Siap Jadi Destinasi Edukatif, 5 Stasiun Lawas di Jakarta Ini Bakal Dipercantik KAI Wisata

JAKARTA, Javamedia.id – Lima stasiun lawas di Jakarta yang selama ini lekat dengan hiruk-pikuk kaum komuter, siap bersolek menjadi destinasi wisata sejarah yang memikat. Melalui tema besar “Perjalanan Bersejarah dari Ibukota Kolonial di Jalur Keemasan Hindia Belanda”, PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) berkomitmen menghidupkan kembali narasi masa lalu stasiun-stasiun cagar budaya tersebut agar bukan sekadar tempat transit, melainkan ruang publik yang edukatif bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Langkah nyata dari komitmen ini diawali dengan kunjungan kerja Komisaris Utama KAI Wisata, Suria Ati Kusumah, ke Stasiun Jakarta Kota atau yang secara historis dikenal sebagai Stasiun Beos Lama, Jumat (3/7/2026). Kunjungan ini difokuskan pada pemetaan potensi Stasiun Jakarta Kota yang mengusung subtema “Awal Perjalanan Batavia Modern”.

Sebagai gerbang utama Batavia pada masa Hindia Belanda, stasiun ini merekam jelas peralihan transportasi dari era kolonial menuju kemandirian modern Indonesia.

Sejarah Stasiun Beos
Sebelum berdiri kokoh seperti sekarang, area ini merupakan tapak dari stasiun lama bernama Batavia Zuid. Bangunan yang berdiri saat ini diresmikan pada tahun 1929 dan sempat menyandang predikat sebagai salah satu stasiun termegah di Asia Tenggara.

Dirancang oleh arsitek Belanda dengan gaya Art Deco yang ikonik, bangunan ini menghadirkan inovasi teknik sipil pada zamannya berupa atap bentang lebar tanpa tiang penyangga tengah. Nama BEOS sendiri berakar dari Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang mengelola jalur timur Batavia.

Pada era kolonial, stasiun ini menjadi “wajah pertama” ibu kota yang menyambut para pejabat, pedagang, dan wisatawan dari berbagai daerah seperti Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Merak. Setelah Proklamasi 1945, stasiun ini beralih fungsi menjadi medan perjuangan ketika para pegawai kereta api Indonesia mengambil alih aset perkeretaapian dari tangan Jepang.

Kini, selain melayani pergerakan penumpang modern mulai dari era lokomotif uap, diesel, hingga KRL, keindahan arsitektur Stasiun Jakarta Kota yang berhadapan langsung dengan kawasan Kota Tua menjadikannya pintu gerbang pariwisata sejarah sekaligus lokasi favorit untuk industri kreatif, seperti pembuatan film dan video musik.

“BEOS bukan sekadar stasiun, tetapi gerbang yang menyambut jutaan perjalanan selama hampir satu abad—mulai dari pedagang di masa kolonial, pejuang kemerdekaan, para perantau, hingga komuter Jakarta masa kini,” ujar Suria Ati Kusumah di sela-sela kunjungannya.

Gandeng Empat Stasiun Lain
Selain Stasiun Jakarta Kota, KAI Wisata mengidentifikasi empat stasiun bersejarah lain di bawah bendera jalur emas perkeretaapian yang akan segera ditinjau dan dikembangkan narasinya, yaitu:

  • Stasiun Tanjung Priok sebagai Gerbang Perdagangan Dunia yang Dibangun sebagai urat nadi yang menghubungkan pusat kota Batavia dengan pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, menjadi jalur krusial pengangkutan hasil bumi Nusantara ke pasar global.
  • Stasiun Manggarai yang dulu berfungsi sebagai pusat pengendalian perjalanan kereta api di Batavia sejak awal abad ke-20 hingga mempertahankan perannya sebagai salah satu stasiun tersibuk di Indonesia saat ini.
  • Stasiun Jatinegara yang menjadi Gerbang Menuju Pulau Jawa. Dahulu bernama Meester Cornelis, stasiun ini menjadi simpul utama penghubung Batavia dengan kota-kota besar di pedalaman Jawa.
  • Stasiun Bogor yang Menjadi pintu masuk menuju Buitenzorg yang merupakan kawasan peristirahatan para Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Istana Bogor, dan Kebun Raya Bogor.

Suria menjelaskan bahwa kelima stasiun ini dipilih karena memiliki nilai arsitektur tinggi dan peran strategis yang unik dalam membentuk lanskap sejarah ibu kota.

“Melalui inisiatif ini, kami ingin menjadikan stasiun-stasiun bersejarah sebagai pusat sejarah dan destinasi wisata heritage yang menarik. Perjalanan ini bukan sekadar melintasi lima stasiun, kita sedang menyusuri jejak bagaimana rel kereta membentuk perkembangan peradaban, kota, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” pungkas Suria.

Langkah konkret KAI Wisata ini diharapkan dapat memperkuat identitas Jakarta sebagai destinasi wisata heritage yang kaya cerita, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga aset cagar budaya bangsa. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *