Buka Ruang Belajar Gratis, Anak Punk Semarang Dapat Penghargaan Pegiat Literasi

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Berawal dari semangat konsistensi membuka ruang belajar dan penerbitan buku gratis bagi generasi muda, Syafiq Yunensa, seorang pegiat literasi berlatar belakang kultur punk asal Semarang, dianugerahi penghargaan sebagai Pegiat Literasi Provinsi Jawa Tengah dalam Festival Literasi Jawa Tengah 2026 di Uptown Mall BSBcity Semarang, Jumat (11/9/2026).

Apresiasi dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah (Dinarpus Jateng) tersebut diberikan atas rekam jejak Syafiq yang aktif membangun ekosistem literasi di berbagai daerah. Pendiri Semarang Book Party, Kendal Book Circle, Kabupaten Semarang Book Circle, KOPI Perubahan, dan Muara Baca ini juga memegang amanah sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Digdaya Book.

Kiprahnya tak berhenti pada pengorganisasian komunitas. Sebagai Direktur Penerbit Digdaya Book, Syafiq menjembatani para penulis muda melahirkan karya perdana mereka. Melalui program konsisten bertajuk Kelas Penulis Muda yang digelar dua hingga tiga kali saban tahun, tak kurang dari 150 penulis muda telah berhasil menerbitkan buku pertama secara cuma-cuma.

Dosen Sekolah Tinggi Islam Kendal ini pun tergolong produktif berkarya. Belasan buku telah lahir dari tangannya, antara lain Berandal Bermoral, Aku (Tetap) Punk, Joni Melawan Arus, hingga Catatan Sang Berandal.

Bagi Syafiq, literasi melampaui urusan teknis membaca dan menulis. Literasi adalah instrumen kritis untuk menakar realitas serta merawat independensi berpikir.

“Literasi adalah seni bertahan hidup, apalagi sebagai WNI. Tanpa literasi yang kuat, kita hanya akan dibodohi terus-menerus dan menjadi sasaran empuk orang-orang jahat,” ungkap Syafiq.

BACA JUGA :  Bukan Ganti Untung, Ini Solusi Tegas Pakuwon untuk Warga Terdampak Proyek Gombel

Prinsip tersebut berakar kuat dari persinggungannya dengan kultur punk. Ia menegaskan bahwa perlawanan paling destruktif terhadap ketidakadilan justru diwujudkan melalui penguasaan pengetahuan, bukan kekerasan fisik.

“Dalam punk, kami selalu diajarkan untuk melawan dengan pengetahuan. Perlawanan yang paling utama adalah melawan pembodohan lalu membawa kita pada suatu kesadaran sebagai manusia yang harus berjuang untuk kemanusiaan,” tegasnya.

Penganugerahan ini menegaskan pesan penting bahwa gerakan literasi mampu tumbuh subur dari ceruk mana pun, termasuk subkultur punk yang kerap dilekati stigma negatif. Lewat jejaring komunitas, aktivitas penerbitan, dan mimbar akademik, Syafiq membuktikan literasi sebagai jalan membongkar pembodohan sekaligus merawat martabat kemanusiaan. (Psw)

Bagikan :

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *