“MasBro” Semarang Zoo Bertambah! Sepasang Kapibara Sukses Melahirkan Dua Anakan Sehat

SEMARANG, Javamedia.id – Kabar gembira bagi para pencinta satwa “chill” di Kota Lumpia! Koleksi kapibara alias “MasBro” di Semarang Zoo baru saja bertambah setelah sang induk sukses melahirkan dua ekor anakan yang sehat. Kehadiran dua bayi mamalia semi-akuatik yang menggemaskan ini langsung mencuri perhatian dan menjadi magnet baru bagi para pengunjung.
Kehadiran sepasang bayi ini juga menjadi bukti keberhasilan program tukar-menukar satwa yang tidak dilindungi antara Semarang Zoo dengan Taman Satwa Ragunan menjelang pertengahan tahun lalu.
Saat itu, Semarang Zoo mendatangkan satu ekor kapibara jantan dan tiga ekor betina. Menariknya, satwa sitatunga yang didatangkan bersamaan dalam program tersebut juga sudah lebih dulu melahirkan seekor anakan.
Dokter Hewan Semarang Zoo, drh. Nurul Fauziah, mengungkapkan bahwa saat ini anakan kapibara tersebut telah berusia hampir satu bulan dan dalam kondisi yang sangat baik.
“Kondisinya, alhamdulillah sehat, dan masih terpantau diasuh oleh induknya. Tapi belum bisa diketahui jenis kelaminnya kalau hanya dengan melihat saja,” kata Nurul saat ditemui di Semarang Zoo, Kamis (4/6).
Nurul menambahkan, pihak manajemen selalu tertib dalam hal administrasi satwa. Setiap ada kematian maupun kelahiran, pihak Semarang Zoo akan melaporkannya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
“Saat ini administrasi pelaporan tambahan satwa masih kita proses, jadi belum kita laporkan ke BKSDA. Jika ada satwa yang mati, laporan juga akan kita lengkapi dengan hasil autopsi,” jelasnya.
Terkait pemantauan kesehatan, Semarang Zoo menerapkan pemeriksaan rutin secara berkala. Pemeriksaan dilakukan secara fisik langsung serta berdasarkan laporan harian dari para keeper (penjaga satwa).
“Kita melihat keterangan dari para *keeper*-nya, kemudian kita cek sendiri satwanya. Nadi, napas, dan cek fisik. Biasanya kalau ada yang sakit pasti melawan kalau kita pegang,” tambah Nurul.
Selain pemeriksaan fisik, pemberian vitamin dan variasi pakan menjadi faktor kunci dalam menjaga imunitas satwa.
Di sisi lain, Rizky, keeper yang sehari-hari merawat kapibara tersebut, mengaku tidak menemukan kendala berarti selama proses perawatan. Sebagai hewan pengerat terbesar yang sepenuhnya herbivora, kapibara sangat menyukai sayur-sayuran.
“Gampangnya karena hewan pengerat kan, kayak hewan pengerat lain, dia suka sayur-sayuran, full herbivora. Jadi, ikan nila dan lele di kolam tidak dimakan. Ikan-ikan itu justru kita gunakan untuk membersihkan kolam biar tidak ada jentik nyamuk,” ujarnya.
Rizky menceritakan, karakteristik kapibara saat hamil memang tidak terlalu terlihat secara visual. Namun, karena interaksi yang kuat dan kedekatan setiap hari, perubahan bentuk tubuh sang induk tetap bisa dicermati oleh tim keeper.
“Kita tahu dia bunting tapi secara visual memang tidak kelihatan. Kalau anaknya tidak sehat, ya ditinggal, tidak dimakan karena mereka *full* herbivora. Sejauh ini tidak ada kasus begitu di sini, beda dengan tikus atau hamster,” paparnya.
Menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu belakangan ini, tim Semarang Zoo juga memberikan perhatian ekstra pada faktor suhu udara yang menjadi tantangan utama dalam merawat satwa.
“Makanya kita sediakan air (di kolam) buat dia berendam untuk menjaga suhu tubuhnya. Dia kan hewan semi-akuatik,” pungkas Rizky. (Psw)






