Pengantin Khoja Pukau Pengunjung Folklore Kota Lama

Semarang JavaMedia.Id – Baru kali ini masyarakat luas di Kota Semarang melihat penampilan pengantin Khoja yang tampil dalam Folklore Festival Kota Lama Semarang, Jumat (18/9/2026).
Ribuan pengunjung terdiri dari masyarakat wisatawan lokal maupun manca berebut ingin foto dengan pengantin yang mengenakan pakaian pengantin ala India yang terkesan mewah bak raja.
Khoja adalah sebutan untuk masyarakat etnik keturunan Gujarat yang telah berasimilasi dengan warga pribumi di Kota Semarang sejak abad-16. Penampilan budaya Khoja ini tidak lepas dari upaya Walikota Semarang, Dr Agustina Wilujeng Pramestuti SS MM mengangkat kembali budaya etnik yang tersebar di Kota Semarang.
Bagai gayung bersambut, Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Semarang mulai mensupport Komunitas Budaya Khoja Semarang (Khojas) untuk mengangkat kembali seni budaya Khoja yang hampir saja punah, seperti tradisi Pengantin Khoja, tradisi dan budaya Pengantin Sunat, Kuliner Bubur India, Musik Sammer dan aneka kuliner khas Khoja.
Penampilan tahun ini diangkat Pengantin Khoja dalam pengaruh India yang dulu pernah berkembang di Kota Semarang. Rica Ubay, salah satu perias yang masih mempertahankan tata rias dan kostum terus berkolaborasi dengan Khojas hingga akhirnya berhasil menampilkan karya spektakulernya di Festival Kota Lama yang berlangsung di depan Gedung Marba.
Pengantin Khoja ini diperankan oleh pengantin baru pasangan Harun Al Rasyid-Aisyah. Mereka merupakan warga keturunan Gujarat. Mempelai mengenakan pakaian berwarna kuning gading berpadu warna merah. Pria mengenakan Kurta Panjang hingga menyentuh lutut, sementara wanita mengenakan Lehenga Choli (Pakaian Pengantin Wanita India) bernuansa merah berbordir emas.
Kirab pengantin juga beda. Dalam pengantin Khoja kitab diiringi music atau tetabuhan rebana dari Persatuan Majelis Muslimin (PMM) yang berdiri sudah sejak masa kolonial dan bertahan hingga kini.
Tetabuhan ini mengiringi tembang yang dilantunkan bertemakan kisah Rosulullah dan nasehat pernikahan.
Hal memukau lainnya adalah tampilkan pria dan wanita berkostum Kurta, Kurti dan Sari India. Penampilan pria dan wanita berkostum warna-warni ini menambah gairah para pengunjung untuk ikut seta menari dan berjoget India yang dipandu MC Munir Khan dan Lutfi Jay berdarah Gujarat.
Ketua Khojas, M Sholeh Emde mengungkapkan penampilan masyarakat Etnik Khoja ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang dan masyarakat pemerhati budaya.
“Walikota Semarang melalui Disbudpar Kota Semarang selalu memberi support dan kesempatan tampil di setiap panggung budaya. Juga Hanny persewaan kostum di Jalan Pungkuran selalu mensupport kami menyiapkan kostum setiap tahunnya dengan pola dan corak berbeda. Jadi ini kolaborasi yang luar biasa. Juga ada peran drg Grace Widjaja Susanto selaku pemerhati budaya Semarang yang selalu mensupport kami setiap tahun. Ini menjadikan Khoja semakin dikenal dan budayanya menguat kembali,” papar Sholeh Emde.
Sementara Chandra AN, selaku penggiat seni dan budaya Khoja memaparkan bahwa seni dan budaya akan sulit berkembang apabila tidak ada support dan masyarakat maupun pemerintah. “ Di Semarang ini kebetulan kita punya Waliota yang berlatar belakang sejarah dan budaya. Jadi ini memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan budaya dan pariwisata. Karenanya kami bisa tampil maksimal seperti ini juga atas dukungan beliau,” tambah Chandra AN yang dalam Festival tampil sebagai figure Inspektur Vijay.
Seni dan Budaya, sebagaimana harapan Walikota Dr Agustina Wilujeng Pramestuti SS MM dalam membuka acara, adalah sebagai alat pemersatu di tengah perbedaan. Kota Semarang sendiri memiliki banyak etnis dan ras, baik dari nusantara maupun luar. Namun mereka dapat Bersatu hingga memberi pengaruh besar bagi terbentuknya peradaban di Kota Semarang. “Hal ini lah yang menurut Walikota perlu dipertahankan dan dilestarikan. Warga Semarang diharapkan menjaga kemajemukan dalam semangat persatuan dan gotong-royong membangun kotanya,” papar Chandra AN.
Dalam waktu dekat, Khojas akan menggarap potensi wisata kuliner kampung Pekojan. Uji cobanya adalah saat awal Ramadan kemarin. Menurut M Sholeh Emde, cukup sukses dengan menghadirkan banyak pengunjung dan transaksinya selama 2 hari mencapai Rp 140 juta dari 20 lapak yang terdiri UMKM Khoja yang ada di Kelurahan Purwodinatan.
“Ini sangat disayangkan apabila tidak ditindaklanjuti. Seorang penjual emping gurih & manis Khoja, bernama Salamah sehari saja mampu mengantongi Rp 1,2 juta saat bazar kuliner. Artinya ini cukup bisa diandalkan untuk meningkatkan perekonomian warga Khoja,” tutup Sholeh Emde. (DNC)





