Menakar Satire ‘Raja Paksa’ di Keraton Siluman: Ketika Rakyat Kehabisan Pilihan Pemimpin

SEMARANG, Javamedia.id – Karakter “Raja Paksa” yang dihadirkan dalam lakon Keraton Siluman sukses memantik perenungan mendalam mengenai realitas politik, di mana masyarakat sering kali dihadapkan pada situasi dilematis akibat keterbatasan pilihan pemimpin. Melalui pementasan seni komedi-satire yang digelar Teater Gemati di Gedung Balairung Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Sabtu (23/5) malam, penonton diajak menertawakan sekaligus merenungkan peliknya kondisi Negeri Wacanda yang ternyata tidak jauh berbeda dengan realitas sehari-hari.

Pementasan yang mengangkat misteri kehidupan yang dibalut satire sosial dan komedi segar ini menyoroti berbagai realitas yang dekat dengan masyarakat. Misalnya birokrasi yang rumit, sempitnya lapangan pekerjaan, sulitnya kondisi ekonomi, hingga hukum yang dinilai berbelit-belit.

Seluruh persoalan tersebut dikemas melalui guyonan satire yang menghibur tanpa menghilangkan pesan kritis yang ingin disampaikan kepada penonton.

Cerita berpusat di Negeri Wacanda, saat seorang peternak kambing bernama Mulyadi bangkit memimpin perlawanan setelah menyadari bahwa penguasa negeri hanyalah boneka dari Keraton Siluman. Namun, perjuangannya berujung penjara. Dari balik jeruji, Mulyadi menyadari bahwa hukum lebih berpihak kepada mereka yang memiliki kekuasaan dan uang dibanding rakyat kecil yang hidup dalam kesulitan ekonomi.

Perjuangan Mulyadi justru memantik revolusi besar yang membuka kenyataan bahwa “siluman” kekuasaan tidak pernah benar-benar mati.

“Silakan kalian bersorak senang karena merasa sudah menang. Kubuat kalian tidak tenang, sebab sesungguhnya kami belum tumbang,” menjadi salah satu kutipan yang menggambarkan perlawanan dalam pementasan tersebut.

Pementasan ini turut menghadirkan komedian senior, yakni Jarwo Kwat, Denny Chandra, dan Furry Setya. Mereka tampil membawakan lakon seni dan budaya teater yang tetap menghadirkan kritik sosial tanpa menjatuhkan pihak tertentu.

“Kami mengkritik tanpa harus menjatuhkan. Di sini kami tidak membentuk seperti republik, tetapi kami kemas dalam bentuk kerajaan,” ujar Sutradara Keraton Siluman, Atut Ayam, seusai pementasan.

Dalam cerita itu, Denny Chandra memerankan tokoh Raja Paksa. Atut menjelaskan karakter tersebut menggambarkan sosok pemimpin yang “terpaksa dipilih” karena dianggap menjadi satu-satunya pilihan yang ada.

Sementara itu, Jarwo Kwat memerankan Patih Serigalau, tokoh patih yang kerap dibuat galau oleh tingkah sang raja. Adapun tokoh Raja Siluman diperankan Ian Bukan Kasela, seniman teater yang juga dikenal sebagai sastrawan dan budayawan asal Kendal.
“Atas siapa pun yang memimpin, hasilnya akan tetap sama karena ada raja di balik raja, yaitu Raja Siluman,” kata Atut.

Jarwo Kwat mengaku senang dapat terlibat dalam pertunjukan teater tersebut. Dalam pementasan itu, ia memerankan Patih Serigalau yang bertugas memberi masukan kepada sang raja demi kemakmuran Negeri Wacanda.

“Ada hal-hal yang menggelitik tentang komunikasi antara raja sebagai pimpinan kerajaan dalam mengelola Negeri Wacanda. Patih hanya memberi masukan supaya negeri ini lebih makmur dan masyarakatnya lebih sejahtera,” ujar Jarwo.

Ia juga menyebut pengalaman tampil dalam pertunjukan teater menjadi sesuatu yang baru baginya. Meski demikian, Jarwo merasa tidak terlalu asing karena sebelumnya sudah sering tampil dalam seni pertunjukan seperti ketoprak, ludruk, dan lenong.

Sementara itu, Denny Chandra menilai pementasan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali teater kepada masyarakat luas melalui pendekatan komedi.

“Untuk memperkenalkan teater kepada masyarakat itu sangat sulit. Karena itu kami menghadirkan unsur komedi agar daya tarik teater tetap ada tanpa menghilangkan marwahnya,” kata Denny.

Menurutnya, Kota Semarang memiliki potensi besar dalam perkembangan seni pertunjukan. Namun, ia menilai seni teater daerah masih belum terlalu menonjol dibanding pertunjukan musik.

“Semarang punya potensi besar, apalagi sebagai ibu kota Jawa Tengah. Seniman daerahnya harus kembali dimunculkan,” ujarnya.

Dalam pertunjukan Keraton Siluman yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation ini, tidak hanya berisi kritik terhadap kebijakan, tetapi juga menyentil perilaku masyarakat melalui berbagai satire dan kelucuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kami merespons fenomena sekitar. Ada kebiasaan masyarakat yang ketika diangkat ke atas panggung ternyata terasa lucu dan menggelitik,” kata Ian.

Dia berharap pertunjukan tersebut dapat menjadi cermin bagi masyarakat untuk melihat berbagai fenomena sosial dari sudut pandang yang lebih ringan, tetapi tetap bermakna.

Ian juga menjelaskan bahwa komunitas Gemati berisi para pelaku teater yang sebagian besar telah menyelesaikan pendidikan, berkeluarga, dan bekerja di berbagai bidang profesi. Mereka kemudian berkumpul dan membentuk komunitas teater tersebut.

“Untuk pementasan kali ini kami berinisiatif menghadirkan Pak Jarwo Kwat dan Kang Denny Chandra dari Jakarta. Semoga bisa meramaikan dan mewarnai pertunjukan kali ini,” tuturnya. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *