Ritual Melasti di Pantai Marina, Prosesi Penyucian Diri dan Alam Sekitar

Semarang, Javamedia.id – Ratusan umat Hindu peserta ritual Melasti berpawai menuju bibir pantai marina, Minggu (15/3) pagi. Para wanita mengenakan kebaya putih dengan bawahan dan selendang warna kuning, sedangkan para lelaki memakai kemeja putih dengan kain udeng di kepala. Mereka membawa berbagai sesaji dan simbol-simbol suci dari pura.
Prosesi Melasti tersebut adalah rangkaian awal perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang dilakukan oleh Umat Hindu. Dalam ritual itu, umat mengiring atau Ngiring Ida Bhatara, simbol manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, menuju samudra untuk disucikan.
Sesampainya di bibir pantai, prosesi dilanjutkan dengan penyambutan Tirta Baruna, air suci yang berasal dari samudra dimaknai sebagai sumber kehidupan. Dalam momen sakral itu, ibu-ibu Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Semarang mempersembahkan Tari Rejang Sudamala. Tarian sakral tersebut melambangkan penyucian kotoran atau energi negatif yang melekat pada manusia dan alam.
Ketua Panitia Perayaan Hari Nyepi Kota Semarang I Dewa Made Artayasa menjelaskan, Melasti memiliki makna penyucian bagi manusia dan alam semesta. “Melasti itu menyucikan buana alit dan buana agung. Buana alit adalah diri manusia, sedangkan buana agung adalah alam sekitar,” ujarnya.
Melalui ritual tersebut, umat memohon tirta atau air suci kepada Dewa Baruna sebagai penguasa samudra. Air suci itu menjadi simbol pembersihan dari berbagai kotoran lahir dan batin sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.
“Maknanya membersihkan kotoran dalam diri manusia, yaitu dosa dan perilaku negatif yang pernah kita lakukan,” jelasnya.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang I Ketut Puja mengatakan, Melasti tahun ini diikuti umat Hindu dari Kota Semarang dan sejumlah daerah sekitar. Beberapa daerah yang sebelumnya mengikuti kegiatan di Semarang kini melaksanakan Melasti di lokasi lain.
“Beberapa kota seperti Kudus, Pati, dan Demak sekarang mengikuti kegiatan di Jepara. Jadi di sini terlihat sedikit lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Meski begitu, menurut dia, kondisi tersebut tidak mengurangi kekhidmatan upacara. Sebab inti dari Melasti adalah pembersihan spiritual sebelum umat menjalani Hari Raya Nyepi.
“Melasti bermakna pembersihan. Bukan sekadar tradisi, tapi proses spiritual sebelum kita memasuki Nyepi,” jelasnya.
Setelah Melasti, rangkaian perayaan Nyepi masih berlanjut. Pada 18 Maret 2026 umat Hindu akan melaksanakan Tawur Kesanga, ritual penyeimbangan alam. Puncaknya berlangsung pada 19 Maret 2026 saat umat menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam, tidak menyalakan api, tidak bekerja, bepergian, serta tidak menikmati hiburan. Semua aktivitas dihentikan untuk melakukan introspeksi diri.
“Nyepi pada dasarnya adalah introspeksi diri. Kita melihat apa yang sudah dilakukan dan memperbaikinya untuk masa depan,” kata Puja.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Semarang yang memfasilitasi lokasi kegiatan yang lebih tertata dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat di Bali, kegiatan budaya seperti ini menjadi aset pariwisata. Harapannya ke depan fasilitas di sini semakin baik sehingga bisa memberi kontribusi bagi pariwisata Kota Semarang,” katanya.
Sementara itu Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Semarang R. Wing Wiyarso Poespojoedho, sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan tersebut sebagai bukti nyata keberagaman yang hidup di Kota Semarang. Menurutnya, kehadiran umat Hindu dari berbagai daerah menunjukkan, bahwa Semarang merupakan kota yang menghargai kebersamaan dan keberagaman.
Wing menambahkan, pada 2026 beberapa hari besar keagamaan dari berbagai agama berlangsung hampir bersamaan. Namun kondisi itu justru bisa memperkuat toleransi di Kota Semarang.
“Ketika perayaan hari agama dilaksanakan di Semarang, kegiatan itu didukung bahkan ada keterlibatan dari teman-teman umat agama yang lain,” ujarnya.
Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan Semarang sebagai kota yang inklusif dan kondusif. (Psw)






