Jamin Kontinuitas Pasokan, Jargas PGN Jadi Solusi Dapur Restoran Modern di Semarang

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Kepastian pasokan energi yang stabil dan mengalir tanpa henti menjadi kunci utama kelancaran operasional dapur di industri kuliner modern. Hal tersebut dirasakan langsung oleh Portobello, resto kuliner populer penyaji aneka pizza, makanan, dan minuman di Semarang, yang mengandalkan Jaringan Gas (Jargas) PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk menjamin kontinuitas proses memasak sehari-hari.
“Pasokannya unlimited, jadi staf dapur kami tidak perlu khawatir kehabisan gas di tengah-tengah jam operasional yang padat. Ini menjadi alasan utama kami mantap beralih ke Jargas PGN sejak 2020 lalu,” kata Finance & HR Leader Portobello, Ayang Ardiana Susilawati, saat ditemui di kedai Portobello, Jalan Halmahera Raya No. 11 A, Semarang.
Ayang, atau yang akrab disapa Nana, menjelaskan bahwa selain menjamin kelancaran dapur, penggunaan Jargas PGN juga membawa dampak efisiensi biaya operasional yang sangat signifikan.
“Perbedaannya sangat terasa. Dulu saat masih memakai LPG 50 kilogram, kami bisa menghabiskan 8 sampai 9 tabung per bulan dengan biaya sekitar Rp3 juta. Sekarang dengan PGN, saat ramai (high season) tagihannya hanya sekitar Rp1,2 juta, dan kalau sepi (low season) bahkan tidak sampai Rp1 juta. Penghematannya bisa mencapai 30 persen,” papar Nana.
Ia menambahkan, keandalan pasokan PGN sangat mendukung kinerja dapur utama (central kitchen) Portobello yang mengoperasikan enam tungku biasa, dua kompor high pressure, dan satu unit oven.
“Meski oktan PGN sedikit di bawah LPG sehingga butuh penyesuaian di tarikan api pertama saat pagi hari, secara keseluruhan kualitas dan tekanan apinya sama bagusnya. Memasak menu andalan seperti pizza Stromboli dan Calzone tetap cepat, hanya butuh waktu 5 sampai 7 menit,” jelasnya.
Dari sisi keselamatan dan pelayanan, manajemen Portobello merasa tenang karena jaringan PGN didukung oleh pemantauan berkala dari tim teknis.
“Setiap malam saat tutup, kami punya SOP wajib mematikan keran utama pipa gas. Petugas PGN juga rutin datang satu sampai dua kali sebulan untuk cek meteran dan instalasi. Biaya instalasi awal sekitar Rp6 juta juga sangat sepadan karena bisa disusutkan per tahun,” tambah Nana.
Pengalaman Portobello dalam menjaga keandalan dapur ini sejalan dengan komitmen PGN yang terus memperluas jaringan pemanfaatan gas bumi bagi sektor komersial dan UMKM di Jawa Tengah.
Area Head Semarang PGN, Sugianto Eko Cahyono, menegaskan bahwa kontinuitas pasokan 24 jam menjadi prioritas PGN dalam melayani pelaku usaha kuliner.
“Untuk usaha seperti restoran, katering, dan UMKM kuliner, faktor-faktor seperti kontinuitas pasokan yang terjamin, kemudahan penggunaan, efisiensi biaya hingga 30 persen, serta aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam sosialisasi kami,” kata Sugianto.
Sugianto menambahkan, tren beralihnya pelaku usaha ke Jargas terus menunjukkan peningkatan yang pesat.
“Pada tahun 2024 ke 2025 kemarin ini pertumbuhan pelanggan di Jawa Tengah cukup pesat, dapat mencapai 25 persen dari jumlah eksisting. Saat ini total pelanggan kami sudah mencapai 22.099 yang mencakup sektor rumah tangga, industri, komersial, hingga usaha kecil dan menengah,” ungkapnya.
Untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha, PGN terus memperluas infrastruktur baik melalui jaringan pipa maupun solusi beyond pipeline.
“Saat ini kami berfokus untuk perluasan dan akuisisi pelanggan di area tengah kota Semarang serta beberapa kawasan industri baik di Semarang, Demak, Kendal, dan Batang. Kami juga sudah bekerja sama dengan beragam Horeka (hotel, restoran, kafe) di daerah Semarang, Sleman, dan Jogja,” pungkas Sugianto. (psw).





