Organda Semarang Wanti-Wanti Kelangkaan Solar Akhir Tahun: 12 Ribu Armada Terancam Terdampak

SEMARANG-JAVAMEDIA.ID – Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang memperingatkan potensi kelangkaan BBM jenis Biosolar menjelang akhir tahun 2026 yang berisiko mengganggu operasional sekitar 12 ribu armada angkutan barang dan penumpang di Jawa Tengah. Ketua Organda Kota Semarang, Bambang Pranoto Purnomo, mendesak kepastian pasokan solar subsidi agar keterlambatan distribusi logistik dan antrean panjang kendaraan di titik strategis Pantura tidak kembali terulang.

Kekhawatiran ini membayang di tengah deru mesin angkutan barang dan penumpang yang mulai memadati Jalan Siliwangi, Kota Semarang, menjelang malam. Di SPBU kawasan tersebut, antrean kendaraan terlihat memanjang untuk mengisi bahan bakar—pemandangan saban hari bagi para sopir yang menggantungkan hidup di jalur logistik Jawa Tengah.

Sembari menunggu giliran di tengah deretan truk, obrolan ringan antarpengemudi kerap terlontar dari balik kemudi. “Biosolar opo Dexlite, Mas?” celetuk seorang pengemudi. “Jelas Pertamina Dex to, trukku ora doyan sing murah,” sahut rekannya tertawa.

Kelakar tersebut akrab terdengar di kalangan pengemudi, tetapi di balik tawa itu tersimpan rasa cemas mendalam. Pengalaman menghadapi kelangkaan solar saban penghujung tahun masih membekas di benak mereka. Yadi, pengemudi truk asal Sukoharjo, bahkan pernah terpaksa menginap di SPBU jalur Pantura Kota Semarang akibat antrean yang mengular parah.

Menurut Yadi, fenomena ini melahirkan istilah “Mongso Rendeng Nanging Kasatan” di kalangan para sopir—gambaran saat musim hujan tiba, tetapi pasokan solar justru terasa kering kerontang. Ia heran mengapa kelangkaan selalu berulang menjelang akhir tahun, padahal pengemudi angkutan kecil tak punya pilihan selain bertahan pada BBM subsidi.

BACA JUGA :  Dua Tahun Squad Nusantara: Merawat Persaudaraan, Menginspirasi Kebersamaan

Kecemasan para sopir kian beralasan mengingat pergerakan harga BBM diesel nonsubsidi yang terus meroket sepanjang 2026. Data per September 2026 mencatat harga Dexlite melonjak hingga Rp23.700 per liter atau naik 75,6 persen dibanding harga Januari yang berada di angka Rp13.500. Sementara itu, Pertamina Dex menembus Rp25.200 per liter, melonjak 85,3 persen dari posisi awal tahun sebesar Rp13.600.

Dengan harga Biosolar subsidi yang bertahan di angka Rp6.800 per liter, disparitas harga menjadi sangat jauh. Saat ini, harga Dexlite mencapai 3,5 kali lipat dan Pertamina Dex 3,7 kali lipat dari harga Biosolar. Lebarnya jurang harga ini praktis menutup opsi bagi para pengemudi untuk beralih ke BBM nonsubsidi.

Bambang Pranoto Purnomo menegaskan bahwa Semarang merupakan simpul vital pergerakan logistik di Jawa Tengah. Jika kelangkaan Biosolar kembali berulang pada rentang Oktober hingga Desember, dampaknya akan menjalar hingga ke pengusaha angkutan dan memicu lonjakan biaya operasional secara sistemik.

Selain krisis BBM subsidi, Organda juga menyoroti pengawasan ketat terhadap kendaraan over dimension over loading (ODOL) menuju target Zero ODOL 2027. Bambang menegaskan bahwa penindakan hukum tidak boleh hanya menargetkan para pengemudi di lapangan, melainkan harus menyasar pemilik armada serta pihak pengirim barang yang menentukan beban muatan.

Kepastian pasokan Biosolar di titik-titik krusial seperti Pantura Semarang menjadi ujian nyata bagi pemerintah dan Pertamina di penghujung tahun. Tanpa jaminan distribusi yang lancar, rantai pasok barang di Jawa Tengah terancam tersendat, meninggalkan belasan ribu armada dalam ketidakpastian di tepi jalan. (Psw)

Bagikan :

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *