Bangkit, Keroncong Tak Perlu Lagi Diprihatinkan

Semarang JavaMedia.Id – Keroncong adalah salah satu genre musik yang tercipta di tanah air karena banyak pengaruh musik yang lebih dulu ada. Sehingga keroncong menjadi salah satu produk kekayaan seni bangsa budaya Indonesia.

Orang bahkan sering mengatakan keroncong berawal dari Portugis. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Memang gitar kecil sebagai cikal bakal ukulele berawal dari cavaquinho atau machete, sebuah alat musik yang banyak dijumpai di Portugis. Gitar kecil ini menjadi alat music perorangan yang mudah dibawa kemana saja untuk menghibur diri.

Sekitar tahun 1879. Alat ini sudah ditemukan di Hawaii dibawa imigran Portugis asal pulau Madeira. Dan awal abad 19, juga sudah banyak digunakan pendatang di Batavia. Buktinya adalah adanya grup music di Batavia yang kemudian dikenal sebagai Keroncong Toegoe.

Tugu memiliki pola permainan keroncong awal. Dari Tugu pengaruh ini menyebar ke berbagai daerah dan sukses mendapat ‘bumbu’ dari musik lokal yang ada.

Di Surakarta, alat musik khas Jawa yang umum digunakan dalam karawitan menjadi asupan yang mempengaruhi perkembangan keroncong khas atau gaya Surakarta. Cello yang umumnya dimainkan dengan digesek, mulai dipetik untuk menemukan pola suara yang menggantikan kendang. Siter yang dikenal sebagai alat petik string yang dimainkan dengan cara direbahkan, dibuat mirip gitar agar bisa dimainkan dengan posisi mirip gitar. Ukulele pun dirubah bersenar 3 dengan pola petik ‘kentul’ atau digetar ulang.

Keroncong pada akhirnya mengalami pengembangan dengan pengaruh kesenian lokal. Maka akan menjadi sulit bila akan mengeklaim mana yang asli.

Seniman keroncong Semarang, Siswanto yang dikenal sebagai pemain melodi gitar keroncong ini mengatakan semua kerpncong yang berkembang di Indonesia adalah asli. “Semua asli budaya bangsa Indonesia. Meski ada banyak perbedaan, namun itu hasil kreasi yang muncul karena pengaruh kedaerahan. Ini menjadi kekayaan yang harus kita banggakan bersama. Sama-sama di Jawa saja berbeda pola permainannya. Ada yang ‘nyemeleh’ atau langsam, namun ada juga yang ‘ngebiet’ atau rancak. Semua bergantung situasi dan kondisi pemainnya,” ujar Siswanto di sela latihan bersama OK Muji Waras, pimpinan Santo Sari di Jolotundo Semarang.

Keroncong menurut Siswanto dikenal karena keunikannya yang tak banyak dijumpai di genre musik lain. Selain memiliki formasi 7 pemain, terdiri dari Bass, Cello, Gitar Melodi, Cuk atau Ukulele, Cak atau Crang, Flute serta Biola atau Viol. Semua ini dimainkan dengan polanya sendiri-sendiri.

“Meski beda, permainannya menggunakan konsep toleransi. Saling sahutan dan mengisi. Contoh Biola dengan Flute bergantian mengisi melodi. Bass dan Cello petik juga demikian. Dari sini lahirlah yang disebut harmoni keroncong,” ujar Siswanto.

Sementara seorang penyanyi keroncong, Chandra AN mengungkapkan bahwa keroncong dalam bernyanyi pun memiliki pola yang beda dengan menyanyi di genre lainnya.

“Di Keroncong itu ada teknik yang tak ada di genre lain. Adanya cengkok, luk, embat dan nggandul, menjadikan ciri tersendiri pada keroncong. Khususnya ini pada keroncong yang dilabeli sebagai keroncong klasik (gaya Surakarta),” terang Chandra AN.

Adanya pengaruh cengkok, embat, luk dan nggandul ini menurutnya karena pengaruh nembang Jawa. Pengaruh ini semata-mata untuk menguatkan keroncong agar dapat dinikmati sebagai musik yang mudah diresapi, dijiwai dan ngelaras atau menina bobokkan.

“Karena ngelaras, maka keroncong dikenal pula sebagai musik pengantar tidur. Faktanya memang benar, bahwa mendengarkan music dan lagu keroncong, pasti kita akan terbawa dalam suasana hanyut dalam ketenangan. Meski ada pula keroncong yang ngebit mengajak badan bergoyang,” papar penyanyi yang mengawali karier di Keroncong bersama OK Tunas Bhakti ini.

Bagi Chandra AN maupun Siswanto, Keroncong sudah bukan menjadi musik kelas bawah. Sebab dimana-mana keroncong sudah ada, meski banyak formatnya. Ada yang permainannya dipengaruhi jazz, dangdut dan rock. Semua itu muncul atas selera.

Diakui oleh Wawan dan Tozo, punggawa OK Sedulur Keroncong yang menjadi pengisi hiburan music di Bandara Internasional A Yani Semarang setiap akhir pekan.

“ Kami membawakan bezzeting 7, meski permainan kami all round. Semua disesuaikan selera penikmat. Di bandara kadang kami juga mengiringi pengunjung yang ingin menyanyi untuk hiburan sambil menunggu pesawat. Malah kadang ada juga artis yang ingin kami iringi,” ujar Wawan.

Kehadirannya rutin mengisi hiburan di Banadara Internasional A Yani ini menurutnya atas fasilitasi Institut Musik Jalanan (IMJ) bekerjasama dengan PT Angkasa Pura.
Ditanya bagaimana respon pengunjung atas tampilan keroncong di ruang publik. Menurut Wawan sangat positif.

Tozo, pemegang alat Cello Petik menganggap bandara ruang mewah untuk tampilan keroncong. “Kami tidak hanya sekadar menghibur, namun juga memperkenalkan keroncong pada pengunjung, bahkan tidak hanya warga lokal namun dari luar negeri. Bahkan kami punya penggemar dari Brazil dan negara lainnya yang rutin mengikuti siaran medsos kami saat tampil di Bandara. Mereka memberi apresiasi yang luar biasa kepada kami,” ujar Tozo.

Keroncong bukan hal yang perlu diprihatinkan lagi karena alasan ketinggalan jaman. Ternyata para punggawa keroncong sangat jeli mengembangkan kreatifitasnya bermusik menolak kalah dengan genre lain.

Sinergitas antara musisi, seniman dengan stakeholder perlu ada keberlangsungan. Tidak sekadar misi sosial pelestarian, ternyata panggung kecil keroncong mampu menopang hidup seniman. (Rgr)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *