Antara Mudik dan Siaga: BNPB Ingatkan Bahaya Hidrometeorologi pada Pemudik

Jakarta, Javamedia.id – Gelombang mudik Idulfitri 2026 masih sangat terasa, namun bayang-bayang cuaca ekstrem belum beranjak dari jalur-jalur utama transportasi di Pulau Jawa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan peringatan keras bahwa keselamatan pemudik tidak hanya bergantung pada kelaikan kendaraan, tapi juga pada kepekaan terhadap ancaman hidrometeorologi yang diprediksi masih akan berlanjut hingga masa arus balik atau pasca-Lebaran.

Laporan terbaru hingga Rabu (25/3) menunjukkan potret kerentanan di jalur mudik. Di Brebes, angin kencang telah merusak pemukiman di Desa Sawojajar, wilayah yang menjadi titik krusial perlintasan pantura. Jalur Purwokerto-Pejagan juga ditutup sementara karena banjir di Ketanggungan Brebes.

Sementara itu, di Majalengka, akses jalan di 11 desa terputus akibat longsor, sebuah peringatan bagi pemudik yang hendak melintasi jalur tengah Jawa Barat yang memiliki kontur tanah labil.

Menyikapi fenomena ini, BNPB menekankan bahwa kewaspadaan harus tetap dijaga, tidak hanya saat perjalanan menuju kampung halaman, tetapi juga saat menetap dan kembali nanti.

“Potensi bahaya hidrometeorologi ini tidak berhenti saat hari raya tiba. Kami melihat pola cuaca yang menunjukkan hujan lebat masih akan menghantui hingga periode pasca-Lebaran. Pemudik harus menjadi ‘manajer bencana’ bagi dirinya sendiri dan keluarga,” ujar perwakilan BNPB saat memberikan keterangan resmi.

Kekhawatiran utama terletak pada kondisi fisik tanah dan debit air sungai yang sudah mencapai titik jenuh akibat hujan berkepanjangan di akhir Maret. Di Pasuruan, banjir yang merendam lebih dari 3.000 rumah menjadi bukti nyata bahwa infrastruktur penampung air sedang berada dalam tekanan besar.

BNPB mengingatkan bahwa pada masa pasca-Lebaran, saat mobilitas arus balik memuncak, risiko kelelahan pengemudi yang bertemu dengan hujan badai dapat menjadi kombinasi yang fatal.

“Kami meminta masyarakat untuk terus memantau peringatan dini melalui kanal resmi. Jika saat perjalanan balik nanti menemui hujan dengan intensitas lebat lebih dari dua jam, jangan memaksakan diri melintasi wilayah perbukitan atau jembatan yang debit sungainya meningkat tajam. Aksi dini, seperti menunda perjalanan sejenak atau mencari tempat berteduh yang aman dari pohon besar, adalah kunci agar momen kemenangan ini tidak berakhir duka,” tambah pihak BNPB.

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang hingga arus balik usai, BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD di daerah untuk menyiagakan alat berat di titik rawan longsor dan mengoptimalkan grup komunikasi berbasis komunitas. Masyarakat diimbau untuk menjadikan informasi cuaca sebagai bagian dari perencanaan perjalanan, memastikan bahwa semangat untuk kembali ke perantauan tetap selaras dengan prinsip keselamatan yang utama. (Psw).

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *