Harga Tepung Beras Naik, Pelaku UMKM Tercekik

Tengaran JavaMedia.Id – Tingginya harga beras pecah lokal yang memicu kenaikan harga tepung beras telah berimbas pada para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) seperti industri kue rumahan dan kue tradisional.
Sejumlah pelaku usaha akhirnya terpaksa terpaksa menyiasati dengan menaikkan harga, mengecilkan ukuran kue, bahkan sampai harus berhenti berproduksi.
Selama ini kebutuhan bahan baku tepung beras industri dipenuhi dari beras pecah impor karena harganya relatif lebih murah. Namun adanya kebijakan penghentian impor beras untuk kebutuhan konsumsi maupun industri, produsen tepung beras kini beralih menggunakan beras pecah lokal yang harganya lebih tinggi.
Pelaku usaha penggilingan padi mengaku, harga beras pecah lokal saat ini berada di kisaran Rp 10.000 hingga Rp 11.000/kg. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga beras pecah impor yang tercatat dalam data perdagangan internasional.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) sektor ekspor-impor, harga beras pecah impor per Desember 2025, berada pada kisaran 0,341–0,365 dolar AS atau setara Rp 5.737 hingga Rp 6.141/kg.
Riyanto Jokonur, pemilik penggilingan UD Sekar Putri di Klaten, Jawa Tengah, mengatakan bahwa ia menjual beras pecah broken 1 dengan harga Rp 11.000 /kg. “Broken satu kualitasnya paling bagus dari beras premium. Beras ini kita stok dan dijual ke pabrik-pabrik tepung,” katanya, Selasa (31/3/2026).
Perbedaan harga beras pecah lokal yang lebih tinggi dibanding beras pecah impor berpotensi memengaruhi biaya produksi industri tepung beras. Terutama apabila pihak industri harus sepenuhnya menggunakan beras pecah lokal yang berdampak pada kenaikan harga tepung beras di pasaran.
Dampak penggunaan beras pecah lokal untuk pembuatan tepung beras mulai dirasakan para pelaku UMKM yang memproduksi kue rumahan di berbagai daerah. Kenaikan harga bahan baku memaksa mereka melakukan penyesuaian agar usaha kuenya tetap berjalan.
Jumiati, pemilik usaha kue “Berkah Snack” di Kliwonan, Sugihan, Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memaparkan bahwa harga tepung beras kemasan yang biasa ia gunakan mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga per karton isi 20 bungkus kemasan 500 gram saat ini mencapai Rp 158.500 atau Rp 15.850 per kg, dari semula Rp14.000 per kg.
Kenaikan ini terasa memberatkan karena tepung beras merupakan bahan baku utama berbagai produk camilan keripik yang ia produksi, seperti keripik tempe, keripik pare dan keripik bayam dengan kebutuhan mencapai sekitar dua kuintal per hari.
“Tepung beras naik sejak akhir Januari 2025. Kami terpaksa menaikkan harga jual keripik sebesar Rp 2.000 per bal,” ujar Jumiati.
Ia mematok harga Rp 90.000 per bal untuk keripik bayam (berat 2,5 kg), dan Rp 75.000 per bal untuk keripik tempe dan keripik pare (berat 1,75 kg). Produk Berkah Snack dipasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Solo, Semarang, Ungaran, dan Boyolali, dengan pendapatan rata-rata Rp20 juta per minggu dengan mempekerjakan 12 karyawan.
“Semoga harga tepung beras kembali normal. Karena berat buat kami sebagai UMKM,” tambahnya.
Kenaikan harga tepung beras menjadi tantangan bagi keberlangsungan UMKM kuliner yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan baku. Para pelaku usaha berharap adanya solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara kebijakan pengelolaan beras nasional dan keberlanjutan usaha kecil. Mereka hanya berharap agar UMKM tetap dapat berproduksi, menjaga kualitas dan daya saing produknya di pasaran. (DNC)






