Dampak Kemarau, Monyet Ekor Panjang Mulai “Invasi” Permukiman Warga Semarang

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Dampak musim kemarau mulai memicu peningkatan konflik satwa liar dengan masyarakat di Kota Semarang. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah mencatat setidaknya 15 laporan kawanan monyet ekor panjang yang keluar dari habitatnya dan masuk ke permukiman warga untuk mencari pakan serta air.

Kepala Resort KSDA Wilayah Semarang, Rimbawanto, mengatakan BKSDA Jateng memiliki tim khusus bernama Wildlife Rescue Unit (WRU). Tim ini bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) serta sejumlah instansi terkait untuk merespons setiap laporan masyarakat yang masuk melalui call center.

Menurutnya, WRU bertugas menangani berbagai konflik satwa liar dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di Kota Semarang, sebagian besar laporan yang diterima berkaitan dengan kemunculan monyet ekor panjang di kawasan permukiman.

“Sepanjang tahun ini sudah ada 15 laporan yang kami terima dan seluruhnya telah kami tindak lanjuti. Sementara itu, untuk satwa dilindungi lainnya, laporan yang lebih banyak diterima berupa penyerahan sukarela dari masyarakat. Mereka sudah memahami ketentuan hukum terkait kepemilikan satwa dilindungi sehingga dengan kesadaran sendiri menyerahkannya kepada BKSDA. Satwa-satwa tersebut kemudian kami tempatkan sementara di kandang transit. Selanjutnya, apakah akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya atau dititipkan ke lembaga konservasi, itu menjadi kewenangan pimpinan,” jelas Rimbawanto saat ditemui Javamedia.id di Kantor BKSDA Jateng, Selasa (28/7/2026).

Rimbawanto menuturkan, setiap laporan mengenai monyet ekor panjang yang meresahkan warga akan ditindaklanjuti dengan proses evakuasi. Setelah diamankan, satwa tersebut dibawa ke kantor BKSDA untuk menjalani pemeriksaan dan observasi oleh dokter hewan sebelum diputuskan langkah penanganan berikutnya.

“Apabila memang masyarakat resah, kami tangkap dan bawa ke kantor. Selanjutnya dokter hewan akan melakukan observasi. Setelah itu akan diputuskan apakah satwa tersebut dapat dilepasliarkan ke habitat alaminya. Penentuan lokasi pelepasliaran menjadi kewenangan tim penilai yang menentukan kawasan yang sesuai untuk monyet ekor panjang,” ujarnya.

Ia mengatakan, musim kemarau merupakan periode tahunan yang memicu satwa liar keluar dari habitatnya dan memasuki permukiman untuk mencari sumber makanan maupun air. Meski demikian, menurutnya kondisi di Kota Semarang belum tergolong mengkhawatirkan walaupun jumlah laporan mulai mengalami peningkatan.

“Musim kemarau memang sudah menjadi agenda rutin. Biasanya banyak satwa yang turun dari habitat ke permukiman. Namun, alhamdulillah kondisinya belum terlalu merebak, meski laporan pada tahun ini mulai meningkat,” katanya.

Rimbawanto menegaskan, sebanyak 15 laporan yang ditangani tersebut merupakan kasus yang terjadi di wilayah Kota Semarang, bukan akumulasi laporan dari seluruh Jawa Tengah. “Itu khusus untuk Kota Semarang, bukan data seluruh Jawa Tengah. Namun memang, untuk Kota Semarang terjadi peningkatan jumlah laporan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rimbawanto menjelaskan bahwa penanganan satwa liar memerlukan kehati-hatian. Selain membutuhkan pakan dan metode perawatan yang sesuai, petugas juga harus mengantisipasi potensi penyakit yang dapat ditularkan oleh satwa liar.

Menurutnya, pemeriksaan kondisi kesehatan satwa sepenuhnya dilakukan oleh dokter hewan yang memiliki kompetensi dalam menangani satwa liar. “Dokter yang lebih memahami terkait penyakit-penyakit yang dapat dibawa satwa seperti monyet ekor panjang,” pungkasnya. (Psw)

Mari berbagi:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *