Menyisir Kedamaian di Menara Tertinggi: Pesona Estetis dan Magis Pagoda Avalokitesvara Watugong

Semarang, Javamedia.id – Deru kendaraan di jalur utama Semarang–Solo seketika meredup begitu melangkah memasuki gerbang Vihara Buddhagaya Watugong, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang. Di sinilah berdiri kokoh Pagoda Avalokitesvara, sebuah mahakarya arsitektur yang tidak hanya menjadi pusat peribadatan, tetapi juga magnet wisata religi utama di Jawa Tengah.
Bagi wisatawan yang mencari perpaduan antara ketenangan batin dan visual yang megah, pagoda yang populer dengan nama Pagoda Watugong ini menawarkan atmosfer yang sulit ditemukan di sudut kota lainnya.
Di balik kemegahannya saat ini, kompleks Vihara Buddhagaya Watugong menyimpan narasi sejarah yang sangat kuat. Berdirinya tempat ibadah ini tidak lepas dari sosok Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, tokoh penting yang memelopori kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia setelah berabad-abad redup pasca-keruntuhan Kerajaan Majapahit.
Pada tahun 1955, seorang peny some (dermawan) lokal bernama Thiong Tiang King tergerak oleh misi suci Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Ia kemudian menghibahkan tanah miliknya di kawasan Watugong untuk didirikan vihara.
Nama “Watugong” sendiri diambil dari keberadaan sebuah batu alam unik menyerupai gong yang berada di kawasan tersebut, yang hingga kini masih dikeramatkan.
Sempat mengalami masa vakum selama beberapa dekade, kompleks ini mengalami pemugaran besar-besaran di bawah kepemimpinan Sangha Agung Indonesia pada awal tahun 2000-an. Puncaknya, pada 22 November 2005, Pagoda Avalokitesvara resmi dibuka. Hal ini menandai babak baru kawasan ini sebagai episentrum wisata religi bertaraf nasional di Kota Semarang.
Berdiri setinggi 45 meter, bangunan tujuh tingkat ini sempat dinobatkan oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pagoda tertinggi di tanah air. Dominasi warna merah menyala dan aksen emas khas arsitektur Tiongkok langsung menyapa mata, kontras dengan latar langit biru dan rindangnya pepohonan sekitar.
Di setiap tingkatan pagoda, terdapat aksesori lonceng angin yang berdentang lembut setiap kali tersapu angin perbukitan, menambah kesyahduan kompleks vihara.
“Datang ke sini seperti sedang tidak di Semarang. Suasananya sangat tenang, arsitekturnya luar biasa detail, dan udaranya relatif sejuk karena berada di kawasan atas,” ujar salah satu pengunjung lokal.
Melangkah ke bagian dalam pagoda, pengunjung akan disambut oleh Patung Dewi Kwan Im (Avalokitesvara) setinggi 5,1 meter yang berdiri anggun. Patung ini memancarkan aura welas asih, mengundang decak kagum sekaligus rasa hormat dari siapa saja yang memandangnya.
Selain bangunan utama pagoda, daya tarik yang tak kalah memikat di kompleks ini adalah:
- Pohon Bodhi yang Rindang: Di dekat pagoda, terdapat pohon Bodhi yang besar dan teduh, tempat yang sering digunakan pengunjung untuk duduk sejenak menikmati ketenangan.
- Ritual Tjiam Si: Bagi yang tertarik dengan tradisi, wisatawan sering kali melihat atau bahkan mencoba ritual ramalan kuno menggunakan bambu yang dikocok.
- Spot Foto Estetis: Setiap sudut pagar, relief naga, hingga anak tangga dirancang dengan nilai estetika tinggi, menjadikannya latar favorit bagi para pemburu foto bernuansa oriental.
Sebagai salah satu simbol toleransi dan kekayaan budaya di Semarang, Pagoda Avalokitesvara Watugong membuktikan bahwa keindahan sejati lahir dari harmonisasi antara spiritualitas, sejarah, dan alam yang terjaga. (Psw)






