Jalan Gombel Lama Ditutup Tujuh Bulan, Asap Dapur Pedagang Kecil Terancam Padam

Semarang, Javamedia.id – Rencana penutupan total akses Jalan Gombel Lama selama tujuh bulan ke depan tak sekadar menjadi urusan pengalihan arus lalu lintas bagi warga Kelurahan Tinjomoyo. Bagi para pedagang kecil yang setiap harinya menggantungkan hidup di tepian tanjakan legendaris ini, proyek nasional tersebut bak bayang-bayang kelam yang mengancam keberlangsungan hidup dan memutus rantai rezeki yang selama ini menghidupi dapur mereka.

Sulis, seorang pedagang kecil yang setiap harinya menggantungkan hidup di pinggir Jalan Gombel Lama, tak bisa menyembunyikan raut cemasnya. Di balik lapak sederhana tempatnya mencari nafkah, ia membayangkan sepinya hari-hari selama tujuh bulan ke depan.

“Kalau penutupan sampai 7 bulan, ini warga yang jualan gimana? Ya pada bingung, soalnya jualannya kan terus mati,” keluh Sulis saat ditemui di sela kesibukannya, Jumat (17/4/2026).

Kegelisahan Sulis bukan tanpa alasan. Hingga saat ini, kejelasan soal kompensasi masih menjadi tanda tanya besar. Sosialisasi memang sudah dilakukan, namun informasi yang sampai ke telinga warga masih terasa samar.

“Kemarin ada sosialisasi, tapi kita kurang paham. Katanya enggak ada kompensasi, tapi ke depannya belum tahu,” tambahnya dengan nada getir.

Hal senada diungkapkan Shifa, yang juga mengais rezeki dengan berjualan makanan di sana, merasa bayang-bayang masa sulit sudah di depan mata. Pelanggan setianya—para sopir truk dan ojek yang biasa singgah untuk sekadar membeli kopi dan rokok—dipastikan akan menghilang seiring tertutupnya akses bagi kendaraan besar.

Padahal, dari warung mungil itu, Shifa bisa mengantongi pendapatan ratusan ribu rupiah per hari. “Paling banyak (pendapatan) dari rokok, dari sopir truk atau ojek. Belum ada kompensasi, katanya mau didata, tapi belum masuk,” tutur Shifa.

Sementara itu, Ketua RT 06 RW 05 Gombel Lama, Tugimin, mencoba tetap tenang meski wilayahnya terdampak langsung. Ia menjelaskan bahwa akses untuk motor memang dijanjikan tetap terbuka secara terbatas, namun bagi warga yang memiliki mobil, tantangan besar sudah menanti.

“Terus terang mobil itu disarankan di lingkungan sekitar enggak bisa untuk aktivitas,” ujar Tugimin.

Meski memahami bahwa ini adalah proyek strategis nasional dari pemerintah pusat, Tugimin belum bisa meredam seluruh keresahan warganya. Baginya, penutupan jalan bukan sekadar urusan teknis pembangunan, melainkan urusan hajat hidup satu RW yang kini tengah berada dalam ketidakpastian.

Di sisi lain, secercah harapan datang dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 BBPJN Jawa Tengah-DIY, Alfan Noor Rizal. Menyadari dampak sosial yang besar, pihaknya kini tengah berupaya memacu waktu agar beban warga tidak berlangsung terlalu lama.

“Target kita kemarin 7 bulan, tapi kami berupaya lebih cepat. Kami dapat ultimatum, setidaknya 3 atau 4 bulan kami upayakan sudah selesai,” jelas Alfan.

Kini, warga Gombel Lama hanya bisa menunggu dan berharap. Di antara deru mesin proyek yang akan segera dimulai, ada harapan agar pembangunan infrastruktur tak harus mengorbankan ekonomi kecil yang sudah lama tumbuh di sepanjang jalan nasional tersebut. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *