Kasus Perundungan Siswa SMP Nasima Semarang Naik ke Tahap Penyidikan, Polisi akan Periksa Sejumlah Saksi

Peristiwa kelam tersebut terjadi pada jam istirahat sekolah, 30 Maret 2026 lalu. Ibunda korban, Ristia (38), mengungkapkan bahwa anaknya dijebak dengan modus diajak oleh salah satu pelaku menuju area toilet di lantai atas gedung sekolah.
“Dia diajak satu orang ke toilet atas. Dia pikir hanya satu orang, lalu dua lainnya menyusul. Yang satu memegang kacamata anak saya dan kotak bekal nasi,” kata Ristia sambil menahan tangis saat ditemui di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Di toilet tersebut, korban diduga dianiaya secara brutal oleh dua pelaku lainnya meskipun sudah meminta ampun karena kesakitan.
Ristia mengaku baru mengetahui kejadian tersebut empat hari pasca-kejadian karena korban sempat menutup-nutupi luka lebamnya dengan alasan terbentur pintu. Kasus ini baru terungkap setelah kondisi fisik korban menurun disertai trauma psikologis yang mendalam. KA yang sebelumnya dikenal ceria dan pemberani, kini berubah menjadi murung, sering melamun, dan ketakutan untuk pergi ke sekolah.
Trauma korban disinyalir diperparah oleh aksi intimidasi lanjutan. Korban sempat diikuti oleh kelompok pelaku hingga ke ruang perpustakaan sekolah dan kembali ditarik untuk diajak berkelahi, sehingga memaksa korban harus terus menghindar ke tempat yang ramai.






