Dari Jepang, Pelajar Indonesia Menitipkan Harapan untuk Negeri

Oleh: Muhammad Rizal Pabuarany, Ketua PPIJ 2025/2026
TOKYO , JAVAMEDIA. ID — Ada sesuatu yang berbeda ketika Merah Putih dikibarkan jauh dari tanah air.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Tokyo, ketika bendera Indonesia berkibar dan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, tiba-tiba jarak ribuan kilometer terasa tidak berarti. Indonesia hadir begitu dekat—dalam ingatan, dalam doa, dalam percakapan, dan dalam kerinduan tentang sebuah rumah yang selalu ingin kita lihat menjadi lebih baik.
Bagi kami, pelajar Indonesia di Jepang, kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan.
Kemerdekaan adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia?
Sebab mencintai Indonesia tidak selalu berarti mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Justru terkadang, cinta yang paling tulus adalah keberanian untuk mengatakan bahwa masih ada yang harus diperbaiki.
Kami belajar di Jepang bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak dibangun hanya oleh gedung-gedung tinggi, teknologi canggih, atau kekuatan ekonomi. Kemajuan dibangun dari manusia yang menghargai ilmu, bekerja dengan disiplin, memegang tanggung jawab, menghormati aturan, dan memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak bagi orang lain.
Dari sana kami belajar satu hal penting: sebuah bangsa menjadi besar bukan karena tidak memiliki masalah, tetapi karena memiliki keberanian untuk menghadapi masalahnya.
Indonesia adalah bangsa besar. Kita memiliki sumber daya, keberagaman budaya, generasi muda yang luar biasa, serta potensi yang tidak sedikit.
Namun menjadi bangsa besar juga berarti berani melakukan introspeksi.
Kita boleh bangga ketika Indonesia menorehkan prestasi. Kita patut bersyukur ketika ekonomi tumbuh, teknologi berkembang, dan anak-anak bangsa mengharumkan nama Indonesia di berbagai penjuru dunia.
Tetapi pada saat yang sama, kita juga tidak boleh kehilangan keberanian untuk bertanya ketika masih ada ketimpangan, ketika pendidikan belum sepenuhnya merata, ketika masyarakat merasa tidak didengar, atau ketika komunikasi publik justru menimbulkan kebingungan.
Kritik bukan tanda bahwa seseorang membenci negaranya.
Kritik yang lahir dari kepedulian adalah salah satu bentuk cinta kepada bangsa.
Namun kritik juga membutuhkan tanggung jawab. Kita tidak boleh menjadikan kebebasan berbicara sebagai alasan untuk kehilangan etika. Kita tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Demokrasi membutuhkan keberanian untuk bersuara, tetapi juga membutuhkan kedewasaan untuk mendengarkan.
Karena itu, menjadi masyarakat yang kritis bukan berarti menjadi masyarakat yang gemar menyalahkan. Menjadi kritis berarti mau memeriksa fakta, memahami persoalan, menawarkan solusi, dan bersedia ikut bekerja.
Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya menunjuk siapa yang salah. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang bertanya: apa yang bisa saya lakukan?
Di sinilah pelajar dan diaspora Indonesia memiliki tanggung jawab.
Kami datang ke Jepang bukan untuk melupakan Indonesia. Justru sebaliknya, kami membawa Indonesia dalam setiap langkah.
Kami membawa nama Indonesia ketika berada di ruang kelas. Membawanya ketika melakukan penelitian. Membawanya ketika bekerja. Membawanya ketika memperkenalkan budaya dan makanan Indonesia. Membawanya ketika membangun persahabatan dengan masyarakat Jepang dan komunitas internasional.
Kami sadar bahwa prestasi seorang pelajar Indonesia di luar negeri bukan hanya milik pribadi.
Di balik nama kami, ada nama Indonesia.
Karena itu, belajar dengan sungguh-sungguh adalah bentuk pengabdian. Melakukan penelitian dengan integritas adalah bentuk cinta tanah air. Menjaga sikap dan nama baik adalah bentuk diplomasi. Membangun jejaring adalah investasi bagi masa depan Indonesia.
Dan suatu hari nanti, pengetahuan yang kami dapatkan di negeri orang harus menemukan jalannya untuk kembali memberi manfaat bagi tanah air.
Bukan berarti Indonesia harus menjadi seperti Jepang.
Indonesia harus tetap menjadi Indonesia.
Tetapi kita bisa belajar dari negara lain tanpa kehilangan jati diri. Kita bisa mengambil hal-hal baik, menyesuaikannya dengan karakter bangsa, kemudian mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat kita.
Pertanyaan terpenting bukanlah, “Mengapa Indonesia tidak seperti negara lain?”
Melainkan:
“Apa yang dapat kita lakukan agar Indonesia menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri?”
Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, perjuangan kita memang telah berubah.
Dahulu para pahlawan berjuang dengan senjata dan mengorbankan jiwa untuk merebut kemerdekaan.
Hari ini, perjuangan kita adalah memastikan kemerdekaan memiliki arti bagi kehidupan setiap warga negara.
Kemerdekaan berarti seorang anak di pelosok negeri memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan terbaik.
Kemerdekaan berarti ilmu pengetahuan mendapat tempat terhormat.
Kemerdekaan berarti masyarakat dapat bekerja dengan layak dan bermartabat.
Kemerdekaan berarti perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling membenci.
Kemerdekaan berarti setiap warga negara dapat menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa hormat.
Dan kemerdekaan juga berarti mereka yang memegang kekuasaan bersedia mendengar suara rakyat serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang dibuat.
Dari Jepang, kami mungkin berada jauh dari tanah air.
Tetapi hati kami tidak pernah benar-benar pergi.
Indonesia ada dalam penelitian yang kami kerjakan. Indonesia ada dalam budaya yang kami perkenalkan. Indonesia ada dalam persahabatan yang kami bangun. Indonesia ada dalam prestasi yang kami perjuangkan.
Dan Indonesia selalu ada dalam harapan.
Mungkin cinta tanah air yang paling dewasa bukanlah mengatakan bahwa Indonesia sudah sempurna.
Cinta yang dewasa adalah tetap percaya kepada Indonesia sambil berani mengakui apa yang harus diperbaiki.
Tetap mengkritik tanpa membenci.
Tetap berharap tanpa berpangku tangan.
Tetap bangga tanpa menutup mata.
Dan yang paling penting, tetap bekerja meskipun perubahan tidak selalu datang dengan cepat.
Karena pada akhirnya, Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang duduk di pusat kekuasaan.
Indonesia dibangun oleh guru yang mengajar dengan hati, petani yang menjaga pangan, tenaga kesehatan yang melayani, pekerja yang bekerja dengan jujur, peneliti yang menemukan pengetahuan baru, pengusaha yang membuka lapangan kerja, mahasiswa yang belajar dengan tekun, dan setiap warga negara yang memilih melakukan kebaikan meskipun tidak selalu terlihat.
Dari Jepang, kami menitipkan satu keyakinan:
Indonesia masih bisa menjadi lebih baik.
Dan tugas generasi kami bukan sekadar menunggu perubahan itu datang.
Tugas kami adalah menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Mari berhenti terlalu lama berdebat tentang siapa yang paling nasionalis.
Mari buktikan cinta kepada Indonesia melalui karya.
Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan suara-suara yang keras.
Indonesia membutuhkan tangan-tangan yang mau bekerja.
Semakin merdeka dalam berpikir.
Semakin berani dalam berbenah.
Semakin tinggi menghargai ilmu pengetahuan.
Dan semakin besar keberanian untuk berkontribusi.
Dari Tokyo, dari kejauhan, kami tetap menatap Indonesia dengan rasa cinta yang sama.
Bukan karena Indonesia sudah sempurna.
Tetapi karena kami percaya, Indonesia layak diperjuangkan untuk menjadi lebih baik.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia.
Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan. Merdeka adalah keberanian untuk terus memperbaiki negeri yang kita cintai.





