Kasus Perundungan Siswa SMP Nasima Semarang Naik ke Tahap Penyidikan, Polisi akan Periksa Sejumlah Saksi

Kekecewaan Terhadap Respons Pihak Sekolah
Pihak keluarga menyatakan kekecewaan mendalam atas sikap manajemen sekolah yang dinilai lambat dan kurang berempati dalam menangani kasus ini. Ristia membeberkan bahwa sesaat setelah pengeroyokan terjadi, korban yang masih dalam kondisi lebam dan syok justru langsung diminta oleh guru Bimbingan Konseling (BK) untuk menuliskan kronologi kejadian di atas kertas, alih-alih mendapatkan penanganan medis.
Tak hanya itu, upaya komunikasi yang dibangun oleh orang tua korban di grup WhatsApp wali murid sempat direspons secara tertutup oleh pihak sekolah. Puncaknya, nomor telepon ayah korban diblokir oleh kepala sekolah saat mencoba meminta kejelasan dan pertanggungjawaban secara personal.
Dua kali upaya mediasi yang difasilitasi sekolah pada 4 April dan 16 April 2026 juga berakhir buntu tanpa ada titik temu maupun kesepakatan konkret dari keluarga para pelaku. Atas dasar itulah, didampingi kuasa hukum, keluarga korban memilih menempuh jalur hukum ke Polrestabes Semarang yang kini penanganannya resmi ditingkatkan ke tahap penyidikan. (Psw)






