Rakorcam PSI Gayamsari: Menuju Target 15 Kursi dan Misi Membangun “Kandang Gajah”

Semarang, Javamedia.id – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kecamatan Gayamsari resmi mengukuhkan kepengurusan baru tingkat kecamatan hingga kelurahan dalam Rapat Koordinasi Kecamatan (Rakorcam) di Hotel Trizz Semarang, Sabtu (27/6/2026) sore.
Momentum ini menjadi langkah awal bagi partai berlambang Gajah tersebut untuk mengoptimalkan mesin politik akar rumput demi merebut target 15 kursi di parlemen sekaligus mengemban misi besar membangun basis kekuatan baru berupa “kandang gajah” di wilayah kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.
Ketua DPC PSI Gayamsari, Siswanto, dalam sambutan pembukanya menyatakan bahwa Rakorcam ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi internal partai di tingkat akar rumput. Agenda penting dalam Rakorcam ini adalah pengukuhan resmi jajaran pengurus DPC PSI Gayamsari oleh pengurus daerah.
Langkah pengukuhan berjenjang ini dilakukan untuk memastikan seluruh struktur kepengurusan dari tingkat kecamatan hingga kelurahan telah resmi terbentuk secara legal formal organisasi. “Saat ini, kepengurusan tingkat kelurahan dilaporkan sudah terpenuhi 100 persen dan didominasi oleh elemen muda,” ungkap Siswanto.
Optimalisasi Mesin Partai Menuju Target 15 Kursi
Sementara itu, Ketua Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) DPW PSI Jawa Tengah, H. Yanuar Muncar, menegaskan bahwa Rakorcam ini merupakan bagian dari rangkaian penguatan struktur hingga ke tingkat terbawah. Menurutnya, kesiapan mesin partai yang optimal dan komplit hingga tingkat RT/RW menjadi kunci utama pemenangan.
“Hari ini kita berusaha untuk melengkapi semua SK, pelangisasi, dan kelengkapan atribut,” ujar Pak Yanuar di sela-sela acara.
Menghadapi kontestasi politik menuju 2029, Yanuar menyebut Kota Semarang sebagai daerah prioritas utama di Jawa Tengah. DPW PSI menargetkan capaian besar sebanyak 15 kursi di Kota Semarang pada pemilu mendatang.
“Kami sangat mawas diri, kami partai baru tetapi kami punya semangat yang tidak kalah dengan partai-partai yang lebih dulu berkuasa. Harapan kami di DPW untuk para kader adalah teruslah ikuti dan peka terhadap keadaan masyarakat dari akar rumput,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya koordinasi berjenjang yang aktif dari tingkat DPRT, DPC, DPD, hingga DPW dalam merespons kondisi sosial masyarakat tersebut.
Senada dengan penguatan mesin partai, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PSI, Muhammad Farchan, M.T., yang turut hadir menekankan bahwa penataan struktur organisasi di tingkat basis adalah fondasi krusial bagi pergerakan jangka panjang.
“Rakorcam ini momentum untuk kita membenahi struktur organisasi di tingkat partai yang basis. Jadi tahapan kita ini sekarang membenahi struktur. Ya, harapannya ke depan ini akan menjadi fondasi,” jelas Farchan.
Ia memberikan pesan khusus kepada seluruh kader untuk senantiasa merapatkan barisan. Farchan menganalogikan kekuatan kebersamaan kader melalui filosofi sapu lidi yang diikat erat, seraya meyakini wilayah Gayamsari memiliki potensi lumbung suara yang besar.
“Rapatkan barisan, kita kan filosofi sapu lidi itu. Ya, kalau diikat ini kan menjadi kuat. Dan saya yakin dapil di sini adalah dapil yang jumlah warganya banyak dan ini bisa menjadi basis kekuatan PSI di Kota Semarang,” tegasnya.
Strategi “Kandang Gajah”
Di sisi lain, Anggota DPRD Kota Semarang dari PSI, Benediktus Narendra Keswara atau yang sering dipanggil Bro Narend, dalam pengarahan strategisnya menekankan pentingnya transisi wilayah dari basis perpolitikan lama menjadi wilayah pergerakan baru, yang dianalogikannya sebagai upaya membangun “kandang gajah”.
“Kita tahu bagaimana kuatnya peta politik lama di Kota Semarang. Namun sekarang, kita bersiap beralih dan membangun kekuatan baru di sini, khususnya di Gayamsari,” kata Pak Narend.
Ia mengingatkan seluruh kader untuk meninggalkan ego sektoral dan mengedepankan asas keguyuban melalui pola pergerakan yang saling merangkul, bukan memukul. Bro Narend juga mengimbau agar narasi atau konflik terkait basis politik lama tidak diekspos secara berlebihan ke publik agar fokus tetap pada penguatan internal.
Selain masalah soliditas, Narend pun menyoroti mentalitas pergerakan yang kerap bergantung pada ketersediaan logistik. Ia meminta kader Gayamsari menunjukkan pembeda dengan tetap maksimal menyerap aspirasi warga di tengah keterbatasan modal awal.
Dengan dominasi anak muda di struktur kepengurusan saat ini, ia optimistis idealisme dan energi kepemudaan tersebut akan menjadi motor penggerak yang tidak mudah digoyahkan oleh intervensi luar. (Psw)






