ALJIRO SMANSA dan UNDIP Gelar Youth Summit 2026, Serahkan Policy Brief Pendidikan ke Pemerintah

SEMARANG, JAVAMEDIA.ID – Alumni SMA Negeri 1 Semarang (ALJIRO SMANSA) berkolaborasi dengan SDGs Center Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar forum nasional Youth Summit 2026 di Hotel Santika Premiere Semarang pada Jumat (21/8/2026). Mengusung isu kesehatan mental, kesiapan digital, dan reformasi kurikulum, ajang yang dihadiri 250 peserta dari berbagai wilayah Indonesia ini resmi menyerahkan dokumen Policy Brief kepada perwakilan kementerian sebagai rekomendasi strategis pembenahan pendidikan menengah.

Langkah ini diambil mengingat tekanan akademik, kesehatan mental, hingga tantangan literasi digital bukan lagi sekadar perbincangan hangat di media sosial, melainkan persoalan krusial yang membayangi generasi muda Indonesia. Dengan mengangkat tema “Preparing Indonesia’s Future Generation: Mental Well-being, Quality Education, and Digital Readiness”, ajang tersebut menjadi panggung strategis bagi Gen Z untuk menyuarakan aspirasi secara langsung kepada para penentu kebijakan.

Ajang yang mempertemukan perwakilan pelajar dan guru pendamping dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Papua ini disokong oleh riset empiris yang menjangkau lebih dari 700 responden pelajar SMA se-Indonesia.

Kepala Pusat SDGs Center UNDIP, Prof. Bulan Prabawani, S.Sos., M.M., Ph.D., membeberkan realitas lapangan terkait kondisi psikologis dan adaptasi teknologi di kalangan pelajar. Ia mengungkapkan bahwa kesiapan digital siswa SMA sejatinya sudah memadai dengan tingkat kepemilikan gawai dan akses internet di atas 80 persen. Namun, tantangan terbesarnya terletak pada pemanfaatan teknologi yang masih terbatas.

“Akses internet dan kepemilikan gawai pelajar rata-rata sudah di atas 80 persen. Hanya saja, pemanfaatannya sejauh ini masih sebatas pembuatan konten visual sederhana. Kita perlu mendampingi mereka agar mampu mentransformasikan akses tersebut ke arah kemahiran yang lebih produktif, seperti penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara tepat guna,” ujar Prof. Bulan.

Di sisi lain, temuan riset terkait kesehatan mental menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan. Sebanyak 29 persen—atau hampir sepertiga responden—mengakui secara jujur bahwa beban akademik di tingkat sekolah menengah atas terasa sangat berat. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi memicu tekanan psikologis atau burnout yang berkepanjangan.

Menjawab tantangan tersebut, SDGs Center UNDIP menawarkan inovasi berbasis komunitas berupa program Konselor Sebaya (peer counselor) yang telah sukses diuji coba di SMA Negeri 1 Semarang.

“Siswa kerap merasa enggan atau canggung untuk terbuka kepada guru Bimbingan Konseling (BK) karena adanya jarak hierarki. Lewat Konselor Sebaya, murid-murid yang memiliki kecenderungan empati tinggi kita latih menggunakan modul khusus untuk memberikan pertolongan pertama psikologis bagi temannya. Jika keluhannya terindikasi membutuhkan tindakan medis, barulah dirujuk ke tenaga profesional,” jelasnya.

Prof. Bulan juga menekankan pentingnya melibatkan suara pelajar secara substantif dalam perumusan kebijakan publik, layaknya pelibatan kelompok rentan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Jawa Tengah, agar kebijakan yang dilahirkan benar-benar tepat sasaran.

7e772803 859f 4739 a43d 1fc50e7d829dDari Gerakan Numerasi Hingga Deep Learning

Dari sudut pandang regulator, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan sejumlah intervensi strategis guna merespons rendahnya tingkat kompetensi literasi dan numerasi siswa di Indonesia. Langkah ini diambil sekaligus untuk mengatasi stigmatisasi pelajaran matematika yang kerap dianggap menakutkan oleh peserta didik.

Bagikan :

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *