Ratusan Orang di Batang Sakit Usai Santap MBG, Dinkes Jateng Soroti Pergantian Petugas Dapur

BATANG, JAVAMEDIA.ID — Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sebanyak 276 orang tercatat mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG yang dibagikan di wilayah Kecamatan Bawang.

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena sejumlah warga dan siswa masih berdatangan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Keluhan yang dialami antara lain mual, muntah, diare, pusing dan sakit perut. Para korban mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas di Kabupaten Batang.

Di tengah penanganan kasus tersebut, Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyoroti persoalan pergantian petugas dapur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai menjadi salah satu tantangan dalam menjaga konsistensi penerapan keamanan pangan.

Kepala Dinkes Jawa Tengah, Dr. Zulfachmi Wahab, mengatakan kasus kejadian luar biasa (KLB) keracunan MBG yang berulang perlu menjadi perhatian, terutama terkait petugas yang menangani makanan.

Menurut Zulfachmi, banyak petugas dapur SPPG tidak bertahan lama karena pola kerja yang berlangsung sejak malam hingga pagi. Akibatnya, petugas yang telah mendapatkan pelatihan kemudian keluar dan digantikan oleh tenaga baru.

“Biasanya itu kalau muncul KLB keracunan MBG faktornya pada petugas penjamah makanan. Di Bawang pasti juga demikian,” ujar Zulfachmi, Kamis (24/9/2026).

Ia menjelaskan, Dinkes Jawa Tengah sebenarnya telah memberikan pelatihan secara rutin kepada petugas yang menangani makanan MBG di berbagai kabupaten/kota.

BACA JUGA :  Nyaris Tanpa Delay! Daftar 34 Kereta Api Daop 4 Semarang yang Paling Tepat Waktu di 2026

Pelatihan tersebut mencakup cara membersihkan bahan baku makanan, menjaga kebersihan peralatan memasak hingga proses pengemasan makanan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.

Namun, persoalan muncul ketika petugas yang telah mendapatkan pelatihan kemudian berhenti dan digantikan tenaga baru.

“Karena seringnya ganti-ganti penjamah makanan, ini yang memberatkan SPPG. Maka masalah ini perlu menjadi perhatian kita bersama,” kata Zulfachmi.

SOP Sudah Diterapkan, Evaluasi Tetap Diperlukan

Zulfachmi mengatakan prosedur operasional standar atau SOP keamanan pangan sebenarnya telah diberlakukan di SPPG.

Meski demikian, menurut dia, masih diperlukan perbaikan menyeluruh untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan berjalan secara konsisten.

Khusus kasus di Kecamatan Bawang, Dinkes sebelumnya juga telah menerbitkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk SPPG terkait.

Pemerintah kini melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan pada ratusan penerima MBG.

Untuk memastikan penyebab kejadian, petugas kesehatan telah mengambil berbagai sampel yang kemudian dibawa ke Labkesda Semarang.

Sampel tersebut meliputi sisa makanan seperti nasi dan lauk, serta sampel klinis berupa muntahan dan feses atau sisa diare pasien.

“Sisa nasi atau lauk pasti dibawa petugas Dinas Kesehatan ke laboratorium. Seperti muntahan dan feses juga dijadikan sampel uji laboratorium,” jelas Zulfachmi.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab keluhan kesehatan yang dialami para penerima MBG.

BACA JUGA :  1.289 Barang Tertinggal di Kereta dan Stasiun Daop 4 Semarang, Tumbler Paling Sering Ditemukan

Kabar Korban Meninggal Dibantah

Di tengah beredarnya informasi mengenai kasus tersebut, Pemkab Batang dan Dinkes Batang membantah adanya korban meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

Pasien yang mendapatkan perawatan dilaporkan dalam kondisi membaik setelah mendapatkan penanganan medis.

Pemerintah daerah juga terus melakukan pendataan dan pemantauan karena jumlah korban masih dapat berubah seiring masuknya laporan dari masyarakat dan fasilitas kesehatan.

Hingga kini, penyebab pasti kejadian belum dapat disimpulkan dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Kasus ini sekaligus menjadi evaluasi bagi penyelenggara MBG untuk memastikan standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten, termasuk dalam hal pelatihan, pengawasan dan keberlangsungan petugas dapur SPPG. (Psw)

Bagikan :

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *