Azahra Fauziyah Harry Putri, Penari Asal Semarang yang Membawa Pesona Budaya Indonesia ke Panggung Internasional Korea Selatan

CHANGWON, KOREA SELATAN, JAVAMEDIA.ID  – Kecintaan terhadap seni tari bukan sekadar tentang gerakan yang indah dan penampilan di atas panggung. Lebih dari itu, seni tari menjadi bahasa universal yang mampu memperkenalkan identitas bangsa, menyatukan perbedaan, sekaligus membawa kekayaan budaya Indonesia agar dikenal masyarakat dunia.

Semangat itulah yang tercermin dari perjalanan Azahra Fauziyah Harry Putri, penari asal Kota Semarang, Indonesia, yang turut ambil bagian dalam The 21st Migrant Arirang Multicultural Festival (MAMF) 2026 di Kota Changwon, Korea Selatan.

Keikutsertaan Azahra dalam festival multikultural tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus kesempatan istimewa untuk memperkenalkan seni dan budaya Nusantara di panggung internasional. Di tengah keberagaman peserta dari berbagai negara, ia hadir membawa semangat bahwa budaya Indonesia memiliki keunikan dan daya tarik yang patut dibanggakan.

Dalam festival yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang kebangsaan tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang turut berpartisipasi bersama Korea Selatan, Nepal, Mongolia, Myanmar, Bangladesh, Vietnam, Sri Lanka, Uzbekistan, Jepang, China, Kazakhstan, Kamboja, Thailand, Pakistan, Filipina, Guatemala, Azerbaijan, Afganistan, Ekuador, Turki, dan Peru.

Keberagaman tersebut menjadikan MAMF 2026 bukan sekadar perhelatan seni, melainkan juga ruang perjumpaan lintas budaya. Melalui pertunjukan seni, masing-masing negara memiliki kesempatan untuk memperkenalkan identitas, tradisi, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Azahra tampil sebagai penari perempuan bersama Sanggar Tari Kirana Budaya dari Jakarta dengan membawakan tarian Burung Tingang. Sementara itu, penari pria berasal dari Nyentrik Production, Bandung. Keterlibatan kedua kelompok seni tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kekayaan seni tari Indonesia di hadapan masyarakat internasional.

BACA JUGA :  Sambut HUT Ke-81 RI, Posal Banyutowo Bagikan 81 Bendera Merah Putih Kepada Para Nelayan

Tarian Burung Tingang memiliki daya tarik tersendiri karena terinspirasi dari burung enggang yang dikenal sebagai burung tingang dalam tradisi masyarakat Kalimantan. Burung ini lekat dengan simbol kehormatan dan memiliki tempat penting dalam kebudayaan sejumlah masyarakat Dayak. Melalui gerak tari dan penampilan artistik, kekayaan simbol budaya tersebut dapat diperkenalkan kepada penonton dari berbagai negara.

Bagi Azahra, kesempatan tampil di Korea Selatan bukan hanya tentang menunjukkan kemampuan menari, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk ikut menjaga nama baik Indonesia. Setiap gerakan yang ditampilkan menjadi bagian dari cerita tentang kekayaan budaya bangsa yang begitu beragam.

Perjalanan menuju panggung internasional juga menjadi pengingat bahwa prestasi tidak selalu harus diraih melalui bidang akademik atau kompetisi olahraga. Dunia seni dan budaya pun membuka ruang luas bagi generasi muda untuk berkembang, mengasah kemampuan, membangun kepercayaan diri, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Melalui seni tari, Azahra menunjukkan bahwa anak muda dari daerah memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam pergaulan dunia. Kota Semarang sebagai tempat asalnya menjadi bagian dari perjalanan seorang generasi muda yang turut memperkenalkan Indonesia melalui jalur kebudayaan.

Pengalaman tampil di festival multikultural seperti MAMF juga membuka kesempatan untuk belajar tentang keberagaman. Berada di antara peserta dari berbagai negara memberikan pengalaman mengenai bagaimana perbedaan bahasa, kebiasaan, dan tradisi dapat dipertemukan melalui ekspresi seni.

BACA JUGA :  Gempa M7,7 Guncang NTT: 47 Warga Meninggal Dunia, Ratusan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak Berat

Pada akhirnya, keikutsertaan Azahra dalam MAMF 2026 menjadi lebih dari sekadar catatan penampilan di luar negeri. Pengalaman tersebut merupakan bagian dari perjalanan untuk terus mencintai budaya sendiri sekaligus memperkenalkannya kepada dunia.

Dari Kota Semarang menuju Changwon, Korea Selatan, langkah Azahra menjadi gambaran bahwa kecintaan terhadap seni dapat tumbuh menjadi kontribusi yang berarti. Sebab, ketika generasi muda berani tampil, berkarya, dan membawa identitas bangsanya, mereka tidak hanya menari di atas panggung, tetapi juga ikut merawat warisan budaya Indonesia agar terus hidup dan dikenal lintas generasi.(SHIFA)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *