penyakit yang paling sering muncul pada tahap awal akibat melemahnya imun adalah Tuberkulosis (TBC). Jika kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa pengobatan ARV, infeksi dapat menyebar luas ke organ tubuh lain, termasuk otak.

Di akhir penjelasannya, Dinas Kesehatan Kota Semarang mengimbau keras masyarakat luas agar tidak memberikan stigma negatif maupun tindakan diskriminasi terhadap ODHIV.

Hakam menegaskan bahwa HIV tidak akan menular melalui kontak sosial sehari-hari, seperti: Berjabat tangan atau berpelukan, Berbagi peralatan makan dan minum, Bekerja bersama atau beraktivitas sosial bersama di lingkungan masyarakat.

Dengan konsumsi obat ARV secara teratur sesuai anjuran tenaga kesehatan, ODHIV dipastikan tetap dapat hidup sehat, produktif, dan beraktivitas secara normal.

“Yang paling penting adalah menghilangkan stigma. Stigma membuat teman-teman ODHIV merasa takut, menarik diri, dan menjauh dari lingkungan sosial. Karena itu, kita harus memberikan dukungan kepada mereka,” tegasnya.

Pemerintah Kota Semarang berkomitmen mewujudkan dukungan tersebut lewat penyediaan layanan kontrol, skrining, dan pengobatan yang aman serta nyaman. Namun, Hakam juga mengingatkan agar kedisiplinan medis ini diimbangi dengan kesadaran pasien. “Yang juga perlu diperhatikan adalah perubahan gaya hidup. Jangan sampai sudah rutin minum obat, tetapi gaya hidupnya tidak diperbaiki,” pungkasnya. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *