Asyiknya Memotret Dengan Kamera Film Retro

Semarang JavaMedia.Id – Dunia fotografi dewasa ini memang sudah bekembang dengan sangat pesatnya. Teknologi digital telah mengubah segalanya demi kepraktisan dan kualitas hasil yang sempurna.

Dulu kita mengenal kamera menggunakan film sebagai materi dasar gambar negatif. Untuk mendapatkan gambar positif, film harus diposes developing (pengembangan gambar) atau istilahnya PO (Proses) dengan larutan kimia. Setelahnya, untuk mendapatkan gambar film harus dicetak melalui proses enlarging di ruang gelap. Semua ini tentunya melalui proses panjang yang memakan waktu dan butuh ketelitian.

Sekarang, di era digital, orang sudah tidak butuh lagi film. Mereka Cuma butuk memori card sebagai pengganti film yang mampu menyimpan ratusan, bahkan ribuan data gambar. Berbeda dengan film yang hanya mampu merekam maksimal 38 gambar dalam 1 rol.

Fd2d2a93 d147 43ca 9554 247399eacea0Yang membedakan lagi, adalah Kamera Digitar yang digunakan menawarkan banyak ukura n kepekaan daya rekam sensor, dari Asa rendah hingga tinggi. Berbeda dengan film yang hanya menawarkan satu nilai kepekaan saja.

Pendek kata, teknologi digital selain mampu memangkas durasi waktu proses fotografi, juga memangkas beaya serta menjamin mutu yang lebih baik karena bantuan teknologi.

Pertanyaannya sekarang, apakah Fotografi Menggunakan Film atau Analog ditinggalkan begitu saja ?. Pada awal perkembangan teknologi Fotografi Digital, penggunaan film serasa mulai ditinggalkan. Namun fenomena sekarang, orang justru berbondong-bondong mulai melirik Fotografi Analog karena memenuhi sensasi dan suka dengan karakter film.

Chandra Adhie Nugroho, seorang praktisi fotografi di Semarang mengaku masih sering berkutar dengan fotografi analog. Pengajar Fotografi yang juga wartawan foto di sebuah media besar Yogyakarta ini menggeluti dunia fotografi sejak tahun 1980an, dimana fotografi masih menggunakan film. Aneka jenis kamera dari Pointshoot, Rangefinder, Twins Lens Reflex hingga Slingle Lens Reflex dia kuasai dengan baik. Bahkan sampai sekarang semua kamera yang dimilikinya sejak awal mengenal dan belajar fotografi masih disimpannya, termasuk film dan hasil potretannya.

“Memang fotografi semua sudah serba digital, ini karena tuntutan jaman. Fotografi sudah terintegrasi dengan dunia digital, terutama internet yang serba cepat dan smart. Bahkan alat komunikasi seperti telepon sudah memiliki fasilitas fotografi dan videografi yang mampu menghasilkan gambar luar biasa.

870ab65f 7779 4850 aece 3da6281ca53dSemua dapat menghasilkan karya yang sulit dilakukan Kamera SLR Digital, apalagi Analog. Ketajamannya, Saturasi Warnanya, hingga Resolusinya. Pengguna juga dapat langsung mengintegrasikannya dengan aplikasi editing yang menawarkan banyak kreasi,” ujar Chandra AN.

Dibalik kecanggihan teknologi, diakui Chandra AN ada juga orang yang rindu ‘kembali’ ke masa lalu. Memotret menggunakan teknologi lama. Kamera Analog, Film dan dukungan asesoris jadul lainnya.
“Mereka umumnya untuk antik-antikan saja. Disaat semua orang pingin ringkas, ada juga yang ingin bersusah-susah. Beli film, memotret dengan jumlah terbatas, memproses film, lalu memilih satu per satu untuk dicetak. Semua yang kadang dianggap susah dan repot ini, ternyata bagi mereka sebagai bentuk keasyikan tersendiri,” ujar Chandra AN yang hingga sekarang ini sering ditunjuk sebagai Juri Lomba Foto ini.

Pria yang pernah bergabung sebagai Pewarta Harian Kompas untuk Jateng & DIY ini sering didatangi anak-anak muda yang ingin belajar fotografi analog. Mereka datang untuk ‘ngangsu kaweruh’ bab fotografi di rumahnya. Apalagi di rumahnya wilayah Semarang Barat juga menyimpan banyak perlengkapan fotografi analog, dari berbagai jenis kamera, film, enlarger hingga asesoris lainnya.

“Ya saya dari kecil suka fotografi, kebetulan aktif memotret dan berteman dengan banyak tokoh fotografi sehingga ini menjadikan pengalaman tersendiri yang perlu ditularkan pada adek-adek yang minat belajar,” ungkapnya.

Memotret menggunakan Kamera Analog menurutnya harus menguasai dasar fotografi. Sebab kamera analog sebatas fungsi merekam. Penyetelan Diafragma, Kecepatan, Rentang Lensa, Eksposure, Angle dan kreasi lainnya ditentukan oleh operatornya. Sedangkan pada kamera digital, semua bisa terukur secara otomatis. Bahkan kamera tertentu juga sudah banyak yang menawarkan simulasi pilihan karakter gambar. “Maka disinilah bedanya fotografer analog dengan digital. Kalau motret menggunakan analog, kita baru tahu hasilnya setelah diproses, kalau digital bisa langsung dilihat dan diulang bila gagal. Makanya fotografer analog butuh ketelitian,” ujarnya.

64c433fd eeba 46bf a4e6 33551caf2657Chandra mengajarkan bahwa memotret dengan kamera analog menekankan pada konsep dan perencanaan yang matang. Selain butuh alat yang ‘sehat’. Misalnya lensanya bersih, juga memiliki alat pengukur cahaya (lightmeter) yang tepat.

Film juga harus sesuai ukuran ASAnya. Kalau pun tidak ada ASA tinggi, bisa disiasati dengan Teknik Push Film pada saat proses developing. Ini pun menurut Chandra ada rumusnya.
Oleh karena itu, disinilah letak perbedaannya bagi sang fotografer. Pemotret menggunakan Kamera Analog dituntut memiliki skill. Foto-fotonya lebih terkonsep karena keterbatasan jumlah Expose. Beda dengan kamera digital yang memudahkan untuk ‘happy shoot’, memotret dengan banyak frame atau membrondong moment.

Dari segi hasil, gambar yang dihasilkan film memiliki karakter ‘grainee’ atau terdapat butiran seperti pasir harus bila dibesarkan. Semakin menggunakan ASA tinggi maka butirannya semakin kasar. Lebih-lebih bila pasa saat developing menggunakan larutan dengan suhu hangat atau panas. Semakin panas maka semakin kasar.

“Butiran ini umumnya sengaja diciptakan agar foto terkesan dramatis. Umumnya pada foto-foto hitam putih. Sebab foto hitam putih umumnya yang diinginkan adalah kontras agar dramatis. Meski bisa dilakukan editing melalui aplikasi atau computer, umumnya fotografer analog saat memotret menggunakan bantuan filter Merah, Hijau atau Kuning untuk menghasilkan kontras yang diinginkan”.

7c3208a3 e991 4bcb b74d 7b1f802119e0Ada hal yang menarik dalam memotret menggunakan kamera analog. Umumnya yang hendak dicapai adalah hasil gambar yang ‘retro’, atau mirip foto jaman jadul. Salah satunya warnanya tidak begitu kontras sengan saturasi baik yang banyak dihasilkan kamera digital. Boleh dikata miscolor. Ini bisa jadi karana lensanya memang belum Multicoated, atau karena film expired, dan atau juga larutan kimua yang digunakan sudah ‘over use’. “Semua ini memang disengaja untuk hasil yang tampak jadul dan tak sempurna banget. Jadi ya aneh, kalua dulu yang kita anggap mis atau kegagalan, sekarang justru itu lah yang diminati,” kata Chandra.

Dunia fotografi memang tak akan pernah terhenti. Selama ada kehidupan, menurut Chandra fotografi akan terus eksis. Namun menurutnya, tidak banyak yang sadar bahwa karya fotografi adalah karya monumental yang harus diselamatkan untuk masa depan.
“Apa yang kita lihat sekarang, tak akan dapat dilihat di masa lalu. Kecuali bila kita mengabadikannya untuk anak-cucu kita,” pungkas Chandra AN. (Gam)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *