Gaya Hidup dan Makanan Manis Ancam Kesehatan Remaja, Pakar Ingatkan Pentingnya Gizi Seimbang

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Maraknya konsumsi makanan manis dan gaya hidup serba instan di kalangan remaja serta usia muda kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Kebiasaan tersebut memicu lonjakan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, hingga gagal ginjal yang kini tidak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut.

Kondisi kritis ini mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk Kebijakan Pangan Sehat dalam Perspektif Kesehatan Masyarakat, Hukum, dan Hak Asasi Manusia yang digelar Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) bersama Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) di ROOMS Inc Hotel, Semarang, Selasa (27/10/2026).

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip), Prof. Dr. dr. Sri Achadi Nugraheni, M.Kes., menegaskan pentingnya edukasi gizi seimbang sejak dini untuk membendung tren PTM di tingkat remaja dan dewasa muda.

“Dulu PTM ini dominan di usia dewasa dan tua, tetapi sekarang remaja dan dewasa muda sudah banyak yang menderita. Ini hal yang sangat kritis. Selain dari regulasi pemerintah dan produsen makanan, kesadaran pribadi masyarakat, khususnya anak muda, dalam memilih makanan yang harus dikurangi terkait tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) sangat krusial,” ujar Prof. Sri Achadi.

Prof. Sri Achadi menambahkan, kemudahan akses memesan makanan secara daring melalui aplikasi seluler kerap mempercepat pola konsumsi yang tidak sehat di kalangan remaja. Akibatnya, angka obesitas, khususnya obesitas sentral (kegemukan di area perut), terus meningkat dan menjadi akar utama munculnya PTM.

BACA JUGA :  FUJIFILM Indonesia Dukung Skrining Hepatitis B & C dengan Teknologi USG untuk Deteksi Dini Penyakit Hati

Ia pun mengingatkan agar masyarakat mengadopsi pedoman “Isi Piringku” secara fleksibel sesuai kebutuhan dan status gizi individu, bukan lagi terpaku pada konsep lama 4 Sehat 5 Sempurna.

“Kalau sudah gemuk, isi piringnya harus lebih banyak sayuran dan protein, sementara karbohidratnya dikurangi. Sebaliknya bagi yang kurus, karbohidrat dan protein hewaninya diperbanyak. Edukasi hidup sehat dari orang tua di rumah juga penting untuk meningkatkan kesadaran pemenuhan gizi seluruh anggota keluarganya,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Food Policy Analyst CISDI, Ika Nindyas Ranitadewi, S.Gz, menyoroti bahaya jangka panjang dari kebiasaan konsumsi gula berlebih yang kerap tidak disadari oleh anak muda.

“Banyak yang tidak sadar mengonsumsi makanan manis berlebihan karena dampaknya jangka panjang. Diawali dari obesitas, lalu naik ke diabetes, hipertensi, hingga jantung koroner dan gagal ginjal. Bahkan tren pelonjakan kasus PTM ini berdampak langsung pada beban pembiayaan BPJS Kesehatan yang meningkat drastis,” papar Ika.

Untuk menahan laju konsumsi tidak sehat pada anak muda, CISDI mendorong tiga regulasi pangan sehat komprehensif, yakni:

  1. Penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).
  2. Pemberlakuan label peringatan warna hitam berbentuk oktagonal di bagian depan kemasan untuk menandai produk tinggi Gula, Garam dan Lemak agar mudah dipahami masyarakat.
  3. Pembatasan pemasaran dan iklan pangan tidak sehat, termasuk di kanal digital, lingkungan sekolah, kampus, serta fasilitas umum.
BACA JUGA :  Tak Cuma Kebijakan, Tim Setwapres dan BKKBN Turun Langsung Cek Intervensi Stunting di Posyandu

775d33c3 c5ed 49dc 8274 fc3304eed2b5Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD, FINASIM, membeberkan fakta lapangan mengenai temuan kasus PTM di Kota Semarang.

Berdasarkan data pemeriksaan kesehatan gratis terhadap 947.000 warga Kota Semarang selama hampir dua tahun terakhir, tercatat ada 47.000 kasus baru hipertensi dan 23.000 kasus diabetes.

“Ini tantangan baru bagi kita. Melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), kami terus mengedukasi masyarakat agar membiasakan aktivitas fisik minimal 6.000 langkah sehari dan menjaga pola makan sehat,” ungkap Dr. Hakam.

Ia menekankan agar masyarakat disiplin membatasi batas aman konsumsi harian GGL yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan, yaitu 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak per hari.

“Jika konsumsi harian melebihi batas tersebut, risiko terkena hipertensi, diabetes, dan dislipidemia akan melonjak, yang pada akhirnya mempercepat risiko stroke. Kami sangat mendukung jika ada regulasi ketat yang membatasi produsen minuman manis demi melindungi kesehatan masyarakat,” tandasnya. (Psw).

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *