Tanggul Tuntang Jebol: Demak Terendam 1,5 Meter, 2.839 Jiwa Mengungsi

DEMAK, Javamedia.id – Ribuan warga Kabupaten Demak kini terisolasi setelah terjangan air setinggi 1,5 meter menenggelamkan permukiman mereka menyusul jebolnya tanggul Sungai Tuntang. Hingga Sabtu (4/4) pagi, krisis kemanusiaan meningkat tajam dengan jumlah pengungsi yang melonjak menjadi 2.839 jiwa, sementara tim SAR masih berpacu dengan waktu mencari satu warga yang dilaporkan hilang di tengah kepungan arus.
Bencana yang melanda sejak Jumat (3/4) ini dipicu oleh hujan ekstrem di wilayah hulu yang membuat debit Sungai Tuntang meluap hebat. Akibatnya, tanggul di Dukuh Solowere, Dukuh Selodoko, dan Desa Sidoharjo hancur di tiga titik berbeda dengan total kerusakan mencapai puluhan meter. Air bah seketika merendam delapan desa di empat kecamatan, memaksa ribuan keluarga menyelamatkan diri seadanya.
Data terbaru dari BNPB mencatat lonjakan pengungsi yang signifikan di berbagai titik darurat. Masjid Rodhotul Janah kini menampung 500 jiwa, disusul Tanggul Gobang dengan 400 jiwa, serta ratusan lainnya tersebar di Kantor Kecamatan Guntur, balai desa, hingga gedung madrasah. Di antara para pengungsi, tim medis mulai menangani warga yang jatuh sakit akibat cuaca buruk dan kondisi sanitasi yang terbatas.
Kondisi terparah terpantau di Desa Trimulyo dan Desa Ploso, di mana akses jalan sepenuhnya lumpuh bagi kendaraan kecil karena ketinggian air mencapai 100 hingga 150 cm. Di Desa Trimulyo, evakuasi masih berlangsung dramatis menggunakan perahu karet karena arus yang masih terpantau deras dari titik tanggul yang jebol.

Kondisi pengungsi banjir Kabupaten Demak di Aula Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (3/4) malam. – FOTO: BPBD Kabupaten Demak
Dampak kerusakan fisik kian mengkhawatirkan. Selain merendam 1.230 rumah warga, banjir juga merusak 10 gedung sekolah dan 15 fasilitas ibadah. Sektor pertanian pun lumpuh total setelah sedikitnya 194 hektare lahan sawah yang siap panen kini berubah menjadi hamparan air, mengancam mata pencaharian ratusan petani setempat.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, yang saat ini memantau dari Manado, telah menginstruksikan percepatan penanganan darurat dengan mengirimkan personel pusat ke lokasi. Fokus utama saat ini adalah distribusi logistik dan penguatan tanggul darurat menggunakan ribuan karung pasir guna mencegah luapan air yang lebih luas jika hujan kembali turun.
BPBD Demak bersama unsur TNI/Polri dan relawan terus bersiaga di posko lapangan yang didirikan di Koperasi Merah Putih, Desa Bumiharjo. Selain pencarian warga hilang, prioritas tim adalah memastikan kebutuhan dasar seperti air bersih, obat-obatan, selimut, serta perlengkapan bayi tersalurkan ke titik-titik pengungsian yang sulit dijangkau.
Pemerintah daerah saat ini tengah mempercepat proses penetapan status tanggap darurat untuk mempermudah akses sumber daya dalam pemulihan pascabencana. Warga diimbau untuk tetap waspada dan tidak memaksakan kembali ke rumah selama debit air Sungai Tuntang masih berada pada level berbahaya dan kondisi tanggul belum sepenuhnya stabil. (Psw)






