Tim Pemburu Mayat, Relawan Unik Yang Dimiliki Kota Semarang

Semarang JavaMedia.ID -Ada sebuah pekerjaan, namun bukan termasuk profesi. Tidak bergaji, namun disukai. Dia lah ‘Pemburu Mayat’. Sekilas tampak aneh, namun begitulah kenyataannya.
Pemburu Mayat adalah sebutan bagi Tim Relawan yang memberikan tenaganya secara sukarela untuk menangani mayat yang ‘bermasalah’. Boleh dikata mayat yang ditemukan karena menjadi korban kecelakaan maupun mati tak wajar.
Tim Pemburu Mayat ini ada di Kota Semarang, beranggotakan 6 orang yang aktif sering membantu kinerja Inafis Polrestabes Semarang dalam menangani penemuan mayat.
“Kami bertemu secara tidak sengaja karena kepedulian. Melihat mayat korban kecelakaan membuat kami tergerak untuk membantu menangani. Mengangkatnya ke mobil jenasah, bahkan menjumputi bagian yang tercecer untuk menyatukannya pada korban kecelakaan,” ujar Pak Uban, yang akhirnya dinobatkan sebagai Koordinator Tim.
Hanya berbekal radio Handy Talky, Tim Pemburu Mayat ini memantau kabar. Manakala terdengar berita kecelakaan dari Frekuensi Emergensi, mereka langsung meluncur. “Biasanya informasi kejadian kecelakaan yang terdapat korban luka parah maupun meninggal dunia, termasuk orang hanyut atau tertabrak kereta api, “ saut Heri 4 Ambon, anggota lain.
Karena kerap berada di lokasi kejadian dan membantu tugas Inafis, maka Tim ini menjadi mitra setia Inafis Polrestabes Semarang. Tim ini bekerja sesuai SOP yang diterapkan dalam kepolisian. Apabila tiba lebih awal maka tindakannya adalah ikut serta membantu mengamankan lokasi penemuan mayat.
“Kalau terindikasi korban pembunuhan atau kecelakaan, maka yang harus kami lakukan adalah mengamankan lokasi guna penyelidikan lebih lanjut oleh kepolisian. Sebisa mungkin kami amankan agar jangan sampai banyak orang masuk lokasi hingga membuat jejak baru yang dapat mengaburkan penyelidikan. Setelah pihak kepolisian datang dan selesai melakukan penyelidikan, baru kami membantu melakukan penanganan mengangkat atau memindahkannya ke kantong mayat dan membawanya ke mobil jenasah,” ujar Heri.
Tentang suka duka, menurut Heri tentu banyak dukanya. Setiap membawa jenasah, dirinya sering terbawa perasaan tidak tega dan kasihan. Heri sering membayangkan apabila itu terjadi pada sanak keluarganya. Karena rata-rata mayat yang dibawanya ada yang meninggal dan baru ditemukan setelah beberapa hari dan dalam kondisi membusuk bahkan rusak. Umumnya gelandangan atau orang yang sakit dan hidupnya sebatang kara.
Perasaan suka menurut Heri karena dapat membantu. “Pernah suatu kali setelah membantu menangani mayat, saya bermimpi didatangi sosok seperti mayat tersebut, Tapi dia datang dengan wajah yang sehat, berseri dan tersenyum menyampaikan terima kasih.
Mereka memeluk saya dan melambaikan tangan saat pergi. Begitu terbangun dari tidur, saya baru sadar bahwa yang muncul dalam mimpi tersebut adalah sosok yang sama persis dengan jasad yang saya bantu,” kisah Heri.
Pengalaman Heri ini ternyata tidak satu dua kali, melainkan sering. Namun semua dialaminya dalam mimpi.
Pak Uban pun juga punya pengalaman sama. Anehnya tak ada satupun pengalaman mimpi buruk. Misalnya didatangi dalam mimpi dengan wajah yang berdarah-darah.
Heri maupun Pak Uban meyakini bahwa apa yang selalu datang di mimpinya sebagai ungkapan terima kasih. Antara nyata atau tidak, namun itu tetap diyakini sebagai cara komunikasi mereka.
Dari awal berdiri yang cuma 6 orang, kini anggota Tim Pemburu Mayat berkembang menjadi 18 orang, diantaranya Pak Uban, Heri 4 Ambon, Muji Pras,Udin, Ronnie Kurniawan, R Teguh, Udin, Erma dan beberapa lainnya.
Para anggota Tim Pemburu Mayat ini umumnya pekerja non formal. Bahkan sebagian besar adalah penarik Ojek Online.
Seperti Heri, pernah saat mengantar penumpang, tiba-tiba menerima kabar adanya penemuan mayat. Maka setelah sampai tujuan pengantaran, dia langsung bergegas menuju lokasi penemuan. Dan yang uniknya lagi, di dalam jog motornya, Heri selalu membawa kantong tempat mayat. Termasuk yang dilakukan Pak Uban, Ronnie dan anggota lainnya, harus siap Kantong Mayat.
Menolong adalah kata kunci perjuangan mereka. Dalam hal urusan menngani mayat memang tidak bisa sembarang orang. Umumnya banyak yang takut berurusan dengan mayat. Apalagi mayat yang mati dengan cara tidak wajar.
Pekerjaan ini memang tidak ada yang membayar, karena disebut sukarela. Namun menurut pengakuan banyak anggotanya, rejeki selalu saja datang pada mereka dari sisi lain. “Ada saja yang memberi perhatian pada kita. Meski apresiasi itu tidak harus berbentuk uang, namun itu kami terima. Termasuk kelancaran dalam segala hal yang tentu itu datangnya dari Allah sebagai balasan,” ujar Ronnie. (Sanca)






